Ryamizard Ryacudu Wafat, Jenderal yang Menjadi Saksi 3 Era Perjalanan TNI

Ryamizard Ryacudu Wafat, Jenderal yang Menjadi Saksi 3 Era Perjalanan TNI

AkalMerdeka.id – Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu meninggal dunia pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 14.03 WIB di Ruang Cardiac Intensive Care Unit (CICU) RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Mantan Menteri Pertahanan RI itu wafat pada usia 76 tahun setelah menjalani perawatan intensif sejak awal 2025.

Kepergian Ryamizard menandai berakhirnya perjalanan seorang prajurit yang kariernya membentang dari berbagai operasi militer pada era Orde Baru, masa Reformasi, hingga pemerintahan sipil modern. Tidak banyak perwira TNI yang memiliki rekam jejak panjang di tiga periode penting tersebut.

Ryamizard Ryacudu Wafat Setelah Dirawat Sejak 2025

Ryamizard mulai menjalani perawatan intensif di unit Cardiac Intensive Care Unit (CICU) RSPAD pada 28 Januari 2025 akibat gangguan jantung.

Selama masa perawatan, kabar mengenai kondisi kesehatannya beberapa kali menjadi perhatian publik. Pada Januari dan Februari 2025, sempat beredar informasi di media sosial yang menyebut Ryamizard telah meninggal dunia. Informasi tersebut dibantah oleh keluarga maupun Kementerian Pertahanan.

Kabar duka akhirnya dikonfirmasi pada Minggu, 31 Mei 2026.

“Benar, kami mendapat informasi BERITA DUKA CITA, bahwa telah meninggal dunia Bapak Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu pada hari ini, Minggu 31 Mei 2026 pukul 14.03 WIB di RSPAD,” ujar Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.

Hingga saat ini, pihak keluarga maupun RSPAD belum mengumumkan secara resmi penyakit spesifik yang menjadi penyebab kematian Ryamizard. Namun, ia diketahui menjalani perawatan di unit perawatan jantung intensif selama lebih dari satu tahun.

Putra Pejuang yang Memilih Jalan Militer

Ryamizard lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 21 April 1950. Ia berasal dari keluarga militer. Ayahnya, Mayjen TNI (Purn) Musannif Ryacudu, merupakan pejuang kemerdekaan yang dikenal dekat dengan Presiden Soekarno.

Baca Juga :  Rasionalisasi Organisasi TNI: 18 Kolonel Angkatan Darat Raih Bintang Satu

Latar belakang tersebut ikut membentuk pilihan hidup Ryamizard. Setelah menempuh pendidikan militer, ia lulus dari Akademi Militer tahun 1974 dari kecabangan infanteri.

Menariknya, Ryamizard merupakan satu angkatan dengan Presiden Prabowo Subianto dan Sjafrie Sjamsoeddin. Kedekatan tersebut bahkan terus terjalin hingga puluhan tahun kemudian.

Dalam biografi yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, Ryamizard disebut mengagumi Mahapatih Gajah Mada yang dikenal berhasil mempersatukan Nusantara. Inspirasi itu melengkapi pengaruh besar sang ayah dalam membentuk pandangannya tentang nasionalisme dan kedaulatan negara.

Karier Ryamizard Ditempa di Berbagai Medan Operasi

Sebelum mencapai jabatan tertinggi di TNI Angkatan Darat, Ryamizard menghabiskan sebagian besar kariernya di lapangan.

Ia terlibat dalam berbagai operasi militer sejak akhir 1970-an, mulai dari Operasi Tumpas PGRS/Paraku di Kalimantan, Operasi Kemudi Malindo, hingga Operasi Seroja di Timor-Timur.

Pengalaman tersebut membuat Ryamizard dikenal sebagai perwira yang tumbuh dari medan operasi, bukan semata dari jabatan staf.

Selain operasi militer, ia juga pernah terlibat dalam penanganan Aceh, termasuk turun langsung membantu masyarakat saat bencana tsunami melanda wilayah tersebut.

Dari Pangdam hingga Pangkostrad

Karier Ryamizard terus meningkat pada akhir 1990-an.

Ia dipercaya menjabat Pangdam V/Brawijaya pada 1999 sebelum kemudian memimpin Kodam Jaya/Jayakarta. Setelah itu, ia mendapat amanah sebagai Panglima Kostrad pada periode 2000-2002.

Posisi tersebut menjadi batu loncatan menuju jabatan yang lebih tinggi di lingkungan TNI.

Baca Juga :  Perubahan Iklim Nyata: Prabowo Minta Pemerintah Perkuat Sistem Pengelolaan Lingkungan

Naik ke Puncak Karier sebagai KSAD

Pada 2002, Ryamizard dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Jabatan tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di tubuh TNI pada masa awal Reformasi. Saat itu, TNI tengah menjalani berbagai perubahan kelembagaan dan penyesuaian peran dalam sistem demokrasi Indonesia.

Ryamizard juga sempat disebut sebagai kandidat kuat Panglima TNI. Namun pada 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih Marsekal Djoko Suyanto untuk memimpin institusi tersebut.

Meski demikian, namanya tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah TNI Angkatan Darat.

Dari Jenderal Purnawirawan Menjadi Menteri Pertahanan

Perjalanan pengabdiannya tidak berhenti setelah pensiun dari militer.

Pada 2014, Presiden Joko Widodo menunjuk Ryamizard sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Ia menjabat hingga 2019 dan menjadi bagian dari kabinet pada periode pertama pemerintahan Jokowi.

Penunjukan tersebut menunjukkan bahwa pengalamannya di bidang pertahanan masih dianggap relevan untuk membantu merumuskan kebijakan strategis negara.

Posisi ini membuat Ryamizard menjadi salah satu tokoh yang pernah mencapai puncak karier militer sekaligus memimpin kementerian strategis.

Jenderal yang Menjadi Saksi Tiga Era Perjalanan TNI

Salah satu hal yang membuat perjalanan Ryamizard berbeda adalah rentang pengabdiannya yang melintasi beberapa fase penting sejarah Indonesia.

Ia menjalani karier militer saat era Orde Baru masih berlangsung. Ia kemudian berada di lingkaran pimpinan TNI ketika Reformasi mengubah banyak aspek dalam tubuh militer.

Setelah itu, ia kembali mengabdi sebagai Menteri Pertahanan dalam pemerintahan sipil modern.

Baca Juga :  Bocornya Dokumen Pentagon: Ancaman Erosi Kedaulatan Udara di Balik Diplomasi

Karena itulah, Ryamizard dapat disebut sebagai salah satu jenderal yang menjadi saksi sekaligus bagian dari proses perubahan TNI selama lebih dari empat dekade.

Jejak tersebut menjadi warisan penting yang membedakannya dari banyak perwira lain pada generasinya.

Hoaks Kematian yang Sempat Mendahului Kabar Duka

Ada satu fakta unik yang menyertai tahun-tahun terakhir kehidupan Ryamizard.

Sebelum benar-benar wafat pada 31 Mei 2026, kabar kematiannya setidaknya dua kali beredar di media sosial sepanjang 2025. Informasi tersebut kemudian dibantah secara resmi oleh keluarga maupun Kementerian Pertahanan.

Fenomena ini menciptakan situasi yang tidak biasa. Ketika kabar wafatnya benar-benar diumumkan, sebagian masyarakat sempat meragukan informasi tersebut karena pernah menerima kabar serupa sebelumnya.

Kasus ini menunjukkan bagaimana hoaks yang berulang dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap informasi yang sebenarnya valid.

Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu

Presiden Prabowo Subianto turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ryamizard.

“Innaa lillahi wa inna ‘ilaihi raaji’uun. Turut berduka cita atas wafatnya Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu,” tulis Prabowo melalui akun Instagram resminya.

Sementara itu, Kepala Kantor Staf Presiden Dudung Abdurachman mengenang Ryamizard sebagai sosok prajurit profesional.

“Dan beliau juga yang menerapkan tentang bagaimana TNI harus kembali ke barak. Beliau prajurit sejati. Prajurit tulen yang betul-betul prajurit profesional. Prajurit pejuang,” kata Dudung.

Ryamizard dijadwalkan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan. Penghormatan tersebut menjadi penutup perjalanan panjang seorang prajurit yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pertahanan Indonesia.

Bilal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *