Opini

Sumpah Pemuda 28 Oktober, Hasil Proses Panjang Menuju Kesadaran Bangsa

Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda

Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober mengenang Kongres Pemuda 1928, ketika pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang menyatakan komitmen pada satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Ikrar itu menjadi tonggak penting menuju kemerdekaan Indonesia, yang diraih tepat 17 tahun kemudian.

Makna Sumpah Pemuda tidak hanya terletak pada teks ikrarnya. Ada proses panjang yang lebih dulu memungkinkan kelompok-kelompok berbeda memandang diri mereka sebagai bagian dari Indonesia Raya. Persatuan nasional, dengan kata lain, lahir dari perjalanan sejarah dan tidak terbentuk dengan sendirinya.

Beragam Komunitas Sebelum Nasionalisme Modern

Sebelum nasionalisme modern tumbuh, penduduk Nusantara hidup dalam beragam komunitas, kerajaan, bahasa, adat, dan keyakinan. Pemerintah kolonial kemudian membentuk pembagian sosial yang diskriminatif dan menempatkan penduduk asli atau pribumi pada posisi rendah.

Kekuasaan dan kesempatan ekonomi lebih banyak dikuasai kelompok kolonial beserta para antek mereka. Sumber daya alam Nusantara dieksploitasi demi kepentingan ekonomi penjajah. Sebagian besar penduduk menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.

Dari Persoalan Daerah ke Nasib Bersama

Pengalaman ketidakadilan itu, bersamaan dengan terbukanya akses pendidikan bagi sebagian kecil penduduk, mengubah cara pandang. Masalah yang semula dipahami sebagai urusan daerah atau kelompok tertentu perlahan dibaca sebagai keadaan bersama, dan lahirlah kebutuhan untuk merdeka serta berdaulat dari cengkeraman penjajah.

Perubahan itu tidak serentak. Tidak semua penduduk langsung memiliki identitas nasional yang sama. Kesadaran tumbuh bertahap lewat perjumpaan, perdebatan, bacaan, organisasi, dan pengalaman menghadapi diskriminasi.

Bercermin pada Kerajaan Nusantara

Para pemuda terdidik juga berkaca pada kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, di antaranya Airlangga, Sriwijaya, Majapahit, Dharmasraya, Samudera Pasai, Kutai Martadipura, Tanjungpura, dan Mataram Kuno. Pengetahuan tentang masa lalu itu membuat mereka membayangkan bahwa masyarakat di kepulauan ini pernah mencapai kemajuan politik, budaya, dan ekonomi yang besar.

Jurang antara kebesaran masa lalu dan kondisi terjajah memunculkan pertanyaan tentang penyebab kemunduran, sekaligus kemungkinan membangun masa depan yang berbeda.

Nasionalisme pada masa itu pun terbentuk dari pertemuan tiga unsur: kritik terhadap ketidakadilan kolonial, pengetahuan tentang sejarah, dan keyakinan bahwa perubahan bisa dicapai lewat usaha kolektif. Perasaan senasib menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dari wilayah dan latar belakang beragam.