Ekbis

Dari Batu Bara ke Nikel dan KFC, Jejak Ekspansi Bisnis Haji Isam Makin Luas

Dari Batu Bara ke Nikel dan KFC, Jejak Ekspansi Bisnis Haji Isam Makin Luas
AkalMerdeka.id - Ekspansi bisnis Haji Isam semakin melebar setelah PT Jhonlin Baratama bersiap mengakuisisi 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) atau sekitar 10 miliar saham dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Langkah tersebut memperkuat jejak Haji Isam di sektor batu bara sekaligus melengkapi portofolio bisnisnya yang kini mencakup nikel, sawit, makanan, jasa pertambangan, hingga investasi di industri kreatif. Rencana masuk ke BYAN menjadi perkembangan terbaru dalam ekspansi bisnis Haji Isam di pasar modal. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip dalam laporan pasar, Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama untuk pengalihan sekitar 10 miliar saham BYAN.

Haji Isam Perluas Bisnis ke Bayan Resources

Langkah mengakuisisi saham BYAN menunjukkan bahwa bisnis Haji Isam kembali memperbesar eksposurnya terhadap batu bara, sektor yang selama ini menjadi salah satu basis utama Jhonlin Group. Jika transaksi terealisasi sesuai rencana, kepemilikan sekitar 30% BYAN akan menjadi salah satu aset terbesar dalam portofolio bisnisnya. Rencana tersebut juga langsung mendapat perhatian pasar modal. Saham BYAN melonjak 19,96% hingga mencapai Rp13.825 per saham pada perdagangan Jumat (18/9/2026) dan menyentuh batas auto reject atas (ARA) harian. Kenaikan itu terjadi setelah kepastian rencana transaksi diumumkan ke publik. Dengan harga tersebut, nilai pasar 30% saham BYAN yang akan dialihkan berada di kisaran Rp138,25 triliun. Namun, angka tersebut merupakan nilai berdasarkan harga pasar saham dan bukan otomatis nilai transaksi akuisisi karena harga jual beli dalam perjanjian belum diungkapkan. Posisi BYAN juga membuat ekspansi ini berbeda dari sejumlah aksi sebelumnya. Jika pembelian saham PACK pada Mei 2026 memperluas portofolio Haji Isam ke nikel, maka masuknya Jhonlin Baratama ke BYAN kembali memperkuat pijakan di industri batu bara dalam skala perusahaan terbuka.

Dari PACK, Haji Isam Masuk Bisnis Nikel

Sebelum membidik BYAN, Haji Isam memperluas portofolionya melalui PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK). Pada 13 Mei 2026, ia membeli 6.836.867.700 saham PACK dengan harga Rp137 per saham. Transaksi tersebut bernilai sekitar Rp936,65 miliar dan membuat Haji Isam menguasai 21,12% saham PACK. Pembelian itu sekaligus menjadi pintu masuk ke bisnis nikel, di luar sektor yang selama ini lekat dengan Jhonlin seperti batu bara, perkebunan kelapa sawit, dan logistik. Pergerakan PACK kemudian ikut menjadi perhatian investor. Dalam data per 18 September 2026 yang tercantum dalam naskah, saham PACK berada di level Rp565 dengan kapitalisasi pasar Rp19,27 triliun, naik 46,37% dalam sebulan dan 208,44% secara year to date. Angka tersebut menggambarkan besarnya perubahan harga saham PACK sejak Haji Isam masuk sebagai pemegang saham. Namun, pergerakan harga saham tetap dipengaruhi berbagai faktor pasar dan tidak dapat secara otomatis dikaitkan hanya dengan kepemilikan seorang investor.

Bisnis Sawit Menjadi Bagian Penting Portofolio

Ekspansi bisnis Haji Isam juga bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit. Salah satu emiten yang terkait dengan kelompok usahanya adalah PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), yang bergerak di sektor tersebut. Pada 18 September 2026, saham JARR berada di level Rp3.600 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp33,23 triliun. Saham tersebut tercatat naik 17,26% dalam sebulan terakhir dan menguat 11,46% secara year to date berdasarkan data RTI Business dalam naskah. Selain JARR, terdapat PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang juga berkaitan dengan bisnis perkebunan sawit Haji Isam. PGUN tercatat menjadi pengendali PT Araya Agro Lestari dan PT Citra Agro Raya, dengan struktur kepemilikan yang berkaitan dengan dua anak Haji Isam, Jhony Saputra dan Liana Saputri. PGUN berada di level Rp9.525 per saham pada 18 September 2026 dengan kapitalisasi pasar Rp54,65 triliun. Dalam periode satu bulan, sahamnya turun 0,26%, sedangkan secara year to date turun 2,56% berdasarkan data yang tercantum dalam naskah.

Masuk ke Bisnis Makanan Lewat Jaringan KFC

Diversifikasi Haji Isam tidak berhenti pada komoditas. Pada 2025, ekspansi juga bergerak ke sektor makanan melalui keterlibatan anak usahanya pada PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), perusahaan pengelola jaringan KFC Indonesia. FAST menjual 15% saham PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI) kepada PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN). Transaksi tersebut melibatkan 41.877 saham Seri A JAI dengan nilai Rp54,44 miliar dan efektif pada 30 Juni 2025. SFN merupakan perusahaan yang dimiliki antara lain oleh Liana Saputri, putri Haji Isam. Berdasarkan data kepemilikan yang tercantum dalam naskah, Liana memiliki 45% saham SFN, sementara 45% lainnya dimiliki Putra Rizky Bustaman dan 10% dimiliki Bani Adityasuny Ismiarso. Transaksi tersebut menunjukkan pola berbeda dibandingkan ekspansi Haji Isam di sektor tambang dan perkebunan. Di bisnis makanan, keterlibatan tersebut dilakukan melalui struktur perusahaan yang terhubung dengan keluarganya dan menyasar bagian dari rantai bisnis makanan yang berkaitan dengan jaringan KFC.

Portofolio Haji Isam Juga Menyentuh Jasa dan Infrastruktur

Portofolio bisnis Haji Isam juga mencakup PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Kepemilikan tersebut dilakukan melalui PT Dua Samudera Perkasa, perusahaan yang 49% sahamnya tercatat dimiliki Haji Isam. Pada 18 September 2026, saham TEBE berada di level Rp2.080 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp2,67 triliun. Pergerakannya naik 18,86% dalam sebulan, tetapi masih turun 20,31% secara year to date berdasarkan data dalam naskah. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi Haji Isam tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Batu bara dan sawit tetap menjadi bagian penting, sementara nikel, jasa, makanan, dan investasi di sektor lain ikut masuk dalam portofolio yang berkembang melalui sejumlah perusahaan terbuka dan entitas privat.

Saham RANS Melengkapi Ekspansi ke Industri Kreatif

Jejak investasi Haji Isam juga muncul di sektor hiburan melalui PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), perusahaan milik pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Haji Isam tercatat memiliki 1,40% saham RANS atau setara sekitar 176,47 juta saham. Keterlibatan tersebut terlihat saat Haji Isam hadir dalam acara penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) RANS di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada 10 Juli. Raffi Ahmad menyebut Haji Isam sebagai salah satu pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%. Kehadiran pengusaha tersebut juga disebut Raffi sebagai bentuk kepercayaan terhadap perusahaan yang dibangunnya. "Itu (kehadiran Haji Isam) adalah kehormatan juga buat kami dan juga legitimate bahwa seorang Haji Isam, dan nanti ada haji-haji yang lain, pengusaha-pengusaha investor yang lain yang percaya sama kita, itu menunjukkan bahwa RANS tidak main-main," ujar Raffi. Dalam data per 18 September 2026, saham RANS berada di level Rp197 dengan kapitalisasi pasar Rp2,48 triliun. Saham tersebut turun 1,50% dalam sebulan, sementara data year to date dalam tabel naskah tidak mencantumkan angka.

BYAN Menjadi Babak Terbaru Ekspansi Bisnis Haji Isam

Jika seluruh portofolio tersebut dilihat secara bersamaan, rencana akuisisi BYAN menjadi babak terbaru dari strategi diversifikasi bisnis Haji Isam. Dari basis usaha di pertambangan dan sawit, ekspansi kemudian merambah nikel, makanan, jasa, hingga industri kreatif. Langkah masuk ke BYAN sekaligus membawa Haji Isam berhadapan dengan salah satu perusahaan batu bara besar yang sebelumnya dikendalikan Low Tuck Kwong dan keluarganya. Berdasarkan perjanjian jual beli saham bersyarat, 10.000.000.500 saham BYAN akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama dengan penyelesaian yang masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan. Dengan demikian, ekspansi bisnis Haji Isam di pasar modal kini tidak hanya dapat dilihat dari jumlah perusahaan yang terkait dengannya, tetapi juga dari semakin beragamnya sektor yang dimasuki. Rencana akuisisi BYAN menjadi perkembangan terbaru yang kembali menempatkan kelompok usaha Jhonlin di pusat perhatian pasar modal Indonesia.