Israel Mulai Melirik Turki Setelah Iran, Benarkah Konflik Baru Sedang Disiapkan?

Israel Mulai Melirik Turki Setelah Iran, Benarkah Konflik Baru Sedang Disiapkan?

AkalMerdeka.id – Setelah konflik Iran memuncak pada awal 2026, sejumlah tokoh politik dan keamanan Israel mulai mengalihkan perhatian ke Turki. Pernyataan yang menyebut “Turki adalah Iran baru” hingga peringatan tentang kemungkinan konflik berikutnya memunculkan pertanyaan baru: apakah Israel benar-benar sedang menyiapkan konfrontasi dengan Ankara, atau ini masih sebatas perang narasi politik?

Hingga 30 Mei 2026, tidak ada perang langsung maupun deklarasi konflik antara Israel dan Turki. Namun memburuknya hubungan diplomatik, persaingan pengaruh di sejumlah kawasan, serta saling serang pernyataan di ruang publik menunjukkan ketegangan kedua negara berada pada titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Hubungan Israel-Turki Memburuk Sejak Perang Gaza

Titik balik hubungan kedua negara terjadi setelah pecahnya perang Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, hubungan diplomatik yang sebelumnya sudah naik turun semakin memburuk.

Puncaknya terjadi pada November 2024 ketika Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Keputusan tersebut membuat kedua negara praktis kehilangan jalur komunikasi formal di tingkat pemerintahan.

Ketiadaan hubungan diplomatik menjadi faktor penting karena memperbesar risiko salah perhitungan dalam setiap krisis yang melibatkan kedua negara.

Muncul Narasi Baru: “Turki Adalah Iran Baru”

Perubahan paling mencolok terjadi setelah konflik Iran memasuki fase baru pada Februari 2026.

Pada 17 Februari 2026, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyebut bahwa ancaman baru sedang muncul dari Turki. Bennett bahkan menyamakan posisi Ankara dengan Iran dalam kalkulasi keamanan Israel.

Baca Juga :  Xi Jinping Singgung Perangkap Thucydides Saat Bertemu Trump di Beijing

Menurut Bennett, Presiden Erdogan tengah membangun pengaruh regional yang lebih luas dan berupaya memperkuat blok negara-negara Sunni yang tidak sejalan dengan kepentingan Israel.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian luas karena Bennett bukan sekadar mantan pejabat. Ia juga disebut sebagai salah satu kandidat kuat dalam dinamika politik Israel menjelang pemilu berikutnya.

Meski demikian, pandangan Bennett tidak sepenuhnya mewakili seluruh spektrum politik Israel.

Mantan Duta Besar Israel Alon Pinkas menilai kemunculan narasi ancaman baru setelah konflik Iran bukan sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, sebagian politisi Israel memang kerap menggunakan isu keamanan dan ancaman eksternal sebagai bagian dari strategi politik domestik.

Mengapa Turki Mulai Dipandang sebagai Tantangan Strategis?

Ketegangan Israel-Turki saat ini tidak hanya berkaitan dengan Gaza atau Hamas. Di balik perang pernyataan, terdapat sejumlah arena persaingan yang semakin memperlebar jarak kedua negara.

Suriah Menjadi Titik Gesekan Utama

Suriah menjadi wilayah yang paling berpotensi memunculkan benturan kepentingan langsung.

Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di wilayah selatan Suriah. Di sisi lain, Turki mendukung pemerintahan transisi di Damaskus dan berupaya memperluas pengaruhnya di negara tersebut.

Sebagian kalangan keamanan Israel khawatir peningkatan pengaruh Turki di Suriah akan mendekatkan Ankara ke wilayah perbatasan yang dianggap sensitif bagi keamanan Israel.

Baca Juga :  Kekosongan Khamenei: Tantangan Analitis bagi Warisan Ayatollah Khomeini

Persoalan Hamas Belum Pernah Selesai

Pemerintah Israel selama bertahun-tahun mengkritik hubungan Ankara dengan sejumlah tokoh Hamas.

Isu ini kembali mengemuka pada 2026 ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh Turki memberikan ruang bagi kelompok yang dianggap Israel sebagai organisasi teroris.

Sebaliknya, pemerintah Turki menilai Israel menggunakan isu tersebut untuk membenarkan kebijakan keamanan dan tekanan regionalnya.

Persaingan Meluas hingga Afrika Timur

Rivalitas juga mulai terlihat di luar Timur Tengah.

Turki mempercepat pembangunan dan penguatan kehadiran militernya di Somalia, termasuk untuk melindungi berbagai proyek strategis yang sedang dikembangkan.

Pada saat yang sama, Israel memperkuat hubungan dengan Somaliland.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan kedua negara tidak lagi terbatas pada kawasan Levant atau Mediterania Timur, melainkan mulai menjangkau Tanduk Afrika yang memiliki posisi strategis bagi jalur perdagangan dan keamanan kawasan.

Perang Langsung Masih Sulit Terjadi

Meskipun retorika politik semakin keras, sebagian analis menilai kemungkinan perang terbuka masih relatif rendah.

Salah satu faktor utama adalah posisi Turki sebagai anggota NATO. Setiap konflik militer besar yang melibatkan Turki berpotensi menimbulkan implikasi internasional yang jauh lebih kompleks dibandingkan konflik Israel dengan kelompok non-negara atau negara kawasan lainnya.

Dari sisi kemampuan militer, Turki juga memiliki keunggulan numerik yang signifikan. Data pertahanan 2025 menunjukkan Turki memiliki sekitar 355 ribu personel aktif dan anggaran pertahanan sekitar USD40 miliar, lebih besar dibandingkan Israel yang memiliki sekitar 170 ribu personel aktif dengan anggaran sekitar USD27 miliar.

Baca Juga :  Anatomi Tragedi Kahramanmaraş: Kegagalan Pengawasan dan Ancaman Subkultur Digital

Turki juga merupakan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat.

Faktor-faktor tersebut membuat skenario konfrontasi langsung menjadi pilihan yang berisiko tinggi bagi semua pihak.

Ketegangan Saat Ini Lebih Banyak Terjadi di Wilayah Abu-Abu

Jika melihat perkembangan hingga akhir Mei 2026, konflik Israel-Turki lebih banyak berlangsung melalui perang narasi, persaingan pengaruh, dan manuver geopolitik dibandingkan bentrokan militer langsung.

Pernyataan mantan analis intelijen Jonathan Pollard yang memperingatkan bahwa “badai akan datang” memang memicu perhatian luas. Namun Pollard bukan pejabat pemerintah Israel dan tidak memiliki kewenangan menentukan kebijakan luar negeri maupun militer negara tersebut.

Yang lebih relevan untuk dicermati justru absennya hubungan diplomatik resmi antara kedua negara. Dalam sejarah hubungan internasional, banyak krisis besar bermula ketika saluran komunikasi politik tidak lagi berfungsi.

Karena itu, tantangan terbesar saat ini bukan apakah perang akan pecah besok atau lusa, melainkan bagaimana Israel dan Turki mengelola persaingan yang semakin luas tanpa mekanisme diplomatik yang memadai.

Selama rivalitas di Suriah, Afrika Timur, dan isu Palestina terus berlanjut, ketegangan kemungkinan tetap tinggi. Namun hingga saat ini, bukti yang tersedia menunjukkan kedua negara masih berada dalam fase kompetisi geopolitik dan perang pengaruh, bukan menuju perang terbuka.

Heri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *