BPS Penduduk Miskin Turun Jadi 22,93 Juta Orang, Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen

AkalMerdeka.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk pada Maret 2026. Pada periode yang sama, ekonomi Indonesia juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026, menunjukkan perbaikan sejumlah indikator ekonomi dan sosial.
Data terbaru tersebut diumumkan BPS dalam konferensi pers di Jakarta. Selain mencatat penurunan jumlah penduduk miskin dibandingkan September 2025, BPS juga memaparkan sektor-sektor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang kuartal II tahun ini.
Jumlah Penduduk Miskin Berkurang 430 Ribu Orang
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud mengatakan jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang. Angka tersebut turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025.
Meski jumlahnya menurun, persebaran penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi ini sejalan dengan besarnya jumlah penduduk yang tinggal di wilayah tersebut sehingga kontribusinya terhadap total penduduk miskin nasional masih menjadi yang terbesar.
“Yang pertama jumlah penduduk miskin masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yaitu sebanyak 12,02 juta atau sekitar 52,42 persen dari keseluruhan penduduk miskin yang ada di Indonesia,” kata Edy dalam konferensi pers, Selasa (5/8/2026).
Sebaliknya, Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit, yakni sekitar 870 ribu orang atau 3,79 persen dari total penduduk miskin nasional.
Persebaran Penduduk Miskin di Indonesia
BPS merinci jumlah penduduk miskin di setiap wilayah sebagai berikut:
- Jawa: 12,02 juta orang (52,42 persen).
- Sumatera: 5 juta orang (21,81 persen).
- Bali dan Nusa Tenggara: 1,83 juta orang (7,98 persen).
- Sulawesi: 1,77 juta orang (7,72 persen).
- Maluku dan Papua: 1,44 juta orang (6,28 persen).
- Kalimantan: 870 ribu orang (3,79 persen).
Edy menambahkan tingkat kemiskinan mengalami penurunan di seluruh wilayah Indonesia dibandingkan September 2025. Penurunan terdalam terjadi di Pulau Jawa sebesar 0,21 persen.
“Jika dibandingkan dengan September 2025 penurunan tingkat kemiskinan terjadi di semua wilayah di Indonesia, penurunan paling dalam terjadi di Pulau Jawa yaitu turun sebesar 0,21 persen,” ujarnya.
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen
Pada kesempatan yang sama, BPS mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I-2025.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 bila dibandingkan triwulan II 2025 atau YoY tumbuh 5,29 persen,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud.
BPS mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal II-2026 mencapai Rp 6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp 3.576,2 triliun.
Lima Sektor Jadi Penopang Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi nasional terutama ditopang oleh lima lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia.
- Industri pengolahan.
- Pertanian.
- Perdagangan.
- Konstruksi.
- Pertambangan.
Menurut BPS, kelima sektor tersebut menyumbang sekitar 63,73 persen terhadap total PDB Indonesia, sehingga menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi sepanjang kuartal II-2026.
“Lapangan usaha pertama yang memberikan kontribusi besar kepada PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Total kelima lapangan tersebut mencakup sekitar 63,73 persen dari total PDB Indonesia,” kata Edy.





