Karhutla Kalimantan Meluas, DPR Desak Status Kedaruratan Dievaluasi

Karhutla Kalimantan Meluas, DPR Desak Status Kedaruratan Dievaluasi
Karhutla di Kutai Barat

Samarinda, AkalMerdeka.id – Anggota Komisi VIII DPR Hetifah Sjaifudian mendesak pemerintah segera mengevaluasi status kedaruratan karhutla Kalimantan, menyusul 413 titik kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur dengan luas area terbakar mencapai 936,95 hektare. Kondisi asap yang mulai membatasi jarak pandang dinilai menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak lagi hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga perlindungan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Karhutla Kalimantan Capai 413 Titik

Hetifah mengatakan data BPBD Kaltim menunjukkan kebakaran telah tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Angka tersebut menjadi perhatian karena dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat melalui penurunan kualitas udara dan terbatasnya jarak pandang.

“Ketika asap sudah menurunkan kualitas udara, membatasi jarak pandang, dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat, maka persoalannya bukan lagi hanya pemadaman kebakaran, tetapi sudah menyangkut perlindungan kesehatan dan keselamatan masyarakat,” kata Hetifah kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).

Anggota DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Timur itu meminta pemerintah daerah bersama BPBD, BNPB, BMKG, dan instansi terkait segera mengevaluasi kondisi di lapangan. Menurut dia, penentuan status kedaruratan harus mengacu pada data serta tingkat ancaman yang terjadi.

Baca Juga :  Gempa Bumi NTT, Pemerintah Cari Korban di Reruntuhan Maumere

“Segera mengevaluasi apakah kondisi saat ini sudah memenuhi indikator untuk peningkatan status kedaruratan. Jangan menunggu situasi memburuk,” ujarnya.

Desakan tersebut menempatkan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dalam penanganan karhutla. Hetifah menilai peningkatan kesiapsiagaan lebih awal diperlukan agar pemerintah tidak baru memperbesar respons setelah dampak kebakaran meluas.

Wilayah dengan Karhutla Terluas di Kaltim

Berdasarkan data BPBD Kaltim per 19 Agustus, Kutai Barat menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar tertinggi, yakni 269,34 hektare dari 70 titik kejadian. Sementara itu, Paser mencatat jumlah titik karhutla terbanyak dengan 85 titik, disusul Samarinda sebanyak 75 titik dan Kutai Barat 70 titik.

Plh Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim Sugeng Priyanto mengatakan karhutla juga melanda wilayah Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara. Tiga daerah tersebut termasuk wilayah yang saat ini menjadi perhatian pemantauan BPBD.

“Yang dominan atau tinggi sementara ini kami pantau berada di wilayah Berau, Kutim, dan Kukar,” kata Sugeng saat diwawancarai Kamis (20/8).

Hetifah juga meminta pemerintah memperkuat pencegahan dan pemadaman dengan memastikan setiap hotspot segera diverifikasi. Langkah tersebut dinilai penting karena periode kering masih berlangsung sehingga risiko kebakaran belum berakhir setelah api di satu lokasi berhasil dipadamkan.

Baca Juga :  7 Arahan Prabowo di Sidang Kabinet Jelang Dua Tahun

Di sisi lain, pemerintah daerah dan dinas pendidikan diminta menyiapkan protokol bagi sekolah ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat atau berbahaya. Pembatasan aktivitas luar ruang, penyediaan masker yang sesuai, serta pemantauan kualitas udara menjadi langkah yang didorong untuk melindungi siswa.

Pembelajaran jarak jauh, menurut Hetifah, dapat diterapkan sementara di wilayah yang kualitas udaranya sudah membahayakan kesehatan. Kebijakan itu tidak perlu diberlakukan seragam di seluruh Kaltim karena kondisi udara dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Selain sekolah, fasilitas kesehatan juga diminta bersiaga menghadapi kemungkinan peningkatan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Hetifah meminta pemerintah menyiapkan skenario penanganan selama periode risiko karhutla Kalimantan masih berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *