Paradoks Kedaulatan Ekspor Dan Unsur Asing Di Jantung Monopoli BUMN

akalmerdeka.id — Pemerintah secara resmi mengesahkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai instrumen tunggal pengendali ekspor kekayaan alam melalui SK Kemenkumham di Jakarta pada Selasa (19/5/2026). Langkah restrukturisasi ini menghadirkan perdebatan intelektual yang sengit mengenai esensi kemandirian ekonomi nasional.
Kebijakan yang diklaim demi menjaga devisa ini justru memicu kontradiksi fundamental di tataran manajerial tertinggi. Otoritas mempercayakan kendali penuh operasional niaga strategis ini kepada ekspatriat yang memimpin korporasi baru tersebut.
Data legalitas menunjukkan perseroan berstatus tertutup ini didirikan dengan modal disetor yang sangat minim, yakni hanya Rp25 juta. Struktur modal mini ini dinilai tidak proporsional untuk entitas yang ditugasi mengendalikan perputaran ekspor komoditas senilai Rp1.100 triliun.
Para pengamat ekonomi memperingatkan munculnya risiko dualisme fungsi berupa monopoli sekaligus monopsoni yang berpotensi menekan harga beli di tingkat produsen. Kebijakan tanpa uji publik ini berpotensi mendistorsi skema insentif pasar bebas yang sudah mapan.
Posisi Direktur Utama DSI dijabat oleh Luke Thomas Mahony, seorang profesional sektor ekstraktif berkewarganegaraan Australia. Langkah penunjukan figur eksternal ini dinilai mengaburkan narasi nasionalisme ekonomi yang mendasari pembentukan badan hukum tersebut.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan klarifikasi mengenai kepanikan pelaku pasar modal yang sempat merontokkan IHSG sebesar 3,46 persen. “Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut, jual dulu,” ujarnya di Jakarta pada Kamis (21/5/2026).
Manajemen korporasi telah menyusun cetak biru operasional yang terbagi dalam tiga tahapan strategis hingga akhir tahun. Fase intermediasi dokumen kepatuhan harga akan dimulai pada 1 Juni 2026 guna menyelaraskan kontrak dagang internasional.
DSI akan mengambil alih fungsi sebagai pedagang penuh yang membeli langsung komoditas batubara, sawit, dan ferro alloy pada September 2026. Seluruh ekosistem perdagangan komoditas strategis ini ditargetkan bermigrasi sepenuhnya ke dalam satu platform digital pada Januari 2027. ***





