Keracunan MBG di Jayapura, Kisah Korban Trauma Makan MBG

Keracunan MBG di Jayapura, Kisah Korban Trauma Makan MBG
Para pelajar yang mengalami keracunan dari menyantap MBG sedang mendapatkan perawatan di Jayapura, Papua

Jayapura, AkalMerdeka.id – Ratusan pelajar di Kabupaten Jayapura, Papua, masih menjalani perawatan setelah mengalami dugaan keracunan massal usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di balik insiden tersebut, muncul kisah pilu para korban yang kini mengaku trauma menyantap makanan dari program pemerintah itu.

Kasus ini menjadi sorotan nasional karena tidak hanya berdampak pada kesehatan ratusan siswa, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pengawasan dapur penyedia MBG. Badan Gizi Nasional (BGN) pun menyebut adanya dugaan pelanggaran prosedur dalam proses pengolahan makanan yang kini masih diselidiki.

Korban Mengaku Trauma Usai Keracunan MBG

Salah satu kisah datang dari Dominggas, warga Distrik Depapre, yang mendampingi cucunya menjalani perawatan di RSUD Yowari. Menurutnya, sang cucu sempat kembali ke sekolah hanya untuk mengambil jatah MBG karena makanan baru tiba setelah jam pelajaran selesai.

Padahal, sebelum kembali ke sekolah, cucunya telah makan di rumah. Dominggas bahkan sempat mengingatkan agar tidak memakan makanan yang tercium tidak layak.

Baca Juga :  Investor SPPG Klaim Kena Tipu Kontrak Dapur MBG Rp 218 Miliar, BGN Disorot

Namun, usai menyantap hidangan tersebut, kondisi cucunya berubah. Anak itu mengalami pusing, lemas, hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Dominggas mengungkapkan cucunya kini mengalami trauma setelah insiden tersebut.

“Nenek, saya tidak mau makan MBG lagi,” ujar Dominggas menirukan ucapan cucunya.

Ia mengaku selama ini sebenarnya tidak menganjurkan cucunya mengonsumsi makanan MBG. Jika mendapat jatah, makanan tersebut lebih sering dibawa pulang.

Guru Ikut Jadi Korban, Soroti Warna Tempe Berbeda

Tak hanya siswa, seorang guru sekolah dasar di Kampung Amai, Distrik Depapre, bernama Sophia juga mengalami gejala serupa setelah menyantap menu MBG.

Ia mengaku sempat merasa ada kejanggalan pada makanan yang diterima hari itu.

“Warna tempenya berbeda dengan yang sebelumnya. Itu yang mungkin bikin kami seperti begini,” ujar Sophia.

Setelah mengonsumsi makanan tersebut, Sophia bersama sejumlah murid mengalami pusing, diare, dan sakit perut hingga akhirnya menjalani perawatan di RSUD Yowari.

BGN Sebut Ada Pelanggaran Prosedur Dapur

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan dugaan awal menunjukkan keracunan massal dipicu oleh pelanggaran prosedur dalam pengolahan makanan.

Baca Juga :  Paradoks Keadilan Indramayu: Ririn Rifanto Gugat BAP Lewat Kesaksian Inafis

Menurutnya, dapur penyedia makanan diduga memasak sejak malam hari untuk didistribusikan keesokan harinya menjelang siang.

“Di Papua, kami lihat dari log dapurnya, mereka memulai masaknya kecepatan. Jam 19.00 atau 19.30 hari sebelumnya, untuk diberikan pada hari berikutnya jam 11.00. Jadi itu sudah melanggar,” kata Sudaryono.

BGN menyatakan dapur tersebut untuk sementara dihentikan operasionalnya sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium terhadap sampel makanan.

Yayasan Minta Maaf dan Siap Tanggung Biaya Korban

Dapur MBG yang memasok makanan di Distrik Depapre dikelola Yayasan Kasih Iman Samuel Papua yang dipimpin Edison Awoitauw.

Melalui kuasa hukumnya, Yansen Marudut, yayasan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut.

“Kami turut bersedih atas musibah ini,” kata Yansen.

Ia menegaskan yayasan akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban serta mengikuti proses investigasi yang dilakukan kepolisian maupun BGN.

“Kami pasti menyiapkan dua sampel setiap hari, sesuai standarisasi BGN, untuk pembuktian ketika terjadi persoalan,” ujarnya.

Pakar Ingatkan Sistem Distribusi MBG di Papua Perlu Dievaluasi

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Airlangga, Windhu Pramono, menilai kasus ini menjadi momentum mengevaluasi pelaksanaan MBG di wilayah dengan kondisi geografis seperti Papua.

Baca Juga :  Lurah Tambak Wedi Dicopot Eri Cahyadi Usai Dugaan Jual Beli Stan SWK

Menurutnya, distribusi makanan dari satu dapur ke banyak sekolah berisiko membuat kualitas makanan menurun karena waktu pengiriman yang panjang.

“Yang terjadi sekarang ini kita memadamkan kebakaran. Sebagai orang yang belajar ilmu kesehatan masyarakat, hal yang paling utama adalah pencegahan,” kata Windhu.

Ia menyarankan model dapur MBG di Papua dibuat lebih dekat dengan sekolah agar waktu distribusi lebih singkat dan kualitas makanan tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *