Jembatan Enang-Enang Diperbaiki Warga, Tito Siapkan Solusi Permanen

Jembatan Enang-Enang Diperbaiki Warga, Tito Siapkan Solusi Permanen
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian saat meninjau Jembatan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (7/7/2026). - dok Humas Kemendagri

Bener Meriah, AkalMerdeka.id – Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, kembali mendapat perhatian pemerintah setelah sebelumnya diperbaiki warga secara swadaya. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menemui inisiator perbaikan, Sahrial Abadi, pada Selasa, 7 Juli 2026, dan menyebut pemerintah akan menyiapkan penanganan permanen.

Kunjungan Tito dilakukan setelah warga memperbaiki sendiri akses yang rusak parah akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025. Jalan dan Jembatan Enang-Enang sempat lama terganggu hingga warga akhirnya bergotong royong membuka kembali akses tersebut.

“Kami sangat berterima kasih serta memberi apresiasi kepada Pak Sahrial yang merupakan inisiator pembukaan Jembatan Enang-Enang juga masyarakat yang telah berinisiatif memperbaiki secara swadaya jalan tersebut,” kata Mendagri, Muhammad Tito Karnavian.

Jembatan Enang-Enang Masih Butuh Penanganan Permanen

Meski sudah bisa dilalui, Tito menilai kondisi Jembatan Enang-Enang belum sepenuhnya aman. Struktur jalan disebut masih labil dan memiliki potensi longsor, sehingga perbaikan warga belum cukup untuk dijadikan solusi jangka panjang.

Pemerintah akan menindaklanjuti dengan memperkuat jembatan yang ada. Selain itu, kendaraan bertonase besar akan diarahkan melalui jalur alternatif Wer Lah-Simpang Lancang agar beban jalan tidak langsung menekan ruas yang masih rawan.

Baca Juga :  OTT Bekasi: KPK Bongkar Ijon Proyek Libatkan Bupati dan Keluarga

Langkah ini penting karena akses jalan bukan hanya soal kendaraan bisa lewat. Di wilayah pascabencana, jalan yang terbuka tanpa penguatan permanen tetap bisa menjadi risiko baru bagi warga, terutama saat hujan deras atau arus kendaraan meningkat.

Warga Patungan hingga Rp 1 Miliar

Aksi warga Enang-Enang memperlihatkan kebutuhan akses transportasi yang sangat mendesak. Mereka menggalang dana hingga sekitar Rp 1 miliar, menyewa ekskavator, dan menyumbangkan bahan bakar minyak agar perbaikan bisa segera dimulai.

Gotong royong itu membuat Jalan dan Jembatan Enang-Enang kembali dapat dilintasi setelah hampir satu tahun terdampak longsor. Bagi warga, akses ini berkaitan langsung dengan mobilitas harian, distribusi barang, layanan dasar, dan kegiatan ekonomi setempat.

Namun, swadaya warga tidak bisa menggantikan tanggung jawab negara dalam membangun infrastruktur yang aman. Aksi masyarakat berhasil membuka akses darurat, sementara pemerintah tetap perlu memastikan kualitas teknis, keselamatan, dan keberlanjutan jalur tersebut.

Jalur Alternatif Juga Akan Diperbaiki

Pemerintah juga berencana memperbaiki ruas Wer Lah-Simpang Lancang sebagai jalur alternatif. Perbaikan itu termasuk pembangunan jembatan baru untuk memperlancar mobilitas masyarakat dan mengurangi tekanan pada Jembatan Enang-Enang.

Baca Juga :  BINLAT Kediri Kembangkan Metode Rasa dalam Pendidikan Karakter

Jika rencana ini berjalan, warga tidak hanya mendapat akses sementara, tetapi jalur yang lebih aman untuk kebutuhan jangka panjang. Ini menjadi ujian bagi pemerintah setelah warga lebih dulu bergerak ketika akses vital mereka terputus.

Kasus Jembatan Enang-Enang memberi pelajaran sederhana: gotong royong bisa mempercepat respons di lapangan, tetapi infrastruktur pascabencana tetap membutuhkan keputusan teknis dan anggaran yang jelas. Tanpa itu, warga berisiko kembali menghadapi masalah yang sama saat bencana atau kerusakan berulang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *