Peta Korban Terbaru Ungkap Skala Krisis Hidrometeorologi di Tiga Provinsi

akalmerdeka.id – Jumlah korban banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar kembali meningkat. Data gabungan BNPB per Jumat (28/11/2025) menunjukkan 174 tewas dan 79 hilang setelah wilayah terisolasi terbuka untuk penelusuran.
BNPB menjelaskan data ini bergerak dinamis karena sebagian lokasi belum dapat diakses. Evaluasi dilakukan setiap beberapa jam berdasarkan laporan tim SAR.
Di Aceh, 35 tewas dan 25 hilang tercatat hingga Jumat sore. Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara mengisi porsi terbesar. Laporan lapangan menunjukkan hambatan utama berupa jalan nasional yang terputus.
Bener Meriah mencatat 11 korban tewas dan 13 hilang. Aceh Tenggara melaporkan enam tewas, tujuh hilang, dan lima luka-luka. Kondisi topografi memperlambat pencarian di lereng yang labil.
Sumut menjadi wilayah dengan dampak paling luas. Total 116 tewas dan 42 hilang. Tapanuli Tengah melaporkan 47 korban, Tapanuli Selatan 32, Sibolga 17, dan Tapanuli Utara 11.
BNPB menilai peningkatan curah hujan dipicu dua sistem cuaca aktif: Siklon Tropis KOTO dan bibit siklon 95B. “Kombinasi ini meningkatkan hujan intensitas tinggi,” tulis BNPB dalam laporan Kamis (27/11).
Di Sumbar, BPBD melaporkan 61 korban tewas. Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, dan Padang masuk daftar wilayah terdampak. Ribuan keluarga mengungsi dari area dengan risiko lanjutan.
Polri menurunkan tim DVI untuk mempercepat identifikasi. Proses ini krusial karena banyak jenazah ditemukan di lokasi yang terendam sedimentasi tebal.
BNPB mengoordinasikan TNI, Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah untuk membuka jalur Aceh–Sumut. Beberapa titik masih tertutup material longsor.
“Prioritas kami pembukaan akses dan evakuasi,” tulis BNPB dalam laporan harian, Jumat (28/11). Namun distribusi logistik tetap lambat di wilayah terpencil.
Konteks kebencanaan menunjukkan kerentanan struktural. Infrastruktur terbatas memperbesar risiko saat cuaca ekstrem meningkat. Analisis pakar merekomendasikan penguatan sistem peringatan dini dan jalur evakuasi regional.(*)





