Starbucks Korea Tutup 2.000 Gerai Usai Blunder Tank Day

AkalMerdeka.id – Starbucks Korea tutup gerai secara serentak pada 22 Juni 2026 setelah promosi “Tank Day” memicu kemarahan publik di Korea Selatan. Lebih dari 2.000 gerai akan dihentikan sementara untuk pelatihan sejarah modern Korea dan sensitivitas sosial bagi seluruh karyawan.
Keputusan ini menjadi respons besar perusahaan setelah kampanye tumbler “Tank” diluncurkan bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju 18 Mei. Bagi banyak warga Korea Selatan, kata “tank” pada tanggal itu dianggap melukai ingatan korban penumpasan gerakan pro-demokrasi 1980.
Starbucks Korea Tutup Gerai untuk Pelatihan Sejarah
Penutupan sementara lebih dari 2.000 gerai Starbucks Korea dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni 2026. Program itu dibuat untuk memberi pelatihan sejarah modern Korea dan peningkatan sensitivitas sosial kepada karyawan.
Langkah ini jarang terjadi untuk jaringan kafe sebesar Starbucks Korea. Perusahaan bukan hanya menghentikan operasional toko, tetapi juga melibatkan jajaran eksekutif dalam pelatihan lanjutan pada 24 Juni 2026.
Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, yang memegang lisensi Starbucks di Korea Selatan, sebelumnya menyampaikan permintaan maaf terbuka dalam konferensi pers di Seoul.
“Saya sangat serius melihat banyak orang terluka dan marah akibat kampanye pemasaran Starbucks Korea yang tidak pantas ini,” kata Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin.
| Fakta Utama | Keterangan |
|---|---|
| Jumlah gerai terdampak | Lebih dari 2.000 gerai di Korea Selatan |
| Tanggal penutupan | 22 Juni 2026 |
| Agenda | Pelatihan sejarah modern dan sensitivitas sosial |
| Estimasi kerugian | 2,1 miliar won atau sekitar Rp 24,92 miliar |
Promosi Tank Day Memicu Kemarahan Publik
Kontroversi bermula dari promosi bertajuk “Tank Day” untuk seri tumbler “Tank” pada 18 Mei 2026. Tanggal itu bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju, salah satu peristiwa paling sensitif dalam sejarah demokrasi Korea Selatan.
Pada 1980, demonstran pro-demokrasi di Gwangju ditumpas oleh rezim militer. Tank militer kemudian melekat sebagai simbol kekerasan negara terhadap warga sipil dalam memori kolektif masyarakat Korea.
Materi promosi juga memuat frasa “tak on the table!” dalam bahasa Korea. Bunyi “tak” dinilai mengingatkan publik pada pernyataan kontroversial polisi terkait kematian mahasiswa aktivis dalam tahanan pada 1987.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, turut mengecam kampanye tersebut melalui X.
“Bagaimana mungkin ada acara ‘May 18 Tank Day’ yang mengejek perjuangan berdarah para korban dan warga?” tulis Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung.
Boikot, CEO Dicopot, dan Prosedur Marketing Diubah
Kemarahan publik segera berubah menjadi boikot. Sebagian pelanggan dilaporkan berhenti membeli produk Starbucks, menghancurkan barang bermerek perusahaan, dan mencabut dukungan terhadap jaringan kafe tersebut.
Starbucks Korea kemudian menarik promosi “Tank Day” dan mencopot CEO Son Jung-hyun. Kantor pusat Starbucks di Seattle juga mengirimkan surat permintaan maaf kepada Yayasan 18 Mei yang mewakili korban tragedi Gwangju.
Bagi perusahaan, dampaknya bukan hanya kehilangan penjualan satu hari akibat Starbucks Korea tutup gerai. Krisis ini membuka celah serius dalam proses persetujuan kampanye, terutama saat materi promosi menyentuh sejarah politik yang sensitif.
Investigasi internal mengungkap tim pemasaran sempat meminta saran kepada AI, tetapi peringatan 18 Mei tidak terlintas dalam proses kreatif mereka. Beberapa manajer senior yang menyetujui kampanye juga disebut tidak membuka lampiran email berisi materi visual promosi.
Tidak adanya peninjauan hukum memperbesar kegagalan sensor internal. Dari sisi bisnis, kasus ini memberi pelajaran bahwa kecepatan promosi digital tidak bisa menggantikan pengecekan manusia, terutama di negara dengan memori sejarah yang kuat.
Penutupan serentak pada 22 Juni menjadi upaya Starbucks Korea memperbaiki kepercayaan publik. Namun, pemulihan reputasi akan bergantung pada perubahan nyata dalam tata kelola pemasaran, bukan hanya permintaan maaf dan pelatihan satu hari.





