Presiden UEFA Absen di Final Piala Dunia, UEFA-FIFA Memanas

Presiden UEFA Absen di Final Piala Dunia, UEFA-FIFA Memanas
Presiden UEFA Aleksander Ceferin

AkalMerdeka.id – Presiden UEFA Aleksander Ceferin absen di final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York New Jersey, Senin, 20 Juli 2026 dini hari WIB. Ketidakhadiran Ceferin disebut sebagai bentuk ketidakpuasan UEFA terhadap sejumlah kebijakan FIFA selama turnamen.

Ceferin sebelumnya menghadiri seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Mexico City. Namun, pria asal Slovenia itu memilih tidak datang pada pertandingan puncak yang mempertemukan wakil Eropa dengan juara bertahan Argentina.

Ceferin Absen di Final Piala Dunia setelah Polemik Balogun

Salah satu persoalan yang memperuncing hubungan UEFA dan FIFA adalah penangguhan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan itu membuat Balogun tetap dapat tampil pada babak 16 besar.

Kontroversi membesar setelah muncul kabar adanya dorongan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar sanksi tersebut dibatalkan. FIFA membantah campur tangan politik dan menyatakan keputusan dibuat oleh Komite Disiplin yang independen.

UEFA tetap menilai keputusan tersebut mencederai kredibilitas kompetisi. Penangguhan hukuman kartu merah dianggap dapat menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi aturan dan perlakuan yang setara bagi seluruh peserta.

Baca Juga :  Swiss vs Kolombia, Data Ketat dan Ancaman Laga Buntu

Masalah Wasit hingga Perubahan Aturan Pertandingan

Hubungan kedua organisasi juga memanas setelah wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal masuk ke Amerika Serikat karena persoalan imigrasi. UEFA kemudian memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin laga Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa.

Perbedaan pandangan turut muncul dalam penerapan hydration break. UEFA dikabarkan menilai jeda tersebut terlalu sering memecah ritme pertandingan dan lebih banyak membuka ruang bagi kepentingan komersial.

Jeda antarbabak pada final yang berlangsung hampir 30 menit juga dipersoalkan. Durasi itu jauh lebih panjang dibanding waktu istirahat normal sekitar 15 menit dalam pertandingan sepak bola.

UEFA juga menyoroti kebijakan harga tiket dengan sistem dynamic pricing. Skema tersebut membuat harga dapat meningkat mengikuti permintaan dan dinilai menyulitkan sebagian pendukung untuk menonton langsung di stadion.

Sebagai pembanding, UEFA menyatakan EURO 2028 tetap akan menyediakan tiket dengan harga lebih terjangkau tanpa menerapkan mekanisme penyesuaian harga seperti yang digunakan FIFA.

Perbedaan Arah Pengelolaan Sepak Bola Global

Ketegangan UEFA dan FIFA tidak hanya berkaitan dengan Piala Dunia 2026. UEFA juga dikabarkan tidak mendukung rencana menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara.

Baca Juga :  Prediksi Argentina vs Aljazair, Juara Bertahan Waspadai Kejutan Les Fennecs

Perbedaan tersebut menggambarkan benturan arah pengelolaan sepak bola global. FIFA terus memperluas turnamen, jangkauan pasar, dan ruang komersial, sedangkan UEFA berusaha mempertahankan ritme pertandingan, kalender kompetisi, serta akses penonton.

Ceferin absen di final Piala Dunia menjadi sinyal terbuka bahwa hubungan kedua organisasi sedang tidak baik. Ketidakhadiran pemimpin UEFA pada laga yang melibatkan Spanyol memperbesar kesan bahwa perselisihan sudah melampaui perbedaan pendapat biasa.

Di tengah polemik tersebut, Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0. Ferran Torres mencetak gol kemenangan pada babak perpanjangan waktu.

Persoalan berikutnya bukan hanya apakah hubungan Ceferin dan Presiden FIFA Gianni Infantino akan membaik. Konsistensi aturan, harga tiket, perluasan peserta, dan kepentingan komersial akan terus menguji hubungan UEFA-FIFA setelah turnamen berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *