Jenazah Diduga Korban KM Nurul Salsa Ditemukan di Pangkep

AkalMerdeka.id – Satu jenazah yang diduga korban KM Nurul Salsa ditemukan nelayan di sekitar Pulau Pamulikang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Selasa, 21 Juli 2026. Jenazah dievakuasi tim SAR gabungan dan dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi.
Basarnas belum memastikan identitas jenazah tersebut maupun memasukkannya secara final ke dalam data korban kecelakaan KM Nurul Salsa. Kepastian baru dapat diumumkan setelah pemeriksaan oleh tim berwenang selesai.
Sebelum penemuan itu, data resmi mencatat 78 orang berada di kapal. Sebanyak 59 orang ditemukan selamat, satu orang meninggal dunia, dan 18 lainnya masih dalam pencarian.
Karena jenazah tambahan belum teridentifikasi, jumlah korban hilang belum dapat langsung dikurangi menjadi 17 orang. Status yang paling aman saat ini adalah satu jenazah diduga korban KM Nurul Salsa ditemukan, sementara pencarian terhadap 18 nama dalam daftar tetap berjalan.
Jenazah Diduga Korban KM Nurul Salsa Dievakuasi
Informasi penemuan jenazah pertama kali diterima dari nelayan yang melihat tubuh mengapung di perairan Pulau Pamulikang. KN SAR Pacitan dan KN SAR Kamajaya kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi.
Penemuan di wilayah Pangkep sejalan dengan pergerakan arus dan angin yang dipantau tim SAR selama beberapa hari terakhir. Sejumlah korban selamat sebelumnya juga ditemukan jauh dari lokasi awal kapal tenggelam di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kepulauan Selayar.
Pada Minggu, 19 Juli 2026, dua penumpang ditemukan selamat di Pulau Balaloho oleh kapal nelayan KM Bari-Baria 05. Penemuan tersebut menambah jumlah korban selamat menjadi 59 orang.
Area Pencarian Diperluas Menjadi 2.924 Mil Laut Persegi
Memasuki hari ketujuh, tim SAR memperluas wilayah pencarian menjadi 2.924 mil laut persegi. Area tersebut dibagi ke dalam lima sektor dengan enam unit pencarian agar wilayah yang berpotensi menjadi arah hanyutnya korban dapat disisir lebih luas.
Operasi melibatkan RB Mataram 220, KN SAR Puntadewa, KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, KRI Marlin 877, dan KRI Hiu 634. TNI, Polri, BPBD, Syahbandar, pemerintah daerah, serta kapal nelayan juga ikut mendukung penyisiran.
Pesawat Boeing 737-200 dari Lanud Sultan Hasanuddin sebelumnya dikerahkan untuk membantu pemantauan udara. Penambahan armada dibutuhkan karena wilayah pencarian terus melebar, sementara gelombang laut dapat mencapai dua hingga tiga meter.
Data Penumpang Berubah selama Operasi SAR
KM Nurul Salsa berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng pada Rabu, 15 Juli 2026. Kapal mengalami gangguan mesin sekitar 43 mil laut dari Pelabuhan Benteng sebelum akhirnya tenggelam.
Jumlah orang di kapal sempat berubah dalam beberapa laporan awal. Data pertama menyebut sekitar 46 penumpang, kemudian berkembang menjadi 74 orang sebelum Basarnas menetapkan total 78 orang setelah mencocokkan manifest dan laporan keluarga.
Perubahan tersebut terjadi setelah tiga keluarga melaporkan anggota mereka yang belum tercatat dalam data awal. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketepatan manifest berpengaruh langsung terhadap jumlah orang yang harus dicari dan kecepatan petugas menghubungi keluarga.
Polisi masih memeriksa nakhoda dan awak kapal untuk mengetahui penyebab tenggelamnya KM Nurul Salsa. Gangguan mesin, masuknya air ke lambung, fungsi pompa, kondisi cuaca, muatan, serta kesesuaian manifest masih menjadi bagian dari penyelidikan.
Penemuan jenazah di Pangkep memberi petunjuk baru mengenai arah pergerakan korban. Operasi SAR tetap dilanjutkan hingga identitas jenazah dan keberadaan seluruh penumpang dalam daftar dapat dipastikan.





