Surabaya - Muhammadiyah menganugerahkan penghargaan kepada Abdan Fikri Kirana, cucu kandung Pahlawan Nasional KH Mas Mansur, dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhammadiyah XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Kamis (5/11/2026). Penghargaan itu diberikan untuk menghormati jasa, perjuangan, dan warisan pemikiran KH Mas Mansur bagi Muhammadiyah dan bangsa Indonesia.
Penganugerahan tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah mengenang kontribusi KH Mas Mansur, terutama dalam perkembangan pemikiran keislaman dan gerakan pembaruan Islam di Indonesia.
KH Mas Mansur dikenal sebagai penggagas sekaligus ketua pertama Majelis Tarjih Muhammadiyah, lembaga di dalam organisasi yang mengkaji persoalan keagamaan. Ia meletakkan dasar pengembangan ijtihad kolektif, yaitu upaya merumuskan pandangan keagamaan secara bersama-sama dalam organisasi.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (pembaruan) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Ustadi Hamsah, menjelaskan bahwa pemilihan Surabaya sebagai lokasi munas berkaitan erat dengan sejarah perjuangan KH Mas Mansur, yang merupakan putra daerah kota itu.
"Salah satu alasan pemilihan tempat di Surabaya itu dalam rangka menapak tilas atau menyambungkan legasi Kiai Haji Mas Mansur sebagai putra Surabaya, sebagai pahlawan nasional, sebagai pionir pergerakan nasional yang juga merupakan peletak dasar Tarjih Muhammadiyah," ucap Ustadi saat menyampaikan sambutan pembukaan.
Menurut Ustadi, penyelenggaraan munas di Kota Pahlawan menjadi momentum untuk menyambungkan kembali warisan perjuangan dan pemikiran KH Mas Mansur dengan perkembangan Muhammadiyah saat ini. Ia menambahkan, KH Mas Mansur berkontribusi besar dalam menggerakkan Muhammadiyah, umat Islam, hingga perjuangan bangsa. Semangat itu diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk membangun masyarakat yang lebih maju dan bermartabat.
Munas Tarjih Muhammadiyah kali ini juga menjadi forum untuk membahas berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan yang dihadapi umat Islam maupun bangsa Indonesia. Penyelenggaraannya termasuk dalam rangkaian menuju satu abad perjalanan Tarjih Muhammadiyah pada 2027, yang nantinya menjadi bagian dari agenda Muktamar Muhammadiyah.
"Sehingga isu-isu yang berkembang pada hari ini akan kita sambungkan dengan semangat Kiai Haji Mas Mansur yang begitu luar biasa menggerakkan Muhammadiyah, menggerakkan umat Islam dan menggerakkan bangsa untuk terus berkembang maju sebagai bangsa yang bermartabat dan berkemajuan," ujarnya.