Ekbis

BI Rate 5,75% Tak Ikut The Fed, Ini Pertaruhan Rupiah dan Kredit Indonesia

BI Rate 5,75% Tak Ikut The Fed, Ini Pertaruhan Rupiah dan Kredit Indonesia
AkalMerdeka.id - Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026, meski The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75-4,00%. Keputusan ini menempatkan BI pada posisi harus menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus mempertahankan ruang bagi aktivitas ekonomi dan penyaluran kredit domestik.

BI Rate Tetap 5,75% Saat The Fed Naikkan Bunga

Keputusan mempertahankan BI Rate 5,75% membuat arah kebijakan moneter Indonesia tidak bergerak mengikuti kenaikan suku bunga Amerika Serikat secara langsung. The Fed pada 16 September 2026 menaikkan target Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00% untuk mendukung mandat stabilitas harga dan ketenagakerjaan. Sementara itu, BI mempertahankan BI Rate 5,75%, Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Bank sentral menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Perbedaan arah tersebut tidak berarti tekanan dari kebijakan The Fed dapat diabaikan. Ketika suku bunga Amerika Serikat meningkat, imbal hasil aset keuangan berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi investor global sehingga negara-negara berkembang perlu menjaga daya tarik aset domestiknya.

BI Rate dan Pertaruhan Stabilitas Rupiah

Ruang perbedaan suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Dengan BI Rate 5,75% dan Federal Funds Rate 3,75-4,00%, selisih suku bunga acuan berada di kisaran 1,75-2,00 poin persentase. Namun, BI tidak hanya mengandalkan BI Rate untuk menjaga rupiah. Dalam keputusan terbarunya, bank sentral menyatakan terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter, memperluas insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing. Pendekatan tersebut menjadi penting karena tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata ditentukan oleh perbedaan suku bunga. Ketidakpastian pasar keuangan global, pergerakan imbal hasil surat utang Amerika Serikat, harga komoditas dan perkembangan geopolitik juga dapat memengaruhi arus modal serta nilai tukar. Data BI menunjukkan rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026, melemah 0,78 persen dibandingkan posisi akhir Agustus. BI menyebut tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian kondisi global.

Risiko Capital Outflow Tetap Harus Diantisipasi

Menahan BI Rate memberikan ruang agar biaya dana domestik tidak mendapat tambahan tekanan dari kenaikan suku bunga acuan. Namun, pilihan tersebut tetap membawa konsekuensi yang perlu dikelola, terutama jika tekanan global membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang. Jika arus modal keluar berlangsung besar dan berkelanjutan, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. Pelemahan rupiah kemudian berpotensi menaikkan biaya barang dan bahan baku yang bergantung pada impor, terutama apabila tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga komoditas global. Risiko tersebut menjadi perhatian karena BI dalam laporan terbarunya juga mencatat ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi. Bank sentral menyebut peningkatan tensi di Timur Tengah ikut mendorong harga minyak, yang sempat menyentuh USD132 per barel sebelum kembali turun di bawah USD100 per barel pada 22 September 2026. Artinya, mempertahankan BI Rate 5,75% bukan berarti BI mengabaikan stabilitas eksternal. Bank sentral justru menggunakan kombinasi instrumen lain agar tekanan terhadap rupiah dapat dikelola tanpa harus menjadikan kenaikan suku bunga sebagai satu-satunya respons.

BI Rate 5,75% Memberi Ruang bagi Kredit

Di sisi domestik, mempertahankan BI Rate membuat kondisi pembiayaan tidak mendapat tekanan tambahan dari kenaikan suku bunga kebijakan. Dampaknya tidak serta-merta membuat seluruh bunga kredit turun, karena suku bunga perbankan juga dipengaruhi kondisi likuiditas, risiko kredit dan strategi masing-masing bank. Namun, arah kebijakan BI tetap relevan bagi dunia usaha karena kenaikan suku bunga acuan biasanya meningkatkan biaya dana dalam sistem keuangan. Jika tekanan tersebut terlalu besar, pembiayaan modal kerja, investasi dan konsumsi dapat ikut terdampak. Karena itu, BI mempertahankan BI Rate sembari memperkuat kebijakan makroprudensial dan instrumen likuiditas. Strategi tersebut menunjukkan bahwa bank sentral berusaha menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan kebutuhan mempertahankan momentum pertumbuhan. BI dalam keputusan September juga menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Ruang Kebijakan BI Tidak Sepenuhnya Tanpa Batas

Keputusan mempertahankan BI Rate tetap memiliki batas risiko. Jika tekanan terhadap rupiah meningkat tajam atau tekanan inflasi dari faktor eksternal semakin kuat, BI harus kembali menimbang keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Hal itu menjadi semakin relevan karena The Fed sendiri masih menghadapi tekanan inflasi dan dalam keputusan September menyatakan ketidakpastian ekonomi tetap tinggi. Kenaikan FFR ke 3,75-4,00% juga membuat kondisi keuangan global tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan oleh bank sentral negara lain. Di sisi lain, BI menyatakan sasaran inflasi 2026 dan 2027 tetap berada pada kisaran 2,5±1 persen. Bank sentral juga memperkirakan rupiah dapat bergerak stabil dengan dukungan kebijakan stabilisasi, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dan prospek ekonomi domestik. Dengan demikian, BI Rate 5,75% menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas. Tantangan berikutnya adalah bagaimana BI menjaga daya tarik aset rupiah dan stabilitas nilai tukar tanpa menambah tekanan pada biaya pembiayaan yang dibutuhkan dunia usaha dan masyarakat.