Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Jadi Milik Indonesia, Biaya Lanjutan Tembus Puluhan Triliun

AkalMerdeka.id – Kapal induk menjadi kemampuan baru bagi Indonesia setelah pemerintah menerima hibah Giuseppe Garibaldi (C551) dari Italia. Namun, nilai hibah sekitar Rp 1,1 triliun bukan gambaran seluruh biaya kepemilikan karena kapal masih membutuhkan retrofit hingga biaya operasional dan perawatan dalam jangka panjang.
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk ringan Angkatan Laut Italia yang dibangun Fincantieri di Monfalcone mulai 1981, diluncurkan pada 1983, dan resmi bertugas pada 1985. Dengan usia sekitar 41 tahun saat diserahkan, kapal tersebut kini menjalani peningkatan kemampuan di Taranto sebelum dikirim ke Indonesia.
Kapal Induk Hibah Italia Masih Butuh Retrofit
DPR RI telah menyetujui penerimaan hibah Giuseppe Garibaldi melalui Komisi I pada 20 Juli 2026 dan Rapat Paripurna pada 21 Juli 2026. Nilai hibah yang tercatat mencapai €54.022.426,67 atau sekitar Rp 1,1 triliun.
Angka tersebut merupakan nilai hibah kapal, bukan keseluruhan biaya yang harus ditanggung Indonesia untuk mengoperasikannya. Kapal masih menjalani retrofit atau peningkatan kemampuan sesuai kebutuhan TNI AL di Italia.
Biaya retrofit dalam data yang disampaikan dalam pembahasan DPR berada pada kisaran Rp 7,2 triliun hingga Rp 16,8 triliun, bergantung pada spesifikasi yang diminta. Besarnya rentang ini menunjukkan bahwa konfigurasi akhir kapal akan sangat menentukan nilai investasi setelah kapal diterima.
Selain retrofit, biaya operasional dan perawatan juga menjadi perhatian. Estimasinya sekitar 5 juta euro per bulan atau sekitar Rp 101 miliar selama masa kontrak yang disebut berlangsung 10 tahun.
Jika angka retrofit dan biaya operasional tersebut dijumlahkan secara sederhana, bebannya berpotensi melampaui Rp 20 triliun dalam jangka panjang. Namun, angka itu bukan angka final keseluruhan biaya kepemilikan karena besaran retrofit dan komponen biaya lainnya masih bergantung pada kebutuhan serta pelaksanaan kontrak.
Kapal Induk Jadi Kapal Perang Terbesar TNI AL
Giuseppe Garibaldi memiliki panjang sekitar 180 meter, lebar 33 meter, dan bobot sesaran sekitar 13.800 ton. Kapal ini dapat mengoperasikan pesawat STOVL, yakni pesawat yang mampu lepas landas dalam jarak pendek dan mendarat secara vertikal, serta helikopter.
Kapasitasnya sekitar 550 personel dan kapal tersebut akan menjadi kapal perang terbesar yang pernah dioperasikan TNI AL. Karena itu, penerimaan hibah tidak hanya menyangkut kepemilikan kapal, tetapi juga kesiapan Indonesia membangun kemampuan untuk mengoperasikan dan merawatnya.
TNI AL telah mengirim 100 personel ke Italia untuk menjalani pelatihan awak kapal. Langkah tersebut penting karena pengoperasian kapal induk membutuhkan sumber daya manusia yang memahami sistem kapal, penerbangan, hingga prosedur keselamatan di atas kapal.
Biaya Jangka Panjang Jadi Sorotan DPR
Persoalan biaya menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan hibah di DPR. Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyoroti estimasi biaya operasional sekitar Rp 101 miliar per bulan serta kebutuhan retrofit yang nilainya dapat mencapai triliunan rupiah.
Mahfudz Abdurrahman juga mendukung penerimaan hibah tersebut, tetapi mengingatkan pentingnya transparansi anggaran dan pengendalian biaya operasional maupun perawatan. Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Utut Adianto meminta pemerintah memastikan kemampuan anggaran negara untuk menanggung biaya jangka panjang.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan dana untuk kebutuhan tersebut tersedia dalam pembahasan di DPR. Rincian sumber pendanaan secara spesifik belum terungkap dalam data publik yang menjadi dasar pembahasan tersebut.
Giuseppe Garibaldi saat ini masih menjalani retrofit di Taranto dan dijadwalkan tiba di Indonesia pada 20 September 2026. Kapal tersebut rencananya akan bersandar di Lanal Lampung, Teluk Ratai, sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026.





