Anatomi Protes Harkitnas: Devaluasi Rupiah dan Gugatan Struktural Koalisi Sipil

Anatomi Protes Harkitnas: Devaluasi Rupiah dan Gugatan Struktural Koalisi Sipil

akalmerdeka.id — Momentum Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026 bertransformasi menjadi panggung gugatan struktural koalisi sipil atas pemburukan indikator ekonomi makro domestik. Ribuan massa dari elemen pendidik dan mahasiswa mengepung Kompleks Parlemen Senayan serta kawasan Monas di tengah jatuhnya nilai tukar rupiah ke level Rp17.706 per dolar AS.

Aksi massa kali ini merefleksikan akumulasi ketidakpuasan publik terhadap daya beli yang tergerus akibat inflasi sektor riil. Realitas lapangan ini meruntuhkan narasi stabilitas ekonomi normatif yang kerap diproduksi oleh otoritas birokrasi pemerintahan.

Kontradiksi sosiologis mengemuka secara gamblang ketika rancangan pembiayaan negara triliunan rupiah dibahas di ruang paripurna, sementara instabilitas upah diprotes di luar gerbang. Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanfaatkan momentum ini untuk mengkritik keras prioritas pembangunan belanja pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kedaruratan domestik. “Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Dalam situasi seperti ini yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal: kepastian,” tulisnya via akun Instagram @aniesbaswedan, Rabu, 20 Mei 2026.

Baca Juga :  Premanisme di Cikini: Bro Ron Dipukul Saat Advokasi Dana Rp9 Miliar

Kritik tajam tersebut mengonfirmasi adanya defisit keteladanan dalam pengelolaan fiskal di tengah krisis. Kebijakan pemangkasan subsidi secara tidak langsung memaksa masyarakat kelas pekerja mengencangkan ikat pinggang.

Skala eskalasi gerakan memaksa Polda Metro Jaya mengerahkan hingga 14.237 personel gabungan bersenjata lengkap demi mengamankan ring satu pemerintahan. Penjagaan super ketat di enam titik strategis ibu kota mengindikasikan adanya kekhawatiran sistemik terhadap potensi kelumpuhan administratif. Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Dekananto Eko Purwono menginstruksikan seluruh jajarannya untuk memitigasi provokasi di barikade terdepan secara taktis.

Resistensi yang digalang oleh BEM SI Kerakyatan di kawasan Monas mempertegas tuntutan pengesahan regulasi penegakan hukum seperti RUU Perampasan Aset. Konsistensi demonstrasi pasca-May Day ini membuktikan bahwa gerakan sipil di tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran tidak lagi bersifat musiman. ***

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *