Gempa Bumi NTT, Bantuan 398 Ton Disalurkan, Warga Terpencil Masih Menunggu

Gempa Bumi NTT, Bantuan 398 Ton Disalurkan, Warga Terpencil Masih Menunggu
Kerusakan Akibat Gempa Bumi NTT yang terjadi 15 Agustus 2026

Kupang, AkalMerdeka.id – Bantuan untuk korban gempa bumi NTT terus dikirim setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026). Namun, di tengah laporan 398 ton logistik telah disalurkan hingga 18 Agustus, sebagian warga di wilayah terpencil masih mengaku kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.

Gempa yang berpusat di Laut Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Kabupaten Nagekeo, itu telah menyebabkan 71 orang meninggal dunia dan 59.647 orang mengungsi berdasarkan data BNPB terbaru pada Rabu (19/8). Angka tersebut masih dapat berubah karena pendataan korban dan pengungsi terus dilakukan di lapangan.

Gempa Bumi NTT Sisakan Persoalan Distribusi Bantuan

BNPB mencatat total 398 ton bantuan logistik telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB. Sebanyak 165 ton di antaranya dikirim melalui jalur udara untuk mempercepat distribusi ke daerah yang sulit dijangkau.

Jumlah tersebut menunjukkan skala mobilisasi bantuan yang besar setelah gempa. Namun, banyaknya logistik yang sudah bergerak dari pusat distribusi belum otomatis berarti seluruh pengungsi di tingkat desa dan dusun telah menerima bantuan.

Di Dusun Marilewa, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, misalnya, warga bernama Sima mengeluhkan bantuan sembako belum tiba hingga Selasa pagi (18/8). Padahal, data pengungsi di wilayah tersebut sudah tercatat.

Baca Juga :  Karhutla Bromo Meluas hingga 120 Hektare, Dugaan Penyebab Bergeser ke Aktivitas Manusia

Kondisi itu membuat warga harus mengandalkan sisa makanan yang masih tersedia di rumah masing-masing. Situasi tersebut memperlihatkan persoalan berikutnya setelah bantuan terkumpul, yakni bagaimana memastikan logistik benar-benar mencapai warga yang berada jauh dari posko utama.

Akses Flores Jadi Hambatan Pengiriman

Pelaksana Tugas Kepala Pusdatinkom Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan distribusi bantuan menghadapi kendala geografis Flores dan kerusakan sejumlah ruas jalan.

Karakter wilayah yang berbukit dan kondisi infrastruktur pascagempa membuat pengiriman tidak bisa dilakukan sekaligus ke seluruh titik. Bantuan akhirnya disalurkan secara bertahap sesuai akses yang tersedia.

BNPB juga menghadapi persoalan lain berupa banyaknya pengungsi mandiri yang berada di luar posko resmi. Keberadaan mereka dapat menyulitkan pendataan sekaligus penyaluran bantuan secara tepat waktu.

Persoalan tersebut menjadi penting karena jumlah pengungsi yang tercatat mengalami perubahan besar selama beberapa hari. Data BNPB menunjukkan 9.290 pengungsi tercatat pada 16 Agustus, kemudian menjadi 34.689 orang pada 18 Agustus dan mencapai 59.647 orang pada 19 Agustus.

Baca Juga :  Kasus Dokter Icha Buka Tabir Perilaku Oknum DPRD TTU

Kenaikan tersebut tidak serta-merta menunjukkan puluhan ribu orang baru meninggalkan rumah dalam waktu singkat. Perubahan angka juga berkaitan dengan proses pendataan yang terus menjangkau wilayah terdampak.

Palue dan Wilayah Terpencil Hadapi Tantangan Lebih Berat

Pulau Palue di Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan akses setelah gempa. Kondisi geografis kepulauan membuat distribusi bantuan membutuhkan jalur dan waktu yang berbeda dibandingkan daerah yang lebih mudah terhubung melalui jalan darat.

Di sejumlah lokasi, kebutuhan pengungsi juga tidak berhenti pada makanan. Warga membutuhkan air bersih, obat-obatan, tenda, serta fasilitas sanitasi, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan korban yang mengalami luka.

Kebutuhan tempat berlindung menjadi semakin penting karena sebagian warga masih memilih bertahan di luar rumah setelah gempa utama disusul sejumlah gempa susulan. Rumah yang rusak membuat sebagian keluarga bergantung pada tenda darurat atau ruang terbuka.

Bantuan Terus Diperkuat Pemerintah

Pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi logistik melalui jalur darat. KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Labuan Bajo menuju Reo, Kabupaten Manggarai, dengan membawa sembako, tenda keluarga, dan tenda pengungsi.

Baca Juga :  Jalur Prestasi SPMB Jateng 2026 SMP Buka Kuota Besar untuk Siswa Berprestasi

Pemerintah juga menyiapkan dukungan untuk kebutuhan jangka menengah. Identifikasi kebutuhan hunian sementara atau huntara serta hunian tetap atau huntap mulai dilakukan di wilayah terdampak.

Dari sisi kesehatan, Kementerian Kesehatan mengirimkan dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo. Langkah tersebut dilakukan karena sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak ikut mengalami kerusakan.

Untuk kebutuhan pangan, pemerintah melalui Bulog menyalurkan bantuan senilai Rp 75,4 miliar berupa 5.386 ton beras ke Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Sikka.

Sementara itu, BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan unsur lainnya masih melakukan penanganan di tujuh kabupaten terdampak. Hingga 17 Agustus, tidak ada lagi laporan warga hilang, tetapi tim tetap disiagakan untuk memastikan tidak ada korban yang belum ditemukan.

Penanganan darurat kini berjalan bersamaan dengan upaya memastikan bantuan menjangkau pengungsi yang tersebar di berbagai titik. BNPB masih mencatat perkembangan jumlah korban dan pengungsi seiring pendataan lapangan yang terus berlangsung, dengan angka korban meninggal terbaru mencapai 71 orang pada 19 Agustus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *