Bentrokan Warga dan Imigran Maroko ke Spanyol Pecah di Ceuta, Krisis Migrasi Kian Memanas

AkalMerdeka.id – Krisis imigran Maroko ke Spanyol kembali memanas setelah bentrokan terjadi di Ceuta, kota otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara. Meningkatnya arus migran ilegal dari Maroko memicu ketegangan di tengah masyarakat hingga aparat keamanan dikerahkan untuk mencegah kerusuhan meluas.
Ceuta kembali menjadi sorotan setelah ribuan orang dilaporkan berusaha memasuki wilayah Spanyol secara ilegal, baik dengan berenang maupun berjalan kaki dari wilayah Maroko. Lonjakan tersebut memicu keresahan warga dan meningkatkan pengamanan di sejumlah titik kota.
Menurut laporan media setempat, bentrokan terjadi antara warga dan para imigran ilegal. Video yang beredar di media sosial juga memperlihatkan aksi kejar-kejaran di jalanan, menandai meningkatnya ketegangan di kawasan perbatasan tersebut.
Ketegangan Meningkat di Ceuta
Seorang blogger asal Spanyol, David Santos, mengunggah video melalui platform X yang memperlihatkan situasi di Ceuta. Ia menyebut warga keturunan Maroko yang telah lama menetap di kawasan El Príncipe turut mengusir para migran yang mencoba memasuki kota secara ilegal.
Situasi yang terus memanas turut memicu munculnya berbagai inisiatif warga. Media lokal Ceuta Actualidad melaporkan terbentuknya grup WhatsApp bernama Viva España yang telah memiliki lebih dari 800 anggota.
Dalam laporan tersebut, sejumlah anggota grup bahkan disebut mengusulkan aksi untuk memukuli para migran menggunakan tongkat. Usulan itu mencerminkan tingginya ketegangan sosial yang berkembang di tengah lonjakan arus migrasi.
Tokoh Politik Kecam Aksi Main Hakim Sendiri
Presiden Partai Andalusi, Dris Mohamed, mengatakan kepada stasiun radio Cadena SER bahwa sekelompok pemuda kedapatan memukuli orang-orang yang baru saja memasuki Ceuta.
Ia mengecam tindakan main hakim sendiri tersebut. Namun, di sisi lain, ia mengaku memahami keresahan yang dirasakan sebagian warga akibat meningkatnya jumlah migran dalam waktu singkat.
Ketegangan itu juga berdampak pada aktivitas ekonomi. Cadena SER melaporkan sejumlah toko memilih menutup sementara usahanya karena alasan keamanan.
Kepolisian nasional maupun kepolisian daerah kemudian mengerahkan personel di berbagai lokasi untuk mengantisipasi pencurian maupun kerusuhan yang dikhawatirkan terjadi seiring meningkatnya ketakutan masyarakat.
Lonjakan Migran Perburuk Krisis Perbatasan
Sebelumnya, Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas menyatakan sekitar 60 ribu orang dari Maroko memasuki Ceuta dalam kurun waktu 24 jam. Lonjakan tersebut menjadi salah satu arus migrasi terbesar yang pernah terjadi di wilayah itu.
Sementara itu, surat kabar El Pais melaporkan sedikitnya 57 orang meninggal dunia saat mencoba menyeberang menuju Ceuta. Data tersebut menunjukkan tingginya risiko yang dihadapi para migran dalam upaya mencapai wilayah Spanyol.
Spanyol dan Maroko Percepat Deportasi
Di tengah memburuknya situasi, pemerintah Spanyol dan Maroko sepakat memperkuat koordinasi untuk menangani arus migrasi ilegal melalui Ceuta.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan kedua negara akan mempercepat proses pemulangan atau deportasi terhadap warga yang memasuki Ceuta secara ilegal. Langkah tersebut diambil untuk meredam lonjakan migrasi sekaligus menjaga stabilitas keamanan di kawasan perbatasan.
“Kedua negara telah sepakat untuk memperkuat koordinasi dan upaya bersama guna menangani arus imigrasi ini, serta meninjau dan menerapkan langkah-langkah yang akan memungkinkan pemindahan segera ke Maroko bagi semua orang yang telah memasuki Ceuta secara ilegal,” demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Spanyol.
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska terus menjalin komunikasi dengan Menteri Dalam Negeri Maroko Abdelouafi Laftit untuk mengoordinasikan penanganan krisis yang hingga kini masih berlangsung.





