Ratusan Santri Keracunan MBG di Sidoarjo, Distribusi Molor

Sidoarjo, AkalMerdeka.id – Santri keracunan MBG di Sidoarjo setelah menyantap makanan yang didistribusikan SPPG Kalitengah ke Ponpes Manba’ul Hikam, Tanggulangin, pada Selasa (1/9/2026). Ratusan santri dan pelajar mengalami mual, muntah, diare, nyeri perut hingga lemas, sementara BGN menemukan distribusi makanan berlangsung lebih dari empat jam dan kini masih menyelidiki penyebab kejadian tersebut.
Kasus mulai terungkap setelah sejumlah santri mengalami gejala beberapa jam setelah menyantap menu MBG. Kondisi mereka memburuk pada sore hari sehingga banyak santri kemudian dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Menu yang dibagikan saat itu terdiri atas nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Gejala yang dilaporkan meliputi nyeri perut, mual, muntah, diare, pusing, lemas hingga sesak napas.
Santri Keracunan MBG di Sidoarjo Ditangani di Sejumlah Rumah Sakit
Jumlah korban dalam kasus ini berubah seiring proses pendataan. Pada tahap awal, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 293 santri dirawat, kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 424 orang dan terus bertambah dalam pembaruan berikutnya.
BGN pada Rabu (2/9) mencatat 512 korban dari Ponpes Manba’ul Hikam. Sementara Dinkes Sidoarjo kemudian melaporkan angka sekitar 566 orang dengan cakupan yang juga memasukkan korban dari sejumlah sekolah di sekitar SPPG Kalitengah.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena pendataan berlangsung secara bertahap dan cakupan korban yang dihitung tidak selalu sama. Sebagian santri juga disebut baru menunjukkan gejala setelah beberapa waktu sehingga jumlah pasien terus berubah selama penanganan.
Selain santri Ponpes Manba’ul Hikam, 27 pelajar dari lembaga pendidikan lain di sekitar lokasi juga mengalami gejala. Mereka berasal dari Ponpes Roisus Shobur, SMA Tri Bakti, dan SMP Tri Bakti.
Hingga pembaruan terbaru pada Kamis (3/9), sebanyak 470 korban telah dipulangkan. Sebagian lainnya masih menjalani observasi atau perawatan, dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Distribusi Makanan MBG Lebih dari Empat Jam
Perkembangan penting muncul dari investigasi BGN terhadap SPPG Kalitengah. Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan terdapat persoalan pada kedisiplinan distribusi makanan yang menyebabkan proses pembagian berlangsung lebih dari empat jam.
“Itu karena ketidakdisiplinan daripada SPPG dan pendistribusian. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan. Tapi faktanya di lapangan lebih dari 4 jam,” kata Ketut dalam keterangan resmi pada Kamis (3/9).
Menurut BGN, waktu distribusi menjadi perhatian karena makanan MBG tidak menggunakan bahan pengawet. Kondisi tersebut membuat makanan lebih mudah mengalami perubahan kualitas apabila terlalu lama berada sebelum dikonsumsi.
“MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi. Mudah bakterinya cepat berkembang,” ujar Ketut.
Temuan mengenai keterlambatan distribusi menjadi bagian dari investigasi, tetapi belum dapat disebut sebagai hasil akhir penyebab keracunan. Sampel makanan telah diserahkan kepada penyidik dan diperiksa oleh Laboratorium Forensik Polri untuk memastikan penyebab kejadian secara ilmiah.
SPPG Kalitengah Disanksi 30 Hari
Seiring penyelidikan berlangsung, BGN menjatuhkan suspensi berat selama 30 hari terhadap SPPG Kalitengah. BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG sebagai tindak lanjut atas persoalan yang ditemukan dalam pengelolaan layanan tersebut.
SPPG Kalitengah sendiri mulai beroperasi pada April 2026 dengan kapasitas hingga 2.800 porsi MBG setiap hari. Makanan dari dapur tersebut didistribusikan ke dua sekolah di lingkungan pondok pesantren serta 19 sekolah swasta dan TK di sekitarnya.
Besarnya cakupan distribusi membuat persoalan di satu dapur dapat berdampak ke banyak penerima manfaat dalam waktu bersamaan. Hal itu terlihat dari munculnya laporan gejala tidak hanya di Ponpes Manba’ul Hikam, tetapi juga pada sejumlah sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG yang sama.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga menemukan persoalan lain dalam pengawasan dapur MBG. Dari 170 SPPG yang berdiri di Kabupaten Sidoarjo, 31 di antaranya disebut belum memiliki izin, meskipun SPPG Kalitengah disebut telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
Labfor Polri Periksa Sampel Makanan
Tim investigasi BGN pusat telah diterjunkan ke lokasi untuk menelusuri kejadian tersebut. Pemeriksaan juga melibatkan kepolisian melalui Labfor Polri yang mengambil dan memeriksa sampel makanan.
Pemeriksaan laboratorium menjadi penting karena dugaan keracunan tidak cukup ditentukan hanya berdasarkan kesamaan gejala atau waktu munculnya keluhan. Hasil pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi tertentu pada makanan yang dikonsumsi para korban.
Di tengah penyelidikan, BGN juga membantah informasi viral yang menyebut terdapat belatung dalam menu MBG yang dibagikan kepada santri. BGN meminta informasi mengenai kejadian tersebut merujuk pada hasil pemeriksaan dan keterangan resmi.
Sementara itu, pemerintah memastikan biaya perawatan korban ditanggung. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak sebelumnya mengunjungi korban di RSUD Notopuro dan memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga menegaskan pemerintah akan menangani kasus tersebut. Hingga Kamis (3/9), sebagian besar korban telah dipulangkan, sedangkan proses pemeriksaan sampel makanan dan investigasi terhadap SPPG Kalitengah masih berlangsung.





