Filosofi Golong Gilig Tandai 80 Tahun Usia Sultan HB X

Filosofi Golong Gilig Tandai 80 Tahun Usia Sultan HB X

akalmerdeka.id

— Momentum 80 tahun usia Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Kamis (02/04/2026) menjadi ruang refleksi atas filosofi Golong Gilig yang diwujudkan melalui pesta rakyat di sepanjang Jalan Malioboro.

Konsep ini melampaui sekadar perayaan ulang tahun, melainkan sebuah pernyataan intelektual mengenai kesatuan gerak antara pemimpin dan masyarakat dalam ruang publik terbuka. Sultan yang lahir pada 2 April 1946 tersebut konsisten menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai poros utama kepemimpinannya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menjelaskan bahwa pendekatan seni jalanan sengaja dipilih untuk menghapus sekat hierarki antara keraton dan warga. “Pendekatan ini diharapkan mencerminkan kedekatan pemimpin dan masyarakat di ruang publik terbuka,” ujar Dian pada 2 April 2026.

Transformasi Malioboro menjadi panggung budaya “Art on the Street” menegaskan bahwa tradisi tidak harus bersifat kaku atau eksklusif di dalam tembok istana. Ruang kota difungsikan sebagai arena pertukaran nilai budaya yang demokratis bagi seluruh lapisan masyarakat.

Demokratisasi Budaya Lewat Ruang Publik

Penerapan 10 titik atraksi budaya di trotoar menunjukkan upaya serius dalam mendekatkan seni tradisi seperti Jathilan dan Panembromo kepada generasi kontemporer. Upaya ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi kebudayaan untuk menjaga identitas kolektif di tengah arus modernitas.

Baca Juga :  BINLAT Kediri Kembangkan Metode Rasa dalam Pendidikan Karakter

Sultan HB X yang naik takhta sejak 1989 telah membuktikan bahwa kepemimpinan tradisional mampu beradaptasi dengan tuntutan transparansi dan partisipasi publik. Filosofi Golong Gilig menjadi jangkar moral yang memastikan kebijakan publik tetap berpijak pada kebutuhan riil warga Yogyakarta.

Simbolisme Kuliner dan Kesejahteraan Sosial

Kehadiran 16.000 porsi nasi kucing gratis dalam dua sesi distribusi merupakan simbolisasi dari pemenuhan kebutuhan dasar yang inklusif. Distribusi yang tertata di berbagai titik strategis mencerminkan manajemen keramaian yang berbasis pada kenyamanan dan martabat warga.

Ludesnya sajian tersebut dalam hitungan menit mengonfirmasi antusiasme publik terhadap bentuk-bentuk perayaan yang menyentuh aspek sosiologis masyarakat. Inilah wujud nyata dari buah tangan rakyat yang kembali dinikmati oleh rakyat dalam suasana kebersamaan.

Perayaan ini menjadi preseden penting bagaimana sebuah entitas budaya tetap relevan dengan cara membuka diri terhadap partisipasi sipil dan dukungan sektor swasta. Kedekatan intelektual dan emosional antara Sultan dan rakyatnya tetap menjadi fondasi stabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. ***

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *