Analisis Aktivitas Vulkanik Semeru Menetapkan Status Siaga Level III

Analisis Aktivitas Vulkanik Semeru Menetapkan Status Siaga Level III

akalmerdeka.id — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru menunjukkan peningkatan signifikan secara empiris melalui serangkaian erupsi yang terjadi pada Selasa (24/2/2026). Data instrumen seismogram mencatat durasi erupsi selama 2 menit 25 detik dengan tinggi kolom abu mencapai 3.000 meter di atas puncak. Fenomena ini memaksa otoritas vulkanologi mempertahankan status aktivitas pada Level III atau Siaga.

Analisis dari Pos Pengamatan Gunung Semeru menunjukkan bahwa material erupsi didominasi oleh kolom abu berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas tebal. Parameter teknis menunjukkan amplitudo maksimum 22 mm, yang mengindikasikan tekanan internal magma yang cukup kuat untuk melontarkan material vulkanik ke atmosfer secara berulang dalam kurun waktu 24 jam.

Rekomendasi Zona Bahaya Berbasis Data

Berdasarkan pemantauan visual dan instrumen, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah merilis zona larangan aktivitas guna meminimalisir risiko korban jiwa. Jarak 13 kilometer dari puncak di sepanjang jalur Besuk Kobokan dinyatakan sebagai zona merah yang tidak boleh dimasuki oleh masyarakat karena risiko aliran awan panas primer.

Baca Juga :  Analisis BMKG: Monsun Asia Picu Peningkatan Hujan Lebat Jawa Timur

“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” ungkap Liswanto, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam keterangan resminya pada Selasa (24/2/2026). Ketetapan radius ini didasarkan pada jangkauan lontaran fragmen batuan panas yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Mitigasi Potensi Banjir Lahar Dingin

Selain ancaman langsung dari kawah, PVMBG menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman sekunder berupa aliran lahar. Dengan curah hujan yang masih terpantau di wilayah hulu, potensi banjir lahar di sepanjang Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat menjadi ancaman nyata bagi infrastruktur dan pemukiman warga di dataran rendah.

Otoritas meminta warga menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. “Masyarakat perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru,” tegas Liswanto. Data pemantauan per Rabu (25/2/2026) menunjukkan asap kawah masih terus keluar dengan intensitas tinggi.***

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *