Mantan Artis FE Jadi Kunci Penipuan Kripto Rp 41 Miliar, Begini Perannya dalam Sindikat Internasional

Mantan Artis FE Jadi Kunci Penipuan Kripto Rp 41 Miliar, Begini Perannya dalam Sindikat Internasional

Solo, AkalMerdeka.id – Polda Jawa Tengah mengungkap keterlibatan mantan artis dan model berinisial FE dalam kasus penipuan online internasional bermodus pig butchering yang merugikan korban hingga sekitar Rp 41,1 miliar. Perempuan tersebut ditetapkan sebagai tersangka karena memiliki peran khusus untuk meyakinkan korban melalui video call sebelum mereka menyetorkan dana ke platform investasi kripto palsu.

Kasus ini tidak hanya menyeret 39 tersangka dari berbagai negara, tetapi juga melibatkan kerja sama penyidikan dengan FBI karena sebagian besar korban merupakan warga negara Amerika Serikat.

Apa Peran Mantan Artis FE?

FE bukan sosok yang bertugas mencari korban sejak awal. Berdasarkan keterangan penyidik, ia berperan sebagai model video call yang dimunculkan ketika calon korban mulai tertarik namun masih ragu untuk melakukan investasi.

Para pelaku terlebih dahulu membangun hubungan emosional dengan korban melalui media sosial dan aplikasi kencan. Setelah kepercayaan terbentuk, FE hadir untuk memperkuat keyakinan korban bahwa identitas yang digunakan sindikat adalah nyata.

“Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban.” Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih.

Baca Juga :  Banjir Sumatera: Bantuan Korban Masuk Fase Lanjutan, Pemerintah Siapkan Kompensasi Rumah

Menurut polisi, FE menjadi bagian dari tahapan akhir dalam proses penipuan yang dirancang secara sistematis.

“Marketing itu untuk menjerat korban. Mereka akan menyortir calon korban yang butuh diyakinkan, maka F yang akan maju melayani video call. Itu supaya korban berinvestasi.” Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih.

Cara Kerja Sindikat Pig Butchering yang Menjerat Korban

Sindikat ini beroperasi sejak Juli 2025 dan menggunakan perusahaan berkedok PT Digi Global Konsultan sebagai pusat aktivitas utama di Solo Raya.

Pola yang digunakan dikenal sebagai pig butchering, yaitu metode penipuan yang menggabungkan manipulasi emosional dengan investasi palsu.

Tahapannya meliputi:

  • Membuat akun palsu di media sosial dan aplikasi kencan.
  • Membangun hubungan personal dengan calon korban.
  • Menjalin komunikasi intensif selama periode tertentu.
  • Memunculkan model video call untuk memperkuat kepercayaan korban.
  • Mengarahkan korban ke platform investasi kripto palsu.
  • Mengambil dana korban yang kemudian tidak dapat ditarik kembali.

Polisi menyebut mayoritas korban berasal dari Amerika Serikat, meski operasional sindikat berlangsung di Indonesia.

Mengapa Peran FE Menjadi Sangat Penting?

Keunikan kasus ini terletak pada posisi FE yang berfungsi sebagai “closer” dalam rantai penipuan.

Baca Juga :  Paradoks Infrastruktur: Enam Tanggul Jebol di Demak Telan Korban Jiwa

Jika tim marketing bertugas mencari dan membangun komunikasi awal, maka FE hadir pada tahap ketika korban membutuhkan bukti visual bahwa orang yang mereka ajak berinteraksi memang nyata.

Dari sudut pandang kejahatan siber, strategi ini menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya mengandalkan teknologi. Mereka juga memanfaatkan faktor psikologis manusia, terutama rasa percaya, kedekatan emosional, dan hubungan personal yang telah dibangun sebelumnya.

Menurut informasi yang diungkap penyidik, latar belakang F di dunia hiburan dianggap memiliki nilai tambah karena kemampuan komunikasi dan penampilan yang dinilai mampu menarik perhatian korban.

Kerugian Rp 41 Miliar dan Jaringan Lintas Negara

Pengungkapan kasus ini menunjukkan skala operasi yang cukup besar.

IndikatorData
Total KerugianUSD 2.327.625,85 atau sekitar Rp 41,1 miliar
Korban Terverifikasi133 warga negara asing
Target PotensialSekitar 5.000 orang
Total Tersangka39 orang
Barang Bukti117 perangkat elektronik

Selain warga negara Indonesia, polisi juga menangkap tersangka asal Nepal dan Myanmar yang diduga terlibat dalam operasional jaringan tersebut.

Kasus Ini Menunjukkan Wajah Baru Penipuan Digital

Kasus mantan artis FE memperlihatkan bahwa penipuan digital modern tidak lagi sekadar mengandalkan pesan singkat atau tautan palsu.

Baca Juga :  Filosofi Golong Gilig Tandai 80 Tahun Usia Sultan HB X

Sindikat kini membangun struktur yang menyerupai perusahaan profesional, lengkap dengan pembagian tugas mulai dari kepala, supervisor, leader, marketing hingga model video call.

Fakta lain yang menarik adalah penggunaan banyak lokasi operasional dan perpindahan tempat secara berkala untuk menghindari pelacakan aparat. Strategi seperti ini lebih sering ditemukan pada jaringan kejahatan lintas negara dibanding kelompok penipu konvensional.

Keterlibatan FBI juga menunjukkan bahwa kejahatan siber saat ini tidak mengenal batas wilayah. Pelaku bisa beroperasi dari Indonesia, sementara korban berada di negara lain dengan aliran dana yang berpindah melalui sistem keuangan dan aset digital.

Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat bahwa hubungan yang terjalin secara daring, terutama yang cepat mengarah pada pembicaraan investasi atau keuntungan finansial, perlu diwaspadai. Kehadiran video call atau identitas yang tampak meyakinkan tidak selalu menjadi bukti bahwa seseorang benar-benar dapat dipercaya.

Penyelidikan masih terus berlangsung, termasuk penelusuran aliran dana serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan penipuan internasional tersebut.

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *