Investasi Grup Djarum Rp24,9 Triliun di Luar Negeri, Apa Arahnya?

AkalMerdeka.id – Investasi Grup Djarum di luar negeri mencapai sedikitnya US$1,4 miliar atau sekitar Rp24,9 triliun melalui sejumlah entitas yang terhubung dengan keluarga Hartono. Namun, ekspansi tersebut tidak serta-merta berarti pusat bisnis keluarga Hartono bergeser dari Indonesia, karena manajemen Djarum menyebut sekitar 90 persen investasinya masih berada di dalam negeri.
Nilai investasi di luar negeri tersebut menjadi sorotan setelah laporan mengenai aktivitas bisnis keluarga Hartono melalui sejumlah entitas di Singapura dan London mencuat pada September 2026. Besarnya nilai transaksi membuat langkah tersebut dibaca dalam konteks yang lebih luas, terutama di tengah perhatian terhadap arah investasi kelompok usaha besar Indonesia.
Investasi Grup Djarum Bukan Sekadar Pemindahan Dana
Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan menjelaskan bahwa ekspansi ke luar negeri merupakan bagian dari strategi bisnis yang telah berjalan sejak beberapa tahun sebelumnya. Menurut dia, investasi tersebut bukan keputusan yang secara khusus muncul karena kondisi politik atau ekonomi Indonesia saat ini.
Salah satu investasi yang menjadi perhatian berkaitan dengan bisnis pabrik kertas untuk kebutuhan pembungkus tembakau. Investasi itu disebut mulai dilakukan pada 2023 hingga 2024 dan memiliki keterkaitan dengan pengembangan rantai pasok bisnis kertas untuk industri hasil tembakau.
Struktur pembiayaannya juga menjadi bagian penting dalam membaca angka US$1,4 miliar tersebut. Djarum menyatakan investasi pabrik kertas dilakukan menggunakan pembiayaan atau pinjaman dari luar negeri. Artinya, nilai investasi yang tercatat tidak dapat secara otomatis disamakan dengan jumlah uang tunai yang dipindahkan dari Indonesia.
Sekitar 90 Persen Investasi Masih di Indonesia
Di tengah ekspansi lintas negara itu, Djarum menyatakan sekitar 90 persen investasi keluarga Hartono masih berada di Indonesia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa investasi luar negeri menjadi bagian dari portofolio yang lebih besar, bukan pengganti basis bisnis domestik.
Posisi Indonesia tetap penting karena keluarga Hartono memiliki kepentingan bisnis di berbagai sektor, termasuk perbankan, telekomunikasi, properti, digital, ritel dan sejumlah bidang lainnya. Portofolio yang tersebar di banyak sektor membuat strategi investasi keluarga Hartono tidak hanya bergantung pada satu industri.
Dengan struktur tersebut, investasi di luar negeri dapat dibaca sebagai upaya memperluas jangkauan bisnis sekaligus melakukan diversifikasi geografis. Perusahaan dapat memperoleh akses terhadap pasar, aset, teknologi, rantai pasok maupun sumber pendapatan baru tanpa harus meninggalkan pasar asalnya.
Dari Bisnis Rokok ke Ekspansi Lintas Negara
Perubahan strategi Grup Djarum sebenarnya bukan hal baru. Bisnis keluarga Hartono yang berawal dari industri rokok di Kudus berkembang jauh melampaui sektor tersebut dan kemudian membangun portofolio di sejumlah industri strategis.
Perluasan tersebut membuat pola investasi keluarga Hartono semakin kompleks. Di satu sisi, terdapat bisnis besar yang tetap beroperasi di Indonesia. Di sisi lain, sejumlah entitas yang terhubung dengan kelompok usaha tersebut mulai digunakan untuk melakukan investasi di luar negeri.
Dalam konteks bisnis global, diversifikasi lintas negara memungkinkan sebuah kelompok usaha mengurangi ketergantungan terhadap satu pasar. Strategi tersebut juga memberi ruang untuk masuk ke sektor atau rantai pasok yang lebih dekat dengan pasar internasional.
Namun, besarnya investasi luar negeri tetap perlu dilihat bersama struktur aset dan sumber pembiayaannya. Tanpa rincian lengkap mengenai setiap transaksi, negara tujuan, jenis aset, serta komposisi ekuitas dan utang, angka US$1,4 miliar tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi pemindahan pusat bisnis dari Indonesia.
Ekspansi Luar Negeri Berjalan Bersamaan dengan Bisnis Domestik
Strategi Grup Djarum juga terlihat dari ekspansi di dalam negeri yang tetap berjalan. Selain mempertahankan bisnis yang telah lama menjadi fondasi kelompok, keluarga Hartono terus menambah portofolio pada sejumlah sektor baru.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi luar negeri dan pengembangan bisnis domestik dapat berjalan secara bersamaan. Investasi lintas negara tidak harus berarti pengurangan aktivitas di Indonesia, terutama ketika kelompok usaha masih mempertahankan sebagian besar investasinya di pasar domestik.
Karena itu, angka Rp24,9 triliun lebih tepat dilihat sebagai ukuran skala ekspansi internasional yang dilakukan kelompok usaha Hartono. Sementara itu, pernyataan bahwa sekitar 90 persen investasi masih berada di Indonesia memberikan konteks mengenai posisi relatif investasi luar negeri tersebut terhadap keseluruhan portofolio.
Budi Darmawan menegaskan Grup Djarum tetap ingin berkembang bersama Indonesia. Menurut dia, ekspansi yang dilakukan merupakan kelanjutan dari diversifikasi bisnis yang telah berlangsung selama puluhan tahun, sementara aktivitas investasi di dalam negeri tetap menjadi bagian besar dari portofolio keluarga Hartono.




