Berkali-kali Didata, Bantuan Tak Kunjung Datang, Keluarga OAP Merauke Akhirnya Dapat Rumah Layak Huni

Berkali-kali Didata, Bantuan Tak Kunjung Datang, Keluarga OAP Merauke Akhirnya Dapat Rumah Layak Huni
Rumah Syukur Papua - dok Opshid Media

Merauke, AkalMerdeka.id – Penantian panjang keluarga Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, akhirnya berbuah rumah layak huni. Namun, bantuan yang selama bertahun-tahun dinantikan itu baru datang setelah kepala keluarga, David Pakaimu, meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya.

David Pakaimu wafat pada usia 57 tahun, sekitar dua pekan sebelum peletakan Batu Syukur sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah baru bagi keluarganya. Ia meninggalkan sang istri, Chrinsesia Yolmen (68), beserta keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Semasa hidupnya, David bekerja sebagai pekebun dan memelihara beberapa ekor ayam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bersama istrinya, ia juga merawat cucu-cucu mereka setelah kedua putra mereka meninggal lebih dahulu.

Berkali-kali Didata, Bantuan Tak Pernah Terealisasi

Keluarga David mengaku rumah mereka sudah beberapa kali didatangi berbagai pihak yang menjanjikan bantuan. Rumah tersebut didata dan difoto berulang kali, tetapi bantuan yang dijanjikan tidak pernah terwujud.

Tahun demi tahun berlalu tanpa kepastian. Sementara itu, kondisi rumah terus memburuk hingga akhirnya David jatuh sakit akibat stroke dan kemudian meninggal dunia.

Baca Juga :  Data Arkeologi Tegaskan Teknologi Pelayaran Nusantara Sudah Mapan 40 Ribu Tahun Silam

Kisah ini menggambarkan persoalan yang masih kerap ditemui di sejumlah daerah, yakni adanya proses pendataan yang belum selalu diikuti realisasi bantuan dalam waktu yang jelas. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, keterlambatan tersebut dapat memperpanjang masa tinggal di rumah yang tidak lagi aman.

Rumah Lama Tak Lagi Layak Dihuni

Rumah papan yang ditempati keluarga David telah lapuk dimakan usia. Tiang penyangga mulai keropos sehingga bangunan tampak miring, sementara sebagian dinding terlepas dan atap bocor di hampir seluruh ruangan.

Kondisi tersebut membuat rumah tidak lagi memberikan rasa aman bagi penghuninya, terlebih ketika musim hujan datang.

Di tengah kondisi itu, Program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) menetapkan keluarga David sebagai penerima bantuan rumah layak huni. Program tersebut sekaligus menjadi pembangunan Rumah Syukur pertama di tanah Papua.

Rumah Baru Tetap Dibangun Meski David Telah Berpulang

Kepergian David tidak menghentikan proses pembangunan. Keluarga tetap menjadi penerima manfaat, sementara rumah baru mulai berdiri di atas lahan yang sama.

Baca Juga :  Pesawat PK-RCY Insiden di Balinggama, Pilot Dilaporkan Meninggal

Selama pembangunan berlangsung, istri, menantu, dan cucu-cucu David tinggal sementara di bangunan belakang yang sebelumnya difungsikan sebagai dapur sederhana.

Rumah itu memang tidak sempat dihuni David. Namun, bagi keluarganya, bangunan tersebut menjadi wujud harapan yang selama bertahun-tahun mereka tunggu.

Bantuan Diberikan Tanpa Memandang Agama

Dalam proses pembangunan, keluarga sempat menyampaikan pertanyaan yang muncul karena pengalaman mereka selama ini. Mereka ingin memastikan apakah setelah rumah selesai dibangun, mereka akan diminta berpindah keyakinan menjadi Islam.

Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Ketua DHIBRA Daerah Papua, Muhammad Anwar.

“Program ini menjadi media untuk menjembatani kesenjangan sosial antara pendatang dan warga asli Papua, antara Muslim dan non-Muslim, serta antara warga Shiddiqiyyah maupun di luar Shiddiqiyyah. Kami hanya menjalankan dawuh Sang Mursyid untuk membantu sesama warga Indonesia yang membutuhkan,” ujarnya.

Anwar menegaskan, bantuan diberikan semata-mata karena keluarga tersebut membutuhkan rumah yang layak, bukan untuk mengubah keyakinan penerima manfaat.

Kenapa Kisah Ini Penting?

Kisah keluarga David memperlihatkan bahwa kebutuhan akan rumah layak huni tidak hanya berkaitan dengan bangunan fisik, tetapi juga menyangkut rasa aman, martabat, dan kepastian hidup sebuah keluarga.

Baca Juga :  Intimidasi Aktivis Bencana Sumatera, Kompolnas Nilai Ancaman Demokrasi

Di sisi lain, cerita ini menjadi pengingat bahwa proses pendataan bantuan sosial perlu diikuti realisasi yang tepat waktu. Ketika bantuan baru hadir setelah penantian bertahun-tahun, bahkan setelah kepala keluarga meninggal dunia, nilai kemanusiaan di balik sebuah program menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Program Rumah Syukur di Merauke juga memperlihatkan bahwa kolaborasi sosial dapat menjangkau masyarakat tanpa membedakan suku maupun agama. Pendekatan seperti ini berpotensi memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus mempererat hubungan antarkelompok di wilayah yang memiliki keragaman budaya dan keyakinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *