Rupiah Tembus Rp18.000, Mengapa Intervensi Bank Indonesia Belum Mampu Membalikkan Tren?

Rupiah Tembus Rp18.000, Mengapa Intervensi Bank Indonesia Belum Mampu Membalikkan Tren?

AkalMerdeka.id – Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor pelemahan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis, 4 Juni 2026. Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah bergerak di kisaran Rp18.001 hingga Rp18.013 per dolar AS, melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Pelemahan ini terjadi di tengah upaya agresif Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas pasar. Bahkan, bank sentral mengakui telah menggelontorkan sekitar USD10 miliar dari cadangan devisa untuk intervensi sejak awal 2026. Namun hingga memasuki Juni, tekanan terhadap mata uang Garuda belum menunjukkan tanda mereda.

Rupiah Terus Tertekan Sejak Awal Tahun

Perjalanan pelemahan rupiah berlangsung bertahap tetapi konsisten. Pada Desember 2025, kurs masih berada di level Rp16.601 per dolar AS. Memasuki Februari 2026, sentimen investor mulai berubah setelah sejumlah lembaga internasional memberikan sinyal kehati-hatian terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Moody’s lebih dulu merevisi outlook kredit Indonesia menjadi negatif. Tidak lama kemudian, Fitch Ratings mengikuti langkah serupa dengan menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif.

Tekanan tersebut beriringan dengan keluarnya dana asing dari pasar domestik. Sepanjang Maret hingga April 2026, arus keluar modal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp19,47 triliun.

Pada awal April, rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, tren pelemahan berlangsung hampir tanpa jeda hingga akhirnya menembus Rp18.000 pada awal Juni.

Faktor Eksternal Masih Mendominasi

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut tekanan utama berasal dari meningkatnya arus keluar modal dari negara berkembang.

Baca Juga :  Menkeu Purbaya Gunakan APBN Sebagai Peredam Gejolak Harga Minyak Dunia

Investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat. Kondisi tersebut diperparah oleh memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat posisi dolar AS.

Selain itu, periode April hingga Juni memang dikenal sebagai musim tingginya kebutuhan dolar. Permintaan valas meningkat untuk pembayaran dividen perusahaan, pelunasan kewajiban luar negeri, serta kebutuhan perjalanan dan pembiayaan ibadah haji.

Kombinasi faktor global dan musiman membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar dibandingkan periode normal.

Mengapa Intervensi BI Belum Mengubah Arah Pasar?

Bank Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam. Sejak awal tahun, BI aktif melakukan intervensi di pasar spot, pasar obligasi, hingga instrumen derivatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada 19 Mei 2026, Perry Warjiyo mengungkapkan besarnya dana yang telah digunakan.

“Jangan kaget, turun sekitar 10 miliar dollar AS. Tapi jumlah intervensi ini baru spot, baru tunai.” Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Meski jumlah tersebut tergolong besar, pasar menilai tekanan yang dihadapi rupiah berasal dari faktor yang lebih mendasar dibanding sekadar kebutuhan likuiditas jangka pendek.

Penurunan outlook kredit Indonesia oleh dua lembaga pemeringkat internasional memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan ekonomi dan konsistensi pengelolaan fiskal ke depan. Akibatnya, sebagian investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia.

Ketika sentimen pasar berubah negatif, intervensi bank sentral biasanya hanya mampu memperlambat pelemahan, bukan membalikkan arah tren secara permanen.

Baca Juga :  Rial Iran Resmi Jadi Mata Uang Terlemah Dunia 2025

Dilema Besar yang Sedang Dihadapi Bank Indonesia

Ada satu persoalan yang jarang dibahas di ruang publik, yaitu semakin kompleksnya mandat yang harus dijalankan BI.

Fitch Ratings menyoroti bahwa BI menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Dua tujuan tersebut sering kali saling bertentangan.

Jika suku bunga dipertahankan tinggi, rupiah bisa lebih terjaga karena aset domestik menjadi menarik bagi investor asing. Namun bunga tinggi berisiko menahan pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi.

Sebaliknya, jika BI memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.

Fitch bahkan memproyeksikan suku bunga BI dapat dipangkas dua kali hingga mencapai 4,25% pada akhir 2026. Skenario ini berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar jika sentimen pasar belum membaik.

Trilema Moneter dan Batas Intervensi Cadangan Devisa

Laporan ISEAI menilai BI kini menghadapi apa yang dikenal sebagai “trilema moneter”.

Konsep ini menjelaskan bahwa sebuah negara sulit mencapai tiga tujuan sekaligus, yaitu menjaga stabilitas kurs, mempertahankan independensi kebijakan moneter, dan tetap membuka arus modal bebas.

Selama Indonesia masih mengandalkan aliran modal internasional, ruang gerak BI menjadi terbatas. Ketika modal asing keluar dalam jumlah besar, bank sentral harus memilih prioritas yang paling penting.

Di sisi lain, cadangan devisa juga tidak bisa digunakan tanpa batas. Per akhir April 2026, cadangan devisa Indonesia turun menjadi USD146,2 miliar dari USD156,5 miliar pada Desember 2025.

Secara nominal angka tersebut masih tergolong kuat. Namun penurunan sekitar USD10 miliar dalam beberapa bulan menunjukkan biaya mempertahankan stabilitas rupiah tidaklah murah.

Baca Juga :  Menakar Kredibilitas Fiskal Indonesia di Tengah Tekanan Fitch Ratings

Kenapa Level Rp18.000 Sangat Penting?

Angka Rp18.000 bukan hanya sekadar level kurs baru. Angka ini menjadi simbol perubahan persepsi pasar terhadap risiko ekonomi Indonesia.

Ketika level psikologis penting berhasil ditembus, pelaku pasar biasanya mulai menyusun ekspektasi baru. Dampaknya dapat terlihat pada harga obligasi, pasar saham, hingga biaya pendanaan pemerintah dan dunia usaha.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan inflasi impor. Produk yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku luar negeri seperti obat-obatan, elektronik, energi, dan logistik menghadapi risiko kenaikan biaya yang lebih besar.

Dalam jangka panjang, tekanan kurs dapat memperbesar beban subsidi energi dan mempersempit ruang fiskal pemerintah apabila harga minyak dunia tetap tinggi.

Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?

Bank Indonesia masih meyakini rupiah berada dalam kondisi undervalued dan berpeluang menguat ketika tekanan global mereda.

Namun sejumlah lembaga riset melihat risiko pelemahan belum sepenuhnya berakhir. Proyeksi pasar menunjukkan nilai tukar berpotensi bergerak di kisaran Rp18.200 hingga Rp18.754 pada akhir Juni 2026, bahkan mendekati Rp19.000 per dolar AS pada Agustus jika sentimen negatif berlanjut.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa pertarungan utama saat ini bukan hanya soal kurs, melainkan soal kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia. Selama faktor tersebut belum pulih, intervensi BI kemungkinan hanya akan menjadi penahan laju pelemahan, bukan pengubah arah tren secara permanen.

Doni Jatnika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *