4 Terobosan BI dan Bank Sentral China, dari QRIS hingga Kliring Yuan

AkalMerdeka.id – Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBOC) menyepakati empat terobosan utama dalam pertemuan tingkat tinggi atau High Level Meeting (HLM) Joint Work Program yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, pada 11 Juni 2026. Kesepakatan ini mencakup transaksi mata uang lokal, kliring yuan di Indonesia, pembayaran QR lintas negara, hingga integrasi sistem pembayaran internasional.
Langkah tersebut menandai fase baru kerja sama keuangan Indonesia-Tiongkok yang tidak hanya bertujuan memperlancar perdagangan dan investasi, tetapi juga memperkuat stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
4 Hasil Utama Pertemuan BI dan PBOC
Pertemuan yang dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng menghasilkan 4 deliverables utama yang menjadi fondasi penguatan konektivitas keuangan kedua negara.
| Program | Tujuan Utama |
|---|---|
| MoU Local Currency Transaction (LCT) | Meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral |
| Renminbi Clearing Arrangement | Mendukung likuiditas yuan untuk perdagangan dan investasi |
| Pembayaran QR Lintas Batas | Mempermudah transaksi ritel Indonesia-Tiongkok |
| Bank Mandiri Masuk CIPS | Mempercepat proses kliring dan penyelesaian transaksi |
QRIS Indonesia-Tiongkok Resmi Terhubung
Salah satu hasil yang paling dekat dengan masyarakat adalah peluncuran implementasi pembayaran QR lintas batas antara Indonesia dan Tiongkok.
Skema ini memungkinkan transaksi ritel dilakukan secara lebih cepat dan efisien menggunakan sistem pembayaran digital yang terhubung antarnegara. Dukungan kerangka Local Currency Transaction juga membuat proses pembayaran menjadi lebih praktis tanpa bergantung penuh pada mata uang pihak ketiga.
Bagi pelaku usaha, wisatawan, maupun sektor ekonomi digital, konektivitas ini berpotensi mempercepat aktivitas transaksi lintas negara yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Indonesia Siapkan Ekosistem Kliring Yuan
BI dan PBOC juga menandatangani nota kesepahaman mengenai pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.
Kerja sama ini bertujuan menyediakan likuiditas yuan atau Renminbi yang memadai untuk mendukung perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan lainnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral sekaligus memperluas pilihan pembiayaan bagi pelaku usaha yang memiliki hubungan bisnis dengan Tiongkok.
Bank Mandiri Bergabung dengan Sistem Pembayaran CIPS
Terobosan lainnya adalah peluncuran kepesertaan Bank Mandiri sebagai direct participant dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS).
CIPS merupakan infrastruktur pembayaran lintas batas yang digunakan untuk memproses transaksi berbasis Renminbi secara internasional.
Dengan bergabungnya Bank Mandiri, proses kliring dan penyelesaian transaksi Indonesia-Tiongkok diharapkan menjadi lebih efisien. Selain mempercepat transaksi, langkah ini juga memperkuat ketahanan infrastruktur pembayaran lintas negara.
Penggunaan Mata Uang Lokal Kian Diperluas
Selain 4 kesepakatan utama tersebut, BI dan PBOC juga menjajaki peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) serta memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.
Perry Warjiyo menegaskan kerja sama ke depan akan diarahkan untuk memperkuat transaksi mata uang lokal, mengembangkan infrastruktur keuangan, serta memperluas kolaborasi antarbank sentral, termasuk pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia.
Sementara itu, Pan Gongsheng menilai Indonesia dan Tiongkok memiliki tanggung jawab bersama untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan keuangan sebagai dua mitra strategis utama di kawasan Asia.
Mengapa Kesepakatan Ini Penting?
Kesepakatan BI dan PBOC datang di saat banyak negara berupaya meningkatkan efisiensi pembayaran lintas batas dan memperkuat ketahanan sistem keuangan terhadap gejolak global.
Penguatan transaksi mata uang lokal dapat mengurangi biaya konversi valuta asing dalam perdagangan bilateral. Di sisi lain, integrasi sistem pembayaran digital dan infrastruktur kliring membuat arus transaksi menjadi lebih cepat dan efisien.
Bagi Indonesia, kerja sama ini bukan hanya soal teknologi pembayaran. Kesepakatan tersebut juga membuka peluang memperkuat hubungan perdagangan dan investasi dengan salah satu mitra ekonomi terbesar di dunia sekaligus meningkatkan daya saing sektor keuangan domestik.
Melalui 6 poin kerja sama yang disepakati, BI dan PBOC menegaskan komitmen untuk memperluas konektivitas sistem pembayaran, memperdalam integrasi pasar keuangan, serta menjaga stabilitas ekonomi kedua negara dalam jangka panjang.





