Mahasiswa Turun ke Jalan, Buruh Pilih Tidak Demo, Ini Alasannya

Mahasiswa Turun ke Jalan, Buruh Pilih Tidak Demo, Ini Alasannya

Jakarta, AkalMerdeka.id – Aksi demonstrasi mahasiswa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Jumat (12/6/2026), tidak diikuti oleh kelompok buruh. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh Said Iqbal menegaskan bahwa hingga saat ini kalangan buruh belum memiliki agenda unjuk rasa.

Di tengah protes mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah, buruh justru memilih fokus pada perjuangan revisi regulasi ketenagakerjaan. Menurut Said Iqbal, isu yang saat ini paling mendesak bagi pekerja adalah perlindungan tenaga kerja outsourcing, bukan aksi demonstrasi terkait kondisi ekonomi.

Mengapa Buruh Tidak Bergabung dengan Demo Mahasiswa?

Said Iqbal mengatakan belum adanya rencana aksi dari kelompok buruh berkaitan dengan kondisi yang dinilai berbeda dibanding momentum-momentum demonstrasi sebelumnya.

Salah satu faktor yang disoroti adalah harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite yang tidak mengalami kenaikan.

“Dari kelompok buruh belum ada rencana aksi,” kata Said Iqbal kepada wartawan.

Menurutnya, mayoritas pekerja menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi harian dan masih mengandalkan Pertalite untuk menekan biaya perjalanan ke tempat kerja.

Baca Juga :  Etika Politik Achmad Syahri dan Kegagalan Kaderisasi Legislator Muda

“Karena BBM bersubsidi Pertalite tidak ada kenaikan harga. Hampir semua sepeda motor buruh menggunakan Pertalite,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa biaya transportasi masih menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi respons kelompok buruh terhadap isu ekonomi.

Fokus Buruh Beralih ke Isu Outsourcing

Di saat mahasiswa mengangkat isu ekonomi dan kebijakan pemerintah, kalangan buruh saat ini tengah memusatkan perhatian pada revisi aturan ketenagakerjaan.

Said Iqbal menegaskan bahwa perjuangan terkait pekerja outsourcing menjadi agenda utama yang sedang dikawal organisasi buruh.

“Buruh sedang fokus memperjuangkan revisi Permenaker Nomor 7/2026 tentang Pekerja Outsourcing,” tegasnya.

Bagi pekerja, regulasi outsourcing memiliki dampak langsung terhadap kepastian kerja, perlindungan hak, hingga hubungan kerja antara perusahaan dan tenaga kerja.

Karena itu, isu tersebut dinilai lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari pekerja dibanding agenda demonstrasi yang digelar mahasiswa pada hari ini.

Mahasiswa Bawa 5 Tuntutan ke Bundaran HI

Sementara itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah organisasi kemahasiswaan dan simpul gerakan menggelar aksi demonstrasi di Bundaran HI.

Baca Juga :  Paradoks Komunikasi Publik Rudy Mas’ud di Tengah Krisis Anggaran Kaltim

Aksi tersebut ditujukan sebagai bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menilai kondisi ekonomi yang disampaikan pemerintah belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

“Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat sekarat dihajar pajak. Dan pemerintah? Sibuk memoles citra sambil membagi proyek kepada kroni,” ucap Yatalathof, Kamis (11/6/2026).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa 5 tuntutan utama kepada pemerintah.

  • Penghentian pemborosan APBN.
  • Penurunan harga kebutuhan pokok.
  • Penurunan harga BBM.
  • Penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Penghentian pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.

Kenapa Sikap Buruh dan Mahasiswa Berbeda?

Meski sama-sama sering menyuarakan kepentingan masyarakat, mahasiswa dan buruh tidak selalu bergerak dalam isu yang sama pada waktu yang bersamaan.

Mahasiswa cenderung mengangkat isu yang lebih luas, mulai dari ekonomi, tata kelola pemerintahan, hingga kebijakan publik. Di sisi lain, organisasi buruh biasanya memprioritaskan isu yang berdampak langsung pada pekerja, seperti upah, jaminan sosial, hubungan kerja, dan perlindungan tenaga kerja.

Baca Juga :  Kekerasan Seksual UPNVY: Evaluasi Relasi Kuasa dan Inkonsistensi Sanksi

Perbedaan fokus inilah yang membuat aksi mahasiswa di Bundaran HI kali ini tidak diikuti oleh kelompok buruh.

Meski tidak turun ke jalan, pernyataan Said Iqbal menunjukkan bahwa organisasi buruh tetap aktif mengawal kebijakan pemerintah, hanya saja melalui agenda yang berbeda. Saat ini, perhatian mereka tertuju pada revisi aturan outsourcing yang dinilai lebih mendesak bagi jutaan pekerja di berbagai sektor.

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *