akalmerdeka.id — Eskalasi ketegangan antara pemerintah India dan kelas pekerja mencapai puncaknya pada 12 Februari 2026 melalui aksi mogok nasional "Bharat Bandh" yang melibatkan 300 juta partisipan. Gerakan ini dipicu oleh dua isu fundamental: implementasi 4 Kode Tenaga Kerja 2025 dan perjanjian perdagangan bebas interim dengan Amerika Serikat yang dinilai mengancam stabilitas ekonomi domestik.
Secara teknis, serikat buruh menyoroti kebijakan hire and fire yang semakin dipermudah dalam aturan baru, yang dianggap melemahkan posisi tawar pekerja. Di sisi lain, para petani yang tergabung dalam Samyukt Kisan Morcha (SKM) memandang masuknya produk pertanian AS sebagai ancaman eksistensial bagi kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani lokal.
"Ini adalah perlawanan terhadap kebijakan pro-korporasi yang sistematis," ujar Amarjeet Kaur, Sekretaris Jenderal AITUC pada 12 Februari 2026. Ia menekankan bahwa partisipasi massal di 600 distrik mencerminkan kegelisahan mendalam pekerja atas hilangnya proteksi hukum yang telah berlaku selama puluhan tahun melalui 29 undang-undang lama.