Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah tidak mengimpor beras medium sepanjang 2026. Di Jakarta, Minggu (1/11/2026), ia menyebut inflasi beras tahunan kini berada di level 3,73 persen, terendah dalam empat tahun terakhir, berkat stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang mencapai 4,5 juta ton.
Impor, kata Amran, hanya dilakukan untuk beras khusus yang tidak ditanam di dalam negeri. Jumlahnya ia sebut sangat kecil.
"Kita tidak ada impor beras medium, yang ada selundupan dan sudah ditangkap. Impor hanya beras khusus karena tidak ditanam, misalnya Basmati. Jumlahnya kecil sekali," ujarnya.
Menurut Amran, tanpa impor beras medium, inflasi beras pada kuartal ketiga 2026 tertahan di angka rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan posisi akhir kuartal ketiga tahun ini sebagai yang paling stabil dibandingkan empat tahun terakhir.
Perbandingannya cukup lebar. Pada September 2023, inflasi beras tahunan mencapai 18,44 persen, antara lain karena fenomena El Nino yang mulai melanda Indonesia. Setahun kemudian angkanya turun ke 5,91 persen, lalu melandai lagi menjadi 4,06 persen pada September 2025.
Stok CBP Beri Ruang Intervensi Pasar
Selain soal impor, rendahnya inflasi beras juga dipengaruhi kebijakan memperkuat penyaluran CBP kepada masyarakat. Cadangan sebesar 4,5 juta ton membuat pemerintah punya ruang lebih lebar untuk masuk ke pasar lewat bantuan pangan dan program stabilisasi pasokan serta harga.
Bapanas mencatat, penyaluran CBP melalui Perum Bulog sejak Januari hingga 28 Oktober 2026 telah mencapai 2,88 juta ton beras. Angka itu belum menghitung tambahan penugasan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras hingga akhir tahun sebesar 76,8 ribu ton.
Amran memperkirakan total penyaluran hingga akhir 2026 mendekati 4 juta ton, yang akan menjadi rekor tertinggi. Rekor sebelumnya tercatat pada 2024 dengan 3,37 juta ton.
Bagian terbesar berasal dari bantuan pangan beras, yakni 1,63 juta ton untuk 33,24 juta keluarga penerima manfaat. Rinciannya, tahap pertama 662,86 ribu ton dan tahap kedua yang sudah selesai 967,51 ribu ton. Alokasi bantuan pangan beras sampai akhir tahun mencapai 997 ribu ton.
Amran optimistis perluasan bantuan itu ikut menekan harga beras di tingkat konsumen. "Ketika harga beras di tingkat konsumen mulai stabil, maka tingkat inflasi pun juga akan dapat lebih terkendali," tuturnya.
Rincian Penyaluran SPHP
Penyaluran lewat SPHP hingga Oktober tercatat 1,16 juta ton. Penjualan pada Januari-Februari sebesar 221,05 ribu ton, Maret-September 828 ribu ton, dan Oktober 123,1 ribu ton.
Sisanya disalurkan untuk bantuan bencana dan keadaan darurat sebesar 13,9 ribu ton, serta golongan anggaran 71,4 ribu ton.