Paradoks Infrastruktur: Enam Tanggul Jebol di Demak Telan Korban Jiwa

Paradoks Infrastruktur: Enam Tanggul Jebol di Demak Telan Korban Jiwa

akalmerdeka.id — Tragedi jebolnya enam titik tanggul Sungai Tuntang di Kabupaten Demak pada Jumat, 3 April 2026, menjadi cermin retaknya manajemen infrastruktur air di Jawa Tengah. Bencana ini mengakibatkan dua warga tewas, termasuk seorang anak, serta memaksa 2.839 jiwa mengungsi akibat luapan air yang mencapai ketinggian 140 sentimeter.

Secara intelektual, kegagalan simultan enam titik tanggul di Desa Trimulyo dan Sidoharjo menunjukkan adanya kelemahan struktural yang bersifat sistemik. Fenomena ini bukan sekadar masalah debit air yang ekstrem, melainkan indikasi gap antara tingginya risiko bencana dengan kapasitas pemeliharaan tanggul yang seharusnya menjadi benteng pertahanan utama warga.

Data Kajian Risiko Bencana Nasional (KRBN) mencatat potensi kerugian ekonomi akibat banjir di Demak mencapai Rp9,115 triliun, angka tertinggi di Jawa Tengah. Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur fisik sungai masih rentan jebol, yang secara rasional mempertanyakan efektivitas alokasi anggaran mitigasi bencana selama ini.

Ketimpangan Antara Risiko dan Kesiapsiagaan

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, mengonfirmasi pada Sabtu, 4 April 2026, bahwa ribuan warga kini tersebar di 14 titik pengungsian mulai dari balai desa hingga sekolah. Fokus penanganan saat ini beralih pada pemenuhan logistik dasar dan upaya darurat menutup celah tanggul sepanjang puluhan meter menggunakan karung pasir.

Baca Juga :  Dekonstruksi Seismik Laut Maluku: Menguji Rasionalitas Mitigasi M 7,6

“Ribuan pengungsi tersebut mengungsi ke sejumlah tempat, mulai dari balai desa, kantor kecamatan, tempat ibadah, sekolah, hingga rumah warga,” ujar Agus Sukiyono dalam laporannya mengenai sebaran pengungsi.

Urgensi Audit Struktural dan Mitigasi Berkelanjutan

Kematian Anita Rahmawati (8) yang hanyut terseret arus mempertegas bahwa keterlambatan evakuasi masih menjadi masalah krusial dalam sistem peringatan dini. Penurunan tren genangan air pada Sabtu sore tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan tekanan pada otoritas terkait guna melakukan audit fisik total terhadap sepanjang aliran Sungai Tuntang.

Sejarah banjir berulang pada Januari dan April 2026 dalam satu kuartal membuktikan bahwa Demak telah memasuki fase kritis bencana hidrometeorologi. Dibutuhkan solusi permanen berupa normalisasi sungai dan penguatan tanggul berbasis data teknis terbaru, bukan sekadar penanganan reaktif yang selalu terulang setiap kali musim penghujan tiba.

Penyelesaian masalah banjir di Demak memerlukan kemauan politik yang kuat untuk menyelaraskan indeks kapasitas daerah dengan realitas ancaman alam yang kian ekstrem. Tanpa langkah ini, keselamatan warga akan terus terancam oleh rapuhnya tembok pertahanan fisik yang seharusnya melindungi mereka. ***

Baca Juga :  Dhibra Salurkan Bantuan Terukur bagi Korban Banjir dan Longsor Jateng

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *