BI dan Pemerintah Siapkan Dua Jurus Baru untuk Selamatkan Rupiah

BI dan Pemerintah Siapkan Dua Jurus Baru untuk Selamatkan Rupiah

AkalMerdeka.id – Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.044 per dolar AS mendorong pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan DPR mengambil langkah cepat untuk meredam gejolak pasar. Dalam rapat yang digelar pada hari libur, Minggu (7/6/2026), otoritas ekonomi menyepakati dua strategi utama untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dan memulihkan kepercayaan investor.

Langkah tersebut muncul di tengah tekanan besar di pasar keuangan domestik, yang ditandai pelemahan rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mendekati 20 persen sejak awal tahun.

2 Strategi untuk Menahan Tekanan Rupiah

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa strategi pertama adalah meningkatkan daya tarik investasi di pasar keuangan domestik agar aliran modal asing kembali masuk.

Menurut Perry, BI akan terus menjaga instrumen keuangan Indonesia tetap kompetitif dibanding negara lain sehingga investor memiliki alasan untuk mempertahankan maupun menambah investasinya di dalam negeri.

Strategi kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di sektor perbankan. Langkah ini dinilai penting agar aktivitas ekonomi tetap berjalan normal meski pasar sedang menghadapi tekanan.

Baca Juga :  Paradoks KUR: Kritik Purbaya Terhadap Orientasi Profit BRI

Koordinasi Fiskal dan Moneter Diperkuat

Rapat yang juga dihadiri Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Komisi XI DPR RI tersebut menghasilkan komitmen untuk memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

Purbaya menegaskan pemerintah akan tetap menjaga disiplin fiskal sambil memastikan program-program prioritas tetap berjalan.

“Kami akan terus menjalankan arahan Presiden dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global maupun domestik,” ujarnya.

Koordinasi ini dianggap penting karena gejolak nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sentimen terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan dalam negeri.

Mengapa Rupiah Tertekan?

Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Di pasar internasional, penguatan dolar AS masih menjadi tantangan bagi banyak mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, muncul kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal, perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta meningkatnya arus keluar modal dari pasar keuangan.

Tekanan tersebut membuat investor cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan memberi tekanan tambahan pada rupiah.

Baca Juga :  Reshuffle Kabinet Prabowo Menguat, Istana Tegaskan Belum Ada Pergantian Menteri

Ampuhkah 2 Jurus Dongkrak Rupiah?

Kebijakan meningkatkan daya tarik investasi dan menjaga likuiditas merupakan langkah yang lazim digunakan bank sentral ketika menghadapi tekanan nilai tukar.

Jika investor kembali menempatkan dana di pasar domestik, pasokan valuta asing dapat meningkat sehingga membantu menstabilkan rupiah. Di saat yang sama, likuiditas yang memadai menjaga sektor perbankan tetap mampu menyalurkan kredit dan mendukung aktivitas ekonomi.

Dengan kata lain, langkah ini tidak hanya bertujuan menahan pelemahan rupiah, tetapi juga mencegah dampak lanjutan terhadap dunia usaha dan masyarakat.

Pasar Menunggu Implementasi Konkret

Meski pemerintah dan BI telah mengumumkan arah kebijakan, pelaku pasar umumnya akan menilai efektivitasnya dari implementasi di lapangan.

Investor akan mencermati apakah langkah-langkah yang ditempuh mampu meningkatkan kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia, mengurangi tekanan terhadap rupiah, serta mendorong stabilisasi IHSG.

Dalam jangka pendek, koordinasi erat antara pemerintah, BI, dan DPR menjadi sinyal bahwa otoritas ekonomi berupaya merespons situasi secara cepat. Namun dalam jangka panjang, keberhasilan kebijakan akan ditentukan oleh kemampuan menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat fundamental pertumbuhan nasional.

Baca Juga :  Dolar Rp 18.000 Bikin Pelanggan Warteg Kurangi Lauk, Omzet Pedagang Menyusut

Doni Jatnika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *