Netanyahu Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan Iran

AkalMerdeka.id – Netanyahu dipermalukan Trump setelah Israel disebut tidak dilibatkan penuh dalam kesepakatan AS-Iran untuk mengakhiri perang. Sejumlah analis Israel menilai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal mengamankan kepentingan Tel Aviv meski selama bertahun-tahun menjadikan Iran sebagai isu utama politiknya.
Kritik itu muncul setelah Netanyahu mengakui tidak mengetahui detail nota kesepahaman yang dicapai Washington dan Teheran. Kesepakatan tersebut membuat posisi Netanyahu tertekan karena narasi kemenangan atas Iran mulai dipertanyakan di dalam negeri.
Netanyahu Dipermalukan Trump Usai MoU AS-Iran
Kolumnis Haaretz, Yossi Verter, menyerang Netanyahu lewat artikel yang menyebutnya sebagai arsitek kegagalan strategis. Ia menilai klaim Netanyahu bahwa Israel berhasil diselamatkan dari ancaman kehancuran tidak sejalan dengan hasil kesepakatan yang dicapai Amerika Serikat dan Iran.
“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di puncak apa yang oleh setiap ahli didefinisikan sebagai kegagalan strategis bagi Negara Israel dan yang dapat ia katakan kepada warganya hanyalah: ‘Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, selama saya menjadi perdana menteri’,” tulis kolumnis Haaretz, Yossi Verter.
Verter menyebut Netanyahu bahkan tidak mengetahui isi nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran. Ia membandingkan posisi Netanyahu dengan pihak lain yang disebut lebih mengetahui detail kesepakatan.
“Orang Iran tahu. Orang Pakistan tahu. Mungkin orang Qatar tahu. Netanyahu, tampaknya, tidak tahu,” kata Verter.
Kritik itu menjadi pukulan karena Netanyahu selama puluhan tahun membangun citra politiknya sebagai pemimpin yang paling keras menghadapi Iran. Namun, kesepakatan baru justru memperlihatkan Washington bergerak dengan kalkulasi sendiri.
Media Israel Sebut Netanyahu Tersisih
Kolumnis Maariv, Ben Caspit, menulis bahwa pertunjukan Netanyahu telah berakhir. Ia menilai Trump telah mengorbankan Netanyahu dalam kesepakatan dengan Iran.
Caspit juga menyoroti sikap Netanyahu yang tidak menyebut nama Trump dalam konferensi persnya. Menurutnya, hal itu menunjukkan upaya Netanyahu menghindari konfrontasi terbuka dengan sekutu utama Israel tersebut.
Dalam analisisnya, Caspit menggambarkan Netanyahu kembali berada dalam posisi tersisih dari proses diplomasi besar. Ia membandingkannya dengan perjanjian nuklir Iran pada 2015, ketika Israel juga merasa tidak menjadi penentu utama dalam keputusan Washington.
Portal Walla melalui komentator Barak Seri juga menilai kesepakatan itu berubah menjadi salah satu penghinaan terbesar bagi Netanyahu. Seri menyebut para pejabat senior Israel memandang kesepakatan tersebut buruk dan berbahaya bagi kepentingan Israel.
| Media atau Analis | Kritik Utama |
|---|---|
| Yossi Verter, Haaretz | Netanyahu disebut berada di puncak kegagalan strategis Israel |
| Ben Caspit, Maariv | Trump dinilai mengorbankan Netanyahu dalam kesepakatan Iran |
| Barak Seri, Walla | Kesepakatan disebut sebagai penghinaan besar bagi Netanyahu |
Kesepakatan Iran Menguji Relasi Israel-AS
Amerika Serikat selama ini menjadi sekutu utama Israel dalam dukungan militer, politik, dan diplomatik. Karena itu, kesepakatan AS-Iran tanpa keterlibatan penuh Israel dapat dibaca sebagai perubahan penting dalam cara Washington mengelola krisis Timur Tengah.
Bagi Netanyahu, masalahnya bukan hanya isi MoU, tetapi juga kesan bahwa Israel tidak lagi memegang kendali atas arah kebijakan AS terhadap Iran. Ketika Trump memilih jalan kesepakatan, ruang manuver Netanyahu terhadap Teheran ikut menyempit.
Di sisi lain, Iran tetap membantah tuduhan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk senjata. Teheran menyatakan program nuklirnya bersifat damai, sementara Israel dan Amerika Serikat menuduh Iran mengejar kemampuan yang dapat mengancam kawasan.
Dampak politiknya terasa langsung di Israel. Netanyahu harus menjelaskan kepada publik mengapa perang yang diklaim berhasil menyelamatkan Israel justru berakhir dengan kesepakatan yang detailnya tidak ia kuasai.
Kasus ini memperlihatkan bahwa hubungan dekat dengan Washington tidak selalu berarti Israel dapat menentukan keputusan akhir Amerika Serikat. Bagi Netanyahu, kesepakatan AS-Iran menjadi ujian berat terhadap klaim kepemimpinan dan kredibilitas politiknya.





