Jerman Gagal ke DK PBB, Tradisi Kemenangan 50 Tahun Terputus

AkalMerdeka.id – Jerman gagal memenangkan kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) periode 2027–2028 dalam pemungutan suara Majelis Umum PBB pada 3 Juni 2026 di New York. Kekalahan ini mengakhiri rekor sempurna Berlin yang sebelumnya selalu berhasil dalam enam pencalonan sejak 1977.
Portugal dan Austria merebut dua kursi untuk kelompok Eropa Barat dan Negara Lainnya (WEOG), masing-masing dengan 134 dan 131 suara. Sementara Jerman hanya memperoleh 104 suara dan tersingkir dari persaingan.
Quick Answer: Hasil Pemilihan DK PBB 2027–2028
Majelis Umum PBB memilih lima anggota tidak tetap baru untuk masa jabatan 2027–2028.
| Negara | Perolehan Suara | Grup Regional |
|---|---|---|
| Zimbabwe | 182 | Afrika |
| Trinidad & Tobago | 181 | Amerika Latin dan Karibia |
| Portugal | 134 | WEOG |
| Austria | 131 | WEOG |
| Kyrgyzstan | 142 | Asia-Pasifik |
Kyrgyzstan memastikan kemenangan setelah melalui tiga putaran tambahan melawan Filipina. Lima negara tersebut akan menggantikan Denmark, Yunani, Pakistan, Panama, dan Somalia mulai 1 Januari 2027.
Jerman Gagal untuk Pertama Kalinya
Kekalahan ini menjadi catatan bersejarah bagi diplomasi Jerman. Sebelumnya, negara tersebut selalu memenangkan pencalonan anggota tidak tetap DK PBB pada periode 1977–1978, 1987–1988, 1995–1996, 2003–2004, 2011–2012, dan 2019–2020.
Dalam pemilihan kali ini, Jerman harus menghadapi persaingan langsung dengan Portugal dan Austria untuk dua kursi WEOG. Hasil akhir menunjukkan Portugal memperoleh 134 suara, Austria 131 suara, sedangkan Jerman hanya meraih 104 suara.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengakui hasil tersebut sebagai kekalahan yang menyakitkan.
“Hasil ini jelas merupakan kekecewaan besar. Ini kekalahan yang pahit. Persaingan berlangsung sangat ketat. Jerman masuk terlambat sehingga kami berada pada posisi yang kurang menguntungkan sejak awal, dan hari ini terlihat jelas bahwa ketertinggalan itu tidak mungkin dikejar.” ujar Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul.
Empat Faktor yang Disebut Mempengaruhi Kekalahan Jerman
Beberapa faktor muncul dalam analisis pasca-pemungutan suara.
1. Kampanye Pencalonan Terlambat
Menurut Wadephul, Jerman baru mengumumkan pencalonannya pada 2019. Dalam diplomasi multilateral PBB, pencalonan biasanya dipersiapkan bertahun-tahun sebelumnya untuk membangun dukungan dari 193 negara anggota.
Austria, misalnya, telah mendeklarasikan pencalonannya sekitar 15 tahun sebelum pemungutan suara berlangsung.
2. Posisi Jerman terhadap Ukraina
Wadephul juga menyinggung dukungan kuat Jerman terhadap Ukraina sebagai salah satu faktor yang memengaruhi dinamika pemilihan.
“Kami memberikan dukungan yang sangat kuat kepada Ukraina. Bukan rahasia lagi bahwa Rusia tidak menginginkan suara seperti itu berada di meja Dewan Keamanan dan berkampanye melawan kami.” kata Wadephul.
Hingga kini tidak ada respons resmi dari Rusia terhadap pernyataan tersebut.
3. Sikap terhadap Konflik Timur Tengah
Pejabat Jerman menilai posisi negaranya terhadap Israel tidak selalu sejalan dengan pandangan seluruh anggota PBB.
Di sisi lain, Austria dan Portugal menjalankan pendekatan yang lebih netral dalam kampanye mereka. Strategi tersebut dinilai lebih mudah diterima oleh berbagai kelompok negara, termasuk negara-negara berkembang dan anggota Gerakan Non-Blok.
4. Persaingan yang Lebih Ketat
Pemilihan kali ini berbeda dibanding pencalonan Jerman sebelumnya. Berlin menghadapi pertarungan tiga arah yang kompetitif dan gagal mengamankan dukungan mayoritas yang dibutuhkan.
Komposisi Lengkap DK PBB Mulai 2027
Lima anggota tetap DK PBB tetap tidak berubah, yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, dan Rusia yang memiliki hak veto.
Sementara itu, anggota tidak tetap yang akan bertugas hingga akhir 2027 adalah Bahrain, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Latvia, dan Liberia.
Mulai Januari 2027, Zimbabwe, Trinidad & Tobago, Portugal, Austria, dan Kyrgyzstan akan bergabung sebagai anggota baru hingga akhir 2028.
Mengapa Kekalahan Jerman Penting?
Kursi anggota tidak tetap DK PBB tidak memiliki hak veto, tetapi tetap menjadi instrumen penting dalam diplomasi global. Anggota tidak tetap ikut menentukan agenda, perundingan resolusi, pembahasan konflik internasional, hingga pembentukan sanksi yang berdampak luas.
Karena itu, kekalahan Jerman bukan sekadar kehilangan kursi dua tahun. Hasil ini menjadi indikator tentang seberapa kuat dukungan diplomatik yang mampu dihimpun sebuah negara di tingkat global.
Bagi Berlin, hasil pemungutan suara ini juga menjadi evaluasi terhadap strategi diplomasi multilateral yang selama ini menjadi salah satu pilar kebijakan luar negerinya.
Dalam jangka pendek, Jerman kehilangan kesempatan berada langsung di ruang pengambilan keputusan DK PBB pada periode 2027–2028. Dalam jangka panjang, hasil ini dapat mendorong Berlin membangun kampanye internasional yang lebih awal dan lebih luas jika kembali mencalonkan diri pada masa mendatang.
Ironi Diplomatik di Markas PBB
Pemungutan suara ini menghadirkan momen yang tidak biasa. Sidang dipimpin oleh Presiden Majelis Umum PBB ke-80, Annalena Baerbock, yang sebelumnya menjabat Menteri Luar Negeri Jerman.
Baerbock memimpin proses penghitungan suara dan mengumumkan hasil yang memastikan kemenangan Portugal dan Austria, sekaligus mengonfirmasi kegagalan negaranya sendiri memperoleh kursi DK PBB.




