4 Nama Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar NU

AkalMerdeka.id – Empat nama disebut masuk bursa calon ketua umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Mereka adalah Ketua Umum PBNU saat ini KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, KH Imam Jazuli, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, dan KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.
Keempat nama tersebut memiliki latar belakang, jaringan, pengalaman, dan modal politik-organisasi yang berbeda. Intelektual muda NU sekaligus peneliti Insantara, M Wildan, menilai perbedaan tersebut akan menjadi bagian penting dalam dinamika menjelang Muktamar.
Gus Yahya Hadapi Kontestasi sebagai Petahana
Nama pertama adalah Gus Yahya yang saat ini masih menjabat Ketua Umum PBNU. Sebagai petahana, ia memiliki pengalaman memimpin organisasi sekaligus penguasaan terhadap struktur PBNU dan jaringan yang terbentuk selama masa kepemimpinannya.
Wildan menyebut modernisasi organisasi menjadi salah satu bagian dari warisan kepemimpinan Gus Yahya. Salah satunya melalui digitalisasi tata kelola dengan berbagai platform organisasi.
“Dari sisi politik organisasi, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mempertahankan kepemimpinan,” ujar Wildan dalam keterangan pers, Jumat (21/8/2026).
Namun, status petahana juga membuat Gus Yahya menghadapi evaluasi atas periode kepemimpinannya. Persoalan tata kelola, hubungan Syuriyah dan Tanfidziyah, keuangan, aset dan usaha organisasi, hingga berbagai kontroversi menjadi bagian dari dinamika internal yang disebut perlu diperhatikan dalam Muktamar.
Wildan mengatakan penilaian terhadap kepemimpinan Gus Yahya di internal NU terbelah. Sebagian kalangan menilai ia membawa modernisasi dan membuka ruang baru bagi NU di tingkat global, sementara kelompok lain menyoroti tata kelola serta konsolidasi internal.
Imam Jazuli Tawarkan Posisi Kandidat Independen
Nama berikutnya adalah KH Imam Jazuli, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. Ia disebut menawarkan positioning sebagai kandidat independen dengan latar belakang pesantren, pengalaman akademik, serta gagasan transformasi NU.
Menurut Wildan, perhatian terhadap Imam Jazuli menguat seiring gagasan dan gerakannya dalam mendorong transformasi pesantren serta peningkatan kualitas sumber daya santri. Sejumlah kalangan juga melihatnya sebagai figur yang dapat menjembatani kelompok yang menginginkan perubahan dengan pihak yang menghendaki kesinambungan tradisi organisasi.
Gagasan yang dibawa Imam Jazuli bertumpu pada tiga agenda, yakni persatuan NU, penguatan kembali marwah dan otoritas ulama, serta transformasi pesantren sebagai fondasi organisasi memasuki abad kedua.
Wildan juga menilai kemandirian finansial secara personal menjadi salah satu modal Imam Jazuli dalam membangun komunikasi lintas kelompok. Kondisi tersebut disebut membuatnya relatif lebih leluasa menjangkau berbagai kalangan tanpa terlalu terbebani persepsi mengenai keterikatan dengan kekuatan politik tertentu.
“Sosoknya yang aktif melakukan pertemuan lintas tokoh dan generasi, dapat menjadi titik temu bagi kelompok yang menginginkan persatuan, rekonsiliasi dan ishlah organisasi setelah periode PBNU ini yang diwarnai kontroversi,” ujarnya.
Gus Kikin Bawa Kekuatan Kultural dan Sejarah NU
Kandidat ketiga adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia memiliki kekuatan simbolik dan kultural karena merupakan cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
Menurut Wildan, kehadiran Gus Kikin membawa narasi penguatan kembali fondasi serta identitas organisasi. Salah satu gagasan yang menonjol adalah penekanan terhadap Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari sebagai rujukan fundamental dalam kehidupan organisasi NU.
Dari sisi usia dan garis keturunan, Gus Kikin dinilai merepresentasikan kesinambungan tradisi kepesantrenan dan sejarah NU. Wildan menyebut sebagian kalangan struktural NU menilai Gus Kikin lebih pantas menduduki posisi di Syuriyah PBNU.
Dalam dinamika Muktamar, beredar pula persepsi mengenai dukungan dari kekuatan Istana terhadap Gus Kikin. Namun, terdapat sumber yang menyebut Presiden Prabowo Subianto tidak ingin ikut campur dalam pemilihan calon Ketua Umum PBNU.
Gus Yusuf Bawa Pengalaman Politik dan Organisasi
Nama keempat adalah KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Berbeda dari kandidat lainnya, ia memiliki pengalaman panjang dalam politik praktis dan organisasi kepartaian.
Gus Yusuf pernah memimpin PKB Jawa Tengah sebelum mengundurkan diri pada awal 2026. Keputusan tersebut kemudian dibaca sebagian kalangan sebagai langkah menuju kontestasi Ketua Umum PBNU.
Meski telah meninggalkan jabatan politik, latar belakang tersebut membuat Gus Yusuf masih diasosiasikan dengan basis politik PKB oleh sebagian masyarakat. Ia menawarkan visi “An-Nahdlah Ats-Tsaniyah” atau Kebangkitan Kedua NU.
Agenda tersebut mencakup pemulihan marwah organisasi, penguatan soliditas internal, pembenahan tata kelola, serta pengembangan pendidikan pesantren dan pemberdayaan ekonomi umat. Tantangannya adalah membangun persepsi bahwa pencalonannya merupakan bagian dari agenda khidmah NU, bukan perpanjangan kepentingan politik tertentu.
Dengan pelaksanaan Muktamar ke-35 yang tinggal beberapa hari, keempat nama tersebut membawa modal dan tantangan masing-masing. Forum yang berlangsung di Jombang pada 27-31 Agustus 2026 itu akan menjadi ruang untuk menentukan kepemimpinan PBNU sekaligus arah organisasi pada periode berikutnya.
Wildan menilai Muktamar tidak hanya berkaitan dengan pemilihan ketua umum, tetapi juga menjadi momentum untuk meredakan polarisasi, memulihkan kepercayaan warga NU, memperbaiki tata kelola, memperkuat kemandirian ekonomi, serta menjaga independensi organisasi dari kepentingan politik praktis.
“Muktamar tidak sekadar memilih seorang ketua umum. Muktamar akan menentukan arah NU untuk lima tahun ke depan sekaligus meletakkan fondasi perjalanan organisasi pada abad keduanya,” katanya.





