Dari Singapura hingga AS, Ini 5 Negara Kreditur Terbesar Indonesia

AkalMerdeka.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 439,8 miliar atau sekitar Rp 7.916,4 triliun per April 2026. Di balik angka tersebut, terdapat sejumlah negara yang menjadi kreditur utama Indonesia, dengan Singapura masih menempati posisi teratas.
Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia yang dirilis BI, lima negara kreditur terbesar Indonesia adalah Singapura, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Hong Kong. Kelima negara tersebut menjadi sumber pembiayaan penting bagi sektor pemerintah maupun swasta.
Daftar 5 Negara Kreditur Terbesar Indonesia
Berikut lima negara yang tercatat sebagai kreditur terbesar Indonesia per April 2026:
| Negara | Nilai Utang |
|---|---|
| Singapura | US$ 52,18 miliar |
| Amerika Serikat | US$ 27,99 miliar |
| Tiongkok | US$ 25,44 miliar |
| Jepang | US$ 20,90 miliar |
| Hong Kong | US$ 19,43 miliar |
Dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS, nilai utang Indonesia kepada Singapura setara sekitar Rp 923,82 triliun. Angka tersebut menjadikan Singapura sebagai kreditur terbesar Indonesia dengan selisih yang cukup jauh dibanding negara lainnya.
Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh pada April 2026
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan posisi utang luar negeri Indonesia pada April 2026 tumbuh 1,9 persen secara tahunan.
“Posisi ULN Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 439,8 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh sebesar 1,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 1,0 persen (yoy),” ujar Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (15/6/2026).
Menurut BI, kenaikan tersebut terutama dipengaruhi pertumbuhan utang luar negeri sektor publik di tengah kontraksi utang luar negeri sektor swasta yang masih berlanjut.
Utang Pemerintah Masih Mendominasi
Posisi utang luar negeri pemerintah tercatat sebesar US$ 216,4 miliar atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Meski masih meningkat, laju pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,8 persen.
Bank Indonesia menjelaskan perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah yang melambat.
Dana yang berasal dari pembiayaan luar negeri tersebut digunakan untuk berbagai sektor produktif, antara lain:
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22 %)
- Administrasi pemerintahan dan jaminan sosial wajib (20,5 %)
- Pendidikan (16,2 %)
- Konstruksi (11,5 %)
- Transportasi dan pergudangan (8,5 %)
Di sisi lain, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan arus masuk bersih atau net inflow yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Utang Swasta Masih Mengalami Kontraksi
Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$ 193,2 miliar atau mengalami kontraksi 0,7 persen secara tahunan. Meski masih menurun, kondisi tersebut lebih baik dibandingkan Maret 2026 yang mengalami kontraksi 1,4 persen.
Kontraksi terutama berasal dari kelompok lembaga keuangan yang mencatat penurunan utang luar negeri sebesar 5 persen secara tahunan.
Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang 79,6 persen dari total utang luar negeri swasta.
BI Sebut Struktur Utang Indonesia Masih Sehat
Meski nilai utang luar negeri Indonesia mendekati Rp 8.000 triliun, Bank Indonesia menilai kondisi tersebut masih terkendali.
Penilaian itu didasarkan pada rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil di level 29,6 persen pada April 2026. Selain itu, utang jangka panjang masih mendominasi dengan porsi 84,5 persen dari total utang luar negeri Indonesia.
“Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Ramdan.
Data tersebut menunjukkan bahwa Singapura masih menjadi mitra pembiayaan terbesar Indonesia. Namun secara keseluruhan, struktur utang luar negeri Indonesia masih didominasi utang jangka panjang yang dinilai lebih aman dibandingkan utang berjangka pendek dalam menjaga stabilitas pembiayaan ekonomi.





