Kerusuhan Iran Memanas, Presiden Tuduh AS–Israel dan Trump Siapkan Tekanan Baru

Kerusuhan Iran Memanas, Presiden Tuduh AS–Israel dan Trump Siapkan Tekanan Baru

akalmerdeka.id — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik aksi kerusuhan yang disertai kekerasan di sejumlah kota Iran. Tuduhan itu disampaikan di tengah gelombang protes rakyat yang dipicu tekanan ekonomi dan sanksi internasional.

Protes Diakui, Kekerasan Ditolak

Pezeshkian menyatakan demonstrasi adalah hak sah warga negara. Namun, ia menegaskan tindakan pembakaran masjid, Al-Qur’an, serta penyerangan bersenjata tidak dapat ditoleransi. Menurutnya, aksi tersebut dilakukan oleh kelompok perusuh terlatih.

Para penjahat ini bukan orang biasa dan bukan berasal dari Iran,” kata Pezeshkian dalam wawancara televisi nasional. Ia menjelaskan, pemerintah memisahkan secara tegas antara demonstran damai dan pelaku kekerasan.

Tuduhan Pelatihan oleh AS dan Israel

Dalam pernyataannya, Pezeshkian menuding bahwa Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel telah melatih elemen tertentu untuk memprovokasi kekacauan. Ia menyebut pembakaran tempat ibadah sebagai bentuk tindakan yang bertentangan dengan nilai peradaban Iran.

Tak hanya itu, ia menilai upaya tersebut sebagai kelanjutan tekanan politik setelah kegagalan memicu kekacauan pada konflik Juni 2025.

Baca Juga :  Project Freedom, Hegemoni Militer di Tengah Kebuntuan Politik Hormuz

Pemerintah Buka Dialog Ekonomi

Di sisi lain, kabinet Iran mengklaim telah membuka jalur komunikasi dengan pedagang pasar dan pelaku usaha. Pemerintah berjanji memperbaiki distribusi subsidi dan menangani persoalan mata pencaharian secara adil.

Uang Rial Anjlok ke Level Terendah, Krisis Ekonomi Picu Protes Massal di Iran
Uang Rial Anjlok ke Level Terendah, Krisis Ekonomi Picu Protes Massal di Iran

Kami telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah mereka dengan segala cara yang mungkin,” ujar Pezeshkian, dikutip dari Tasnim News.

Korban Jiwa Bertambah

Sementara itu, situasi keamanan terus memburuk. Farajollah Shooshtari, aktivis sosial sekaligus putra mendiang jenderal IRGC, dilaporkan tewas ditembak di Mashhad. Pemerintah menuding perusuh bersenjata sebagai pelaku.

Namun pada saat yang sama, kelompok HAM melaporkan sedikitnya 116 orang tewas akibat penindakan aparat, meski angka ini diyakini masih di bawah jumlah sebenarnya.

Trump Siapkan Opsi Strategis

Di luar Iran, Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah dibriefing terkait berbagai opsi tekanan terhadap Teheran. Washington disebut mulai memobilisasi aset militer ke Timur Tengah, termasuk kemungkinan operasi siber dan informasi.

Baca Juga :  Amerika Inisiasi Investigasi Sektoral: Rasionalitas di Balik Ancaman Proteksionisme

Trump bahkan memperingatkan Iran agar tidak menembaki demonstran. “Lebih baik kalian jangan mulai menembak,” katanya.

Israel, menurut sumber internal AS, hanya akan terlibat aktif jika Iran lebih dulu menyerang atau menunjukkan indikasi ancaman langsung.

Heri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *