Kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang Minta Diuji, Buku Surabaya Masuk Sekolah

Kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang Minta Diuji, Buku Surabaya Masuk Sekolah

Surabya, AkalMerdeka.id – Kelahiran Bung Karno di Ploso kembali diajukan sebagai narasi tandingan setelah Pemkot Surabaya menyiapkan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo untuk pembelajaran sekolah. Pegiat sejarah Ploso, Jombang, meminta arsip dan dokumen lain tetap diuji terbuka agar sejarah tidak berhenti pada satu versi.

Pemkot Surabaya sebelumnya meluncurkan buku yang menyimpulkan Presiden Pertama RI Soekarno lahir di Surabaya. Buku itu akan disebarkan ke sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di bawah kewenangan Pemkot Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan penyebaran buku tersebut akan dilakukan secara luas. Ia juga meminta Dinas Pendidikan menyiapkan waktu khusus untuk membahas isi buku dalam pembelajaran sejarah.

“Dengan segala kerendahan hati saya, kita akan masifkan penyebaran buku ini di Kota Surabaya,” kata Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

Kelahiran Bung Karno di Ploso Kembali Diajukan

Langkah Surabaya itu memicu kembali perdebatan lama tentang lokasi kelahiran Bung Karno. Di Ploso, Jombang, pegiat sejarah masih mendorong pengakuan situs kelahiran Soekarno sebagai cagar budaya.

Pegiat sejarah Binhad Nurrohmat mengajukan narasi berbeda melalui buku Titik Nol Soekarno—Ploso 1902: Awal Riwayat Bapak Bangsa Indonesia. Buku itu memuat pembacaan atas dokumen, catatan keluarga, jejak pendidikan, dan riwayat lokal yang menurutnya mengarah ke Ploso.

Baca Juga :  Kasus Impor HP Bekas Ilegal, 30 Pegawai Bea Cukai Juanda Diperiksa

Menurut Binhad, narasi Surabaya perlu diuji karena wilayah Ploso pada masa kolonial memiliki hubungan administratif dengan Keresidenan Surabaya. Ia menilai kata “Soerabaja” dalam dokumen kolonial tidak otomatis berarti Kota Surabaya dalam batas administrasi modern.

Salah satu dokumen yang dipersoalkan adalah besluit mutasi Raden Soekemi tertanggal 28 Desember 1901. Dokumen itu disebut mencantumkan penugasan Soekemi di School der 2de Klasse te Ploso (Soerabaja).

Surabaya Pegang Autobiografi dan Riset Tim Penulis

Buku Sejarah Aku Arek Suroboyo
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan buku “Bung Karno: Aku Arek Suroboyo” di Balai Budaya Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Kamis (25/6/2026) – dok Pemkot Surabaya

Di sisi lain, tim penulis buku Surabaya menyatakan riset dilakukan melalui penelusuran arsip di dalam dan luar negeri. Buku itu ditulis Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta.

Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menyebut salah satu pijakan riset berasal dari autobiografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams.

“Di dalam buku otobiografi beliau yang ditulis oleh Cindy Adams, beliau dengan jelas menyebutkan bahwa lahir di Surabaya,” kata Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro.

Baca Juga :  Paradoks Dapur Bersih: Nalar Kritis di Balik Keracunan Massal Surabaya

Eri Cahyadi juga menyatakan buku tersebut menjadi penegasan bahwa Soekarno lahir di Surabaya. Selain soal tempat kelahiran, Pemkot Surabaya ingin memakai buku itu untuk mengenalkan nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda.

Ruang Kelas dan Uji Arsip Sejarah

Perdebatan ini menjadi lebih penting karena buku versi Surabaya akan masuk ke ruang kelas. Ketika materi sejarah diajarkan kepada siswa, cara membaca sumber harus ikut dijelaskan, bukan hanya hasil akhirnya.

Ada beberapa titik yang layak diuji secara terbuka, mulai dari kedekatan dokumen dengan peristiwa, waktu penyusunan arsip, konteks administrasi kolonial, hingga keaslian dan konsistensi sumber.

Versi SurabayaVersi Ploso
Berangkat dari autobiografi, arsip, dan riset tim penulis buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo.Berangkat dari besluit penugasan Raden Soekemi, catatan keluarga, jejak lokal, dan buku Titik Nol Soekarno—Ploso 1902.
Menegaskan Soekarno lahir di Surabaya dan ingin memasukkannya ke pembelajaran sekolah.Meminta pembacaan istilah “Soerabaja” dalam dokumen kolonial tidak disamakan langsung dengan Kota Surabaya hari ini.
Baca Juga :  Regimen 6 Bulan TBC Bandung dan Opsi 4 Bulan

Sampai kini, belum ada penetapan resmi pemerintah yang mengakui Ploso sebagai situs kelahiran Soekarno. Namun, belum adanya penetapan tidak otomatis menutup ruang pengujian terhadap arsip yang diajukan pihak Ploso.

Kelahiran Bung Karno di Ploso menjadi isu sensitif karena menyangkut memori sejarah, identitas lokal, dan cara negara mengajarkan tokoh nasional kepada generasi muda. Jika sekolah hanya menerima satu kesimpulan tanpa menjelaskan proses risetnya, siswa kehilangan kesempatan memahami bagaimana sejarah bekerja.

Perbedaan sumber sebaiknya tidak diperlakukan sebagai gangguan, melainkan pintu masuk untuk belajar berpikir kritis. Dengan begitu, pembelajaran tentang Bung Karno tidak hanya menghafal tempat lahir, tetapi juga memahami cara bukti sejarah diuji.

Karena itu, Kelahiran Bung Karno di Ploso tetap perlu ditempatkan dalam forum akademik dan arsip yang terbuka. Sejarah yang diajarkan di sekolah akan lebih kuat jika lahir dari pengujian sumber yang jernih, bukan dari penegasan sepihak.

Egi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *