Demo Mahasiswa UI di Bundaran HI Soroti Rupiah dan Kenaikan BBM

AkalMerdeka.id – Ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bersama sejumlah kampus lain menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026). Aksi bertajuk “Aksi Menuju Indonesia Bangkrut” itu membawa lima tuntutan kepada pemerintah, mulai dari isu pelemahan rupiah hingga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Aksi yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI tersebut berlangsung di tengah sorotan terhadap kondisi ekonomi nasional, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Mahasiswa Bawa Lima Tuntutan ke Bundaran HI
Berdasarkan pernyataan resmi BEM UI, terdapat lima tuntutan utama yang disuarakan dalam demonstrasi tersebut.
- Menghentikan pemborosan APBN dan mengalihkan anggaran ke kebutuhan masyarakat.
- Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
- Menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
- Menghentikan militerisme di ranah sipil.
- Mendesak Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah dan tidak mengabaikan kritik publik.
Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan sebelumnya menyatakan kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan utama lahirnya tuntutan tersebut.
“Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi entah mengapa rakyatnya tidak kunjung sejahtera. Indonesia adalah negara besar, tetapi entah mengapa perut rakyatnya belum bebas dari rasa lapar.”
Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Pertamax Jadi Pemicu
Aksi mahasiswa berlangsung setelah rupiah sempat bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga BBM nonsubsidi yang cukup tajam.
Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Bagi mahasiswa, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga barang dan kebutuhan sehari-hari.
Inilah yang membuat isu ekonomi menjadi pusat perhatian dalam demonstrasi kali ini, berbeda dengan banyak aksi mahasiswa sebelumnya yang lebih dominan mengangkat isu politik atau legislasi.
Jumlah Massa dan Pengamanan Jadi Sorotan
Sejumlah laporan menunjukkan adanya perbedaan estimasi jumlah peserta aksi. Sebagian laporan sebelumnya memperkirakan sekitar 1.500 mahasiswa akan turun ke jalan.
Namun berdasarkan pendataan terbaru menjelang hari pelaksanaan, pihak BEM UI memperkirakan massa yang hadir mencapai sekitar 500 orang dari UI, dengan kemungkinan tambahan peserta dari kampus lain seperti IPB, PNJ, Universitas Pancasila, UPN Veteran Jakarta, dan STT Nurul Fikri.
Perbedaan angka tersebut diduga muncul karena pembaruan data peserta menjelang hari aksi, bukan karena adanya perbedaan versi kejadian di lapangan.
Di sisi lain, aparat keamanan mengerahkan ribuan personel gabungan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Beberapa laporan menyebut jumlah personel berada pada kisaran 3.099 hingga 4.151 anggota TNI-Polri, tergantung cakupan pengamanan yang dihitung.
Pemerintah dan Polisi Minta Aksi Berjalan Tertib
Sebelum aksi berlangsung, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah menghargai setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa.
“Pemerintah menghargai aspirasi dan masukan, namun persoalan perekonomian Indonesia saat ini tidak mudah untuk diatasi. Tentu dipengaruhi oleh banyak faktor.”
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau mahasiswa tetap menyampaikan pendapat secara tertib. Polda Metro Jaya juga menerapkan rekayasa lalu lintas situasional di kawasan Sudirman-Thamrin guna mengantisipasi kepadatan kendaraan.
Mengapa Demo Ini Penting?
Demonstrasi BEM UI tidak hanya berbicara mengenai satu kebijakan tertentu. Aksi ini mencerminkan kekhawatiran mahasiswa terhadap tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, mulai dari nilai tukar rupiah, harga BBM, hingga biaya hidup yang terus menjadi perhatian publik.
Di sisi lain, aksi tersebut juga memperlihatkan munculnya solidaritas lintas kampus dalam merespons isu ekonomi nasional. Jika kondisi yang menjadi sumber tuntutan belum mengalami perubahan signifikan, tekanan publik terhadap pemerintah berpotensi terus berlanjut melalui berbagai kanal, termasuk gerakan mahasiswa.
Hingga aksi berlangsung pada Jumat siang, belum terdapat respons resmi dari Presiden Prabowo Subianto yang secara khusus menjawab lima tuntutan BEM UI tersebut.





