Nanik Deyang Mundur Setelah 44 Hari, BGN Hadapi Transisi

Nanik Deyang Mundur Setelah 44 Hari, BGN Hadapi Transisi
Nanik S Deyang

AkalMerdeka.id – Nanik S. Deyang mundur dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional setelah 44 hari memimpin lembaga pelaksana Program Makan Bergizi Gratis. Ia berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk menjalani pengobatan jantung di luar negeri.

Keputusan itu membuat BGN kembali menghadapi pergantian pucuk pimpinan ketika lembaga tersebut sedang membenahi ribuan dapur Makan Bergizi Gratis atau MBG. Sampai artikel ini ditulis, Istana belum mengumumkan nama kepala BGN definitif yang baru.

Nanik Deyang Mundur untuk Menjalani Pengobatan Jantung

Nanik S Deyang mengumumkan pengunduran dirinya melalui akun Facebook pribadi. Ia menjelaskan akan mencari pendapat medis kedua di luar negeri atas rekomendasi kerabat, bukan karena meragukan kemampuan dokter di Indonesia.

“Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya. Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf, sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya,” tulis Kepala BGN saat itu, Nanik S. Deyang.

Baca Juga :  Yaqut Diperiksa KPK Delapan Jam Lebih, Memilih Bungkam

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, membenarkan bahwa Nanik telah berpamitan kepada Presiden Prabowo sekaligus menyampaikan pengunduran dirinya.

“Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional,” kata Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan.

Menurut Nanik, Presiden menyetujui keputusan tersebut, tetapi memintanya tetap ikut mengawasi BGN. Ia menyebut terdapat kemungkinan pembentukan dewan pengawas BGN dan pelaksanaan MBG, dengan dirinya dipercaya sebagai ketua.

Rencana tersebut belum menjadi keputusan resmi pemerintah. Posisi Nanik setelah meninggalkan kursi Kepala BGN masih menunggu kebijakan lebih lanjut dari Presiden.

Transisi BGN Menentukan Kelanjutan Pembenahan Dapur MBG

Nanik dilantik sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026 setelah ditunjuk Presiden enam hari sebelumnya. Masa kepemimpinannya hanya berlangsung sekitar satu setengah bulan, tetapi bertepatan dengan pembenahan besar terhadap tata kelola dapur MBG.

Selama periode tersebut, BGN mengevaluasi hampir 28.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG. Sekitar 3.000 dapur diklasifikasikan berdasarkan standar mutu, sementara ekspansi dapur di wilayah yang telah jenuh dihentikan.

Baca Juga :  Analisis Kemenkum Terhadap Status Kewarganegaraan Anak Alumni LPDP DS

Evaluasi juga menemukan 414 SPPG bermasalah. Menurut keterangan pihak Istana, langkah koreksi terhadap dapur-dapur tersebut membuat ratusan miliar rupiah dapat dikembalikan ke kas negara.

Data itu memperlihatkan bahwa pergantian pemimpin BGN bukan sekadar persoalan pengisian jabatan. Kepala baru harus memastikan proses evaluasi, pengawasan anggaran, pengendalian mutu makanan, dan penataan persebaran dapur tetap berjalan.

Transisi yang terlalu lama dapat memperlambat pengambilan keputusan pada program yang melibatkan puluhan ribu unit layanan. Kejelasan rantai komando dibutuhkan agar standar keamanan pangan dan pengelolaan anggaran tidak berbeda antarwilayah.

Nama Pengganti Kepala BGN Belum Diumumkan

Nanik sempat memberi isyarat bahwa penggantinya adalah sosok yang ia sebut sebagai “adik saya”. Ia mengatakan masih dapat menegur orang tersebut apabila menemukan penyimpangan dalam pelaksanaan program.

“Insyaallah pengganti saya adalah ‘adik saya’, di mana saya bisa menjewer kalau misalnya terjadi hal-hal yang menyimpang,” kata Nanik.

Pernyataan itu belum dapat digunakan untuk memastikan identitas kepala BGN berikutnya. Belum ada pengumuman resmi dari Istana atau Kementerian Sekretariat Negara mengenai nama pejabat yang akan menggantikannya.

Baca Juga :  372 Dapur MBG di Jawa Timur Disuspend, Pengusaha Minta Kepastian

Pengganti Nanik akan mewarisi tugas yang luas, mulai dari meneruskan evaluasi SPPG bermasalah hingga menjaga program MBG tetap tepat sasaran. Ujian pertamanya bukan hanya memperluas jumlah dapur, tetapi memastikan setiap dapur memenuhi standar dan menggunakan anggaran secara akuntabel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *