11 Gunung Api Erupsi Sepanjang 2026, Indonesia Berada di Cincin Api

AkalMerdeka.id – Erupsi gunung kembali menjadi bagian dari aktivitas kebencanaan Indonesia sepanjang 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat 11 gunung api aktif mengalami erupsi, dengan aktivitas tersebar dari Sumatera hingga Maluku Utara.
Data tersebut menunjukkan tingginya aktivitas vulkanik di Indonesia yang berada pada jalur Cincin Api. Badan Geologi menyebut pemantauan dan mitigasi terus dilakukan untuk mengurangi potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar gunung api aktif.
Erupsi Gunung Tersebar dari Sumatera hingga Maluku Utara
Gunung-gunung api yang mengalami erupsi sepanjang 2026 berada dalam dua tingkat aktivitas, yakni Level III Siaga dan Level II Waspada. Perbedaan status tersebut menunjukkan tingkat aktivitas dan potensi bahaya yang harus terus dipantau oleh otoritas.
Di antara gunung api yang berada pada Level III Siaga terdapat Gunung Anak Krakatau, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Semeru, Gunung Merapi, dan Gunung Sinabung. Kelimanya mencatat aktivitas erupsi atau awan panas dengan jumlah yang berbeda sepanjang tahun ini.
Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 243 kali erupsi atau letusan, sedangkan Gunung Lewotobi Laki-laki mengalami 790 kali erupsi atau letusan. Gunung Semeru mencatat aktivitas paling menonjol di kelompok ini dengan 20.326 kali erupsi dan 55 kali awan panas.
Gunung Merapi tercatat mengalami 115 kali awan panas, sementara Gunung Sinabung mengalami dua kali erupsi atau letusan. Data tersebut menggambarkan bahwa aktivitas vulkanik setiap gunung memiliki karakter dan frekuensi yang berbeda.
Gunung Level Waspada Juga Aktif Erupsi
Aktivitas erupsi gunung tidak hanya terjadi pada gunung api berstatus Siaga. Badan Geologi juga mencatat enam gunung api Level II Waspada mengalami erupsi atau letusan sepanjang 2026.
Gunung Ili Lewotolok tercatat mengalami 24.442 kali erupsi atau letusan, sedangkan Gunung Ibu mencatat 25.556 kali. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan frekuensi erupsi yang tercatat pada sejumlah gunung dengan status Level III.
Selanjutnya, Gunung Dukono mengalami 8.216 kali erupsi atau letusan. Gunung Marapi tercatat mengalami 51 kali erupsi, Gunung Dempo tiga kali, dan Gunung Karangetang satu kali erupsi atau letusan.
Besarnya frekuensi aktivitas tersebut tidak dapat dibaca hanya dari jumlah letusan. Status gunung api tetap menjadi salah satu indikator penting karena tingkat ancaman ditentukan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik dan potensi bahaya di masing-masing gunung.
Cincin Api Membuat Erupsi Gunung Jadi Risiko Berkelanjutan
Indonesia memiliki banyak gunung api aktif karena berada di jalur Cincin Api yang membentang dari Sumatera hingga Maluku Utara. Kondisi geologi tersebut membuat aktivitas vulkanik menjadi salah satu risiko bencana yang harus dihadapi secara berkelanjutan.
Karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan ketika gunung mengalami letusan besar. Perubahan aktivitas vulkanik perlu terus diamati agar perkembangan kondisi gunung dapat diketahui dan langkah mitigasi dapat disiapkan ketika potensi bahaya meningkat.
Badan Geologi menegaskan pemantauan dan mitigasi terus dilakukan secara berkelanjutan. “Data Badan Geologi selama tahun 2026 tercatat sebelas (11) gunung api aktif mengalami erupsi. Mitigasi dan monitoring terus diupayakan oleh Badan Geologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi bahaya dari erupsi gunungapi di Indonesia,” terang Badan Geologi melalui akun Instagram resminya @badan.geologi, dikutip Rabu (9/9/2026).





