Pesawat Rafale Jadi Sorotan, Ini Makna Strategis Kesepakatan RI-Prancis US$ 3,5 Miliar

AkalMerdeka.id – Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada akhir Mei 2026 diklaim menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai US$ 3,5 miliar. Meski mencakup sektor energi, perdagangan, dan pertahanan, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru memberi perhatian besar pada kerja sama pertahanan, khususnya pengadaan pesawat tempur Rafale oleh Indonesia.
Sorotan Macron menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Prancis kini tidak hanya bertumpu pada investasi dan perdagangan, tetapi juga berkembang menjadi kemitraan strategis yang menyentuh aspek keamanan, teknologi, hingga industri masa depan.
Macron Soroti Rafale di Tengah Kesepakatan US$ 3,5 Miliar
Dalam pidatonya, Macron tidak banyak menguraikan detail empat kesepakatan komersial baru yang diumumkan melalui France-Indonesia High Level Business Council. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya kerja sama pertahanan yang telah terjalin antara kedua negara.
“Indonesia dan Prancis dipersatukan oleh kemitraan istimewa yang secara konkret memungkinkan kami memperkuat kedaulatan masing-masing, serta maju dalam bidang teknologi dan industri yang paling mutakhir. Pengiriman pesawat tempur Rafale pertama yang dibeli Indonesia dalam beberapa bulan terakhir adalah bukti nyata hal ini,” ujar Macron.
Indonesia sebelumnya telah memesan 42 unit pesawat tempur Rafale saat Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan. Sebagian unit mulai dikirim pada tahun ini dan kerja sama tersebut berpotensi berlanjut.
Pada 28 Mei 2025, Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Sébastien Lecornu bahkan mengungkap keinginan Indonesia untuk menambah pembelian Rafale melalui penandatanganan Letter of Intent (LOI) bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin.
Mengapa Rafale Lebih Penting dari Sekadar Transaksi Alutsista?
Bagi Prancis, kontrak Rafale bukan hanya penjualan produk pertahanan. Kesepakatan tersebut menjadi simbol hubungan jangka panjang yang melibatkan transfer teknologi, kerja sama industri, pelatihan, serta dukungan operasional dalam periode bertahun-tahun.
Dari sisi Indonesia, kerja sama ini memperluas jaringan kemitraan pertahanan dengan negara-negara maju. Strategi tersebut penting untuk menjaga fleksibilitas diplomasi dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pengadaan alat utama sistem senjata.
Karena itu, tidak mengherankan jika Macron memilih menempatkan Rafale sebagai contoh konkret keberhasilan hubungan bilateral dibanding langsung membahas nilai investasi yang baru diumumkan.
Kerja Sama Ekonomi dan Pertahanan Kini Berjalan Beriringan
Meski pertahanan menjadi sorotan utama, Macron tetap menegaskan keinginan Prancis memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia.
Prancis ingin memperkuat perdagangan bilateral dan investasi silang, sekaligus mendorong implementasi penuh perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Uni Eropa dan Indonesia.
“Kami ingin meluncurkan proyek-proyek besar di bidang transportasi, kesehatan, transisi energi, pertanian, dan seterusnya,” kata Macron.
Selain itu, Prancis juga menaruh perhatian pada sektor kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, digital, keuangan, serta industri budaya dan kreatif.
Macron turut menyampaikan apresiasi atas terbukanya pasar Indonesia untuk produk pangan Prancis, termasuk sektor perunggasan, susu, dan daging. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan agenda pemerintah Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan dan peningkatan gizi masyarakat.
Kenapa Kesepakatan Ini Penting bagi Indonesia?
Kesepakatan senilai US$ 3,5 miliar menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Prancis bergerak ke level yang lebih luas dibanding hubungan dagang tradisional. Pertahanan menjadi pintu masuk, sementara investasi, teknologi, energi, hingga inovasi menjadi area pengembangan berikutnya.
Dalam jangka pendek, keberadaan France-Indonesia High Level Business Council dapat mempercepat realisasi proyek yang telah disepakati kedua negara. Dalam jangka panjang, forum tersebut berpotensi menjadi penghubung berbagai investasi baru yang mendukung transformasi industri Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menilai meningkatnya minat pelaku usaha Prancis mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif,” kata Rosan.
Selain empat kesepakatan baru senilai US$ 3,5 miliar, dewan bisnis tersebut juga akan mengawal realisasi 27 nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya disepakati saat kunjungan Macron ke Indonesia pada Mei 2025 dengan total nilai lebih dari US$ 11 miliar.





