Mantan kepala militer Israel, Gadi Eisenkot, menyatakan hasil sementara pemilu Israel menunjukkan warga tak lagi mempercayai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pernyataan itu ia sampaikan kepada pendukungnya pada Selasa (27/10), setelah exit poll (jajak pendapat keluar) sejumlah saluran televisi Israel memproyeksikan blok oposisi pimpinannya unggul tipis atas koalisi Perdana Menteri Netanyahu di pemilihan parlemen.
Dalam proyeksi tersebut dengan selisih tipis, blok Gadi Eisenkot meraih 53 kursi, sedangkan blok Netanyahu 50 kursi. Angka itu berasal dari survei terhadap pemilih sesaat setelah mencoblos, sehingga belum berstatus hasil resmi.
"Hasil exit poll menunjukkan kurangnya kepercayaan warga sepenuhnya terhadap Netanyahu dan pemerintahan 7 Oktober," ucap Eisenkot, seperti dikutip AFP.
Frasa "pemerintahan 7 Oktober" lazim dikaitkan dengan serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam pernyataan terpisah pada Rabu (28/10) pagi, Eisenkot menilai masyarakat Israel memilih perubahan karena tak puas terhadap kinerja pemerintahan Netanyahu. Ia sekaligus melontarkan peringatan terselubung kepada sang perdana menteri.
"Netanyahu, jangan berani-beraninya Anda menggunakan keamanan Israel untuk kepentingan politik," tukas Gadi Eisenkot.
Belum ada blok yang menggenggam mayoritas 61 kursi, ambang batas minimal untuk memerintah di parlemen Israel yang berjumlah 120 kursi. Tambahan suara hanya bisa datang dari partai-partai Arab, yang diproyeksi memperoleh sekitar 17 hingga 18 kursi. Namun, tak satu pun blok menyatakan bersedia bekerja sama dengan mereka.
Kebuntuan itu membuat pembentukan pemerintahan baru berpotensi sulit. Jika negosiasi pascapemilu Israel gagal, negara tersebut bisa berakhir dengan pemerintahan minoritas yang bergantung pada dukungan partai di luar koalisi, atau bahkan masuk ke putaran pemilu berikutnya.
Dimana hal tersebut tentunya memperpanas kondisi politik saat ini, dengan pengaruh perang antara Israel dan Palestina, juga tekanan internasional bisa berdampak pada pemilu Israel tahun 2026.
Eisenkot menolak opsi terakhir itu. "Rakyat telah bersuara menentang kelanjutan pemerintahan Netanyahu," tegasnya.
"Dalam pemilu dengan tingkat partisipasi yang begitu tinggi, akan menjadi kesalahan jika diadakan putaran berikutnya," lanjutnya.
Gejolak politik Israel saat ini sangat berdampak pada geopolitik di Timur Tengah, sebagai salah satu negara yang mempengaruhi timur tengah dengan tekanan militernya.