Danantara Raup USD 1,5 Miliar, Sinyal Kepercayaan Investor ke Indonesia Masih Kuat

AkalMerdeka.id – Kepercayaan investor terhadap Indonesia kembali mendapat sorotan setelah penerbitan obligasi global perdana Danantara Indonesia mencatat hasil di atas target. Dari target awal USD1 miliar, minat investor mencapai sekitar USD 4,6 miliar sehingga nilai penerbitan ditingkatkan menjadi USD 1,5 miliar.
Capaian tersebut dinilai menjadi salah satu indikator bahwa investor global masih melihat prospek ekonomi Indonesia secara positif meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi masih membayangi pasar internasional.
Kepercayaan Investor terhadap Indonesia Dorong Obligasi Danantara Oversubscribe
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan tingginya permintaan membuat Danantara menaikkan nilai penerbitan obligasi global dari rencana awal.
“Dari rencana 1 miliar dolar yang kami ingin capai, book building yang masuk itu kurang lebih 4,6 miliar dolar. Sehingga melihat book building yang begitu tinggi, artinya kami meng-upsize atau meningkatkan dari 1 miliar menjadi 1,5 billion USD yang di mana itu dibagi menjadi 5 tahun dan juga 10 tahun,” jelas Rosan.
Obligasi tersebut diterbitkan dalam dua tenor, yakni 5 tahun dan 10 tahun. Masing-masing tenor berhasil menghimpun dana sebesar USD 750 juta.
Tingginya permintaan investor atau oversubscribe biasanya menunjukkan pasar melihat instrumen yang ditawarkan memiliki tingkat risiko dan prospek yang menarik dibanding alternatif investasi lainnya.
Apa Arti Tingginya Minat Investor Global?
Dalam proses pemasaran obligasi, Danantara melakukan pertemuan dengan 122 investor global di sejumlah pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, Boston, London, dan New York.
Bagi investor internasional, keputusan membeli obligasi tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil. Stabilitas ekonomi, prospek pertumbuhan, kondisi fiskal, serta arah kebijakan pemerintah juga menjadi pertimbangan utama.
Rosan menilai hasil penerbitan ini menjadi bukti bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia masih terjaga.
“Nah ini adalah hasil yang sangat-sangat baik. Dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi dan ini terbukti dan ini riil ya,” ujarnya.
Selain jumlah peminat yang besar, Danantara juga memperoleh tingkat imbal hasil yang dinilai kompetitif. Obligasi tenor 5 tahun ditutup dengan yield 5,35%, sedangkan tenor 10 tahun mencapai 5,95%.
Investor Amerika Serikat Jadi Pembeli Terbesar
Salah satu fakta yang menarik dalam penerbitan obligasi global ini adalah dominasi investor asal Amerika Serikat.
Pada obligasi tenor 5 tahun, investor Amerika Serikat menyumbang 38% dari total pembelian. Investor dari Eropa dan Timur Tengah mencapai 41%, sementara Asia sebesar 21%.
Untuk tenor 10 tahun, porsi investor Amerika Serikat bahkan lebih besar, mencapai 52%. Investor dari Eropa dan Timur Tengah berkontribusi 31%, sedangkan Asia sebesar 17%.
Menurut Rosan, komposisi tersebut berbeda dibanding pola yang selama ini terjadi dalam sejumlah penerbitan surat utang Indonesia.
Peluang Pendanaan Jangka Panjang Semakin Terbuka
Keberhasilan penerbitan obligasi global perdana membuka peluang bagi Danantara untuk menjajaki instrumen pendanaan dengan tenor yang lebih panjang di masa depan.
Rosan menyebut minat investor yang tinggi memungkinkan penerbitan obligasi hingga tenor 30 tahun apabila kondisi pasar mendukung.
“Karena appetite-nya itu sangat besar juga, karena mereka melihat bahwa Indonesia growth-nya ini relatif stabil. Ya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada,” kata Rosan.
Dana hasil penerbitan obligasi dijadwalkan mulai masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026. Keberhasilan ini sekaligus menjadi ujian awal kemampuan Danantara mengakses pasar keuangan global sebagai kendaraan investasi strategis milik Indonesia.





