Rumah Syukur Pakai Mesin Beton Canggih untuk Bangun Rumah Warga

Rumah Syukur Pakai Mesin Beton Canggih untuk Bangun Rumah Warga
Mesin pengaduk beton bertipe self-loading menjadi kunci di balik kecepatan pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiyyah untuk mensyukuri Kemerdekaan Indonesia. - dok. OPSHIDMEDIA

AkalMerdeka.id – Program rumah syukur dari Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni (RSKILHS) menggunakan mesin pengaduk beton self-loading untuk mempercepat pembangunan rumah warga. Teknologi yang lazim digunakan dalam pekerjaan konstruksi itu membantu relawan menyelesaikan satu rumah tipe 36 hanya dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu, dari peletakan batu pertama hingga serah kunci.

Program yang digagas keluarga besar Thoriqoh Shiddiqiyyah melalui Dhilal Berkat Rochmat Alloh (DHIBRA) dan Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) tersebut dijalankan secara nonprofit. Karena itu, penggunaan teknologi konstruksi modern menjadi bagian penting untuk menjaga pekerjaan tetap efisien meski pengerjaannya mengandalkan tenaga sukarela.

Rumah Syukur Gunakan Mesin yang Biasanya Dipakai Proyek Konstruksi

Mesin self-loading menjadi salah satu peralatan utama dalam proses pembangunan. Alat tersebut dapat memuat pasir dan semen sendiri, menimbang bahan, mengaduknya, kemudian menuangkan beton langsung di lokasi pembangunan.

Kapasitas mesin yang disebut mencapai 14 hingga 24 meter kubik per jam membuat proses produksi beton dapat dilakukan langsung di area rumah yang sedang dibangun. Relawan tidak harus membawa seluruh material beton dari tempat pencampuran terpisah.

Keunggulan tersebut terasa terutama ketika pembangunan dilakukan di lokasi dengan akses terbatas. Jalan yang rusak, lahan sempit, atau lokasi yang jauh dari pusat kota dapat menyulitkan penggunaan fasilitas konstruksi konvensional seperti batching plant dan truk mixer.

Baca Juga :  Analisis Distribusi Zakat Fitrah Shiddiqiyyah Berdasarkan Doktrin Thu’matan Lil Masakin

Batching plant merupakan fasilitas pencampuran beton berskala besar yang berada di lokasi tetap. Beton yang diproduksi kemudian harus dikirim menggunakan truk mixer menuju titik pembangunan, sehingga kondisi jalan dan jarak menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Dengan mesin yang dapat bergerak langsung ke lokasi pembangunan, proses pencampuran beton dapat dilakukan di tempat. Relawan pun dapat menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi masing-masing lokasi tanpa harus bergantung pada fasilitas pencampuran beton yang berada jauh dari rumah penerima manfaat.

Infografis Aimix
Infografis Aimix

Pengecoran Dilakukan Langsung di Lokasi Rumah

Beton yang diproduksi mesin digunakan untuk bagian konstruksi seperti fondasi, sloof, dan kolom. Pengaturan pekerjaan dilakukan secara berurutan agar waktu relawan dapat dimanfaatkan sepanjang hari.

Pagi hari dapat digunakan untuk pekerjaan pengecoran, sedangkan siang hari dilanjutkan dengan pemasangan bata dan atap. Pola tersebut membuat berbagai tahapan pembangunan bisa berjalan beriringan dalam satu hari.

Setelah sebuah rumah selesai, mesin dapat dipindahkan menuju titik pembangunan berikutnya. Mobilitas alat ini menjadi penting karena program tidak hanya berlangsung di satu wilayah, melainkan menjangkau daerah-daerah berbeda.

Baca Juga :  Memahami Kemerdekaan Ramadan dalam Perspektif Sejarah

126 Rumah Dibangun di 88 Kabupaten dan Kota

Skala program rumah syukur tahun ini mencapai 126 unit rumah yang tersebar di 88 kabupaten dan kota di Indonesia. Peletakan batu pertama dimulai pada 22 Juni 2026 dengan target penyelesaian menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2026.

Di Lampung, misalnya, DHIBRA Shiddiqiyyah membangun 12 unit rumah untuk warga setempat. Penyebaran lokasi membuat efisiensi pengerjaan menjadi kebutuhan penting agar peralatan dan tenaga sukarela dapat digunakan secara optimal.

Program tersebut menyasar warga yang tinggal di rumah tidak layak huni. Salah satu penerimanya adalah Ibu Putiah, 71 tahun, warga Desa Madi, Kecamatan Kudu, yang selama ini tinggal bersama dan mengasuh cucu-cucunya dalam kondisi rumah yang tidak layak.

Kehadiran rumah baru bagi penerima seperti Putiah menunjukkan bahwa teknologi dalam program ini bukan tujuan akhir. Mesin digunakan untuk mempercepat proses pembangunan sehingga bantuan berupa hunian layak dapat lebih cepat diterima warga yang menjadi sasaran program.

Pembongkaran Rumah
Proses Pembongkaran Rumah lama yang akan mendapatkan manfaat Rumah Syukur

Pembangunan Rumah Mengandalkan Sedekah Anggota

Model pendanaan Rumah Syukur juga berbeda dari proyek konstruksi komersial. Program ini tidak mengejar keuntungan finansial dan pembiayaannya berasal dari swadaya anggota.

Baca Juga :  TNI AL Kerahkan 2 KRI dan Pesawat Evakuasi KM Mutiara Sentosa II, 30 Penumpang Selamat

Bagus Harianto, Penanggung Jawab Rumah Syukur wilayah Kudu, Jombang, menyebut biaya pembangunan satu unit rumah di wilayahnya sekitar Rp 120 juta. Dana tersebut dihimpun melalui sedekah pribadi anggota dalam bentuk uang maupun material bangunan.

“Penggalian dana berasal dari shodaqoh pribadi anggota, ada yang berupa material dan kebutuhan lainnya,” kata Bagus Harianto.

Skema tersebut membuat efisiensi pengerjaan memiliki arti tersendiri. Teknologi digunakan bukan untuk meningkatkan margin sebuah proyek, melainkan membantu relawan mengerjakan pembangunan dengan sumber daya yang berasal dari swadaya.

Penggunaan mesin yang dapat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain juga membuat program lebih fleksibel. Pembangunan tidak terpusat pada satu kawasan dan tidak harus menunggu tersedianya fasilitas konstruksi berskala besar di sekitar lokasi penerima.

Dengan pendekatan tersebut, Rumah Syukur memadukan tenaga sukarela, pendanaan swadaya, dan teknologi konstruksi untuk membangun hunian bagi warga yang membutuhkan. Pembangunan 126 unit rumah di 88 kabupaten dan kota menjadi bagian dari program yang ditargetkan rampung menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *