Kunjungan Putin ke Beijing Deteksi Ketergantungan Rusia di Tengah Krisis Legitimasi

Kunjungan Putin ke Beijing Deteksi Ketergantungan Rusia di Tengah Krisis Legitimasi

akalmerdeka.id — Presiden Rusia Vladimir Putin memulai kunjungan kenegaraan ke China pada Selasa malam, 19 Mei 2026, sebagai upaya strategis mengamankan dukungan ekonomi Beijing sekaligus memulihkan legitimasi domestiknya yang merosot tajam ke level terendah sejak perang Ukraina dimulai.

Kedatangan Putin yang hanya berselang 48 jam dari lawatan Presiden AS Donald Trump menyoroti asimetri hubungan bilateral ini. Kremlin secara sadar memanfaatkan panggung global di Beijing sebagai komoditas konsumsi politik dalam negeri demi menutupi realitas kemerosotan ekonomi domestik.

Indikator sosiologis dari lembaga riset negara VTsIOM merekam penurunan tingkat kepuasan publik Rusia terhadap Putin sebesar 12,2 persen dalam empat bulan, menyisakan angka 65,6 persen pada April 2026. Penurunan ini berkorelasi langsung dengan kontraksi PDB dan kelelahan psikologis masyarakat menghadapi perang berkepanjangan.

Fenomena menarik terlihat pada awal Mei 2026 ketika metodologi survei di Rusia diubah menggunakan sistem sampel gabungan wawancara langsung demi mengoreksi angka kepuasan tersebut. Respons artifisial ini membuktikan bahwa manuver eksternal ke Beijing dirancang untuk meredam turbulensi politik di Moskow.

Baca Juga :  Polisi Tetapkan Terorisme dalam Penembakan Hanukkah Sydney

Rusia kini terkonversi menjadi mitra ekonomi sekunder yang sangat bergantung pada sasis perdagangan luar negeri China untuk bertahan dari sanksi. Manifestasi ketergantungan ini terlihat dari lonjakan ekspor minyak Rusia ke China sebesar 35 persen pada kuartal pertama tahun 2026.

Dimensi kerja sama militer juga menunjukkan pasokan komponen esensial dari korporasi China tetap mengalir guna menopang rantai produksi persenjataan Kremlin. Pengiriman mesin drone yang disamarkan sebagai unit pendingin industri menjadi bukti nyata sokongan logistik ini di tengah isolasi Barat.

Analis strategis menilai fenomena dua kunjungan beruntun oleh Trump dan Putin memosisikan Beijing sebagai poros utama tatanan dunia multipolar baru. China memegang kendali penuh atas syarat kemitraan, sementara Rusia bertindak sebagai pihak yang membutuhkan konfirmasi politik.

Ketidakseimbangan struktural dalam hubungan bilateral kedua negara ini dibaca secara jeli oleh para pengamat institusi kajian strategis internasional.

“Putin membutuhkan ini lebih dari Xi. Rusia kini adalah mitra junior yang bergantung, akibat perang bencana Putin di Ukraine. Putin mungkin mencari dukungan militer yang lebih besar dari China. China memegang semua kartu,” tutur Timothy Ash, Associate Fellow Programme Rusia & Eurasia Chatham House pada 19 Mei 2026.

Baca Juga :  Xi Jinping Singgung Perangkap Thucydides Saat Bertemu Trump di Beijing

Dinamika ini juga memperlihatkan kapabilitas China dalam menavigasi kepentingan dua kekuatan nuklir dunia secara simultan tanpa kehilangan posisi tawar.

“Pesannya jelas bahwa China mempertahankan persahabatan dan kemitraan strategis dengan kekuatan manapun yang disukainya, dan AS hanyalah salah satunya,” sebut Steve Tsang, Direktur SOAS China Institute Universitas London pada 20 Mei 2026.

Melalui penandatanganan sekitar 40 perjanjian baru pada Rabu, 20 Mei 2026, Putin berupaya membangun narasi deterensi global bersama Xi Jinping. Namun, bagi para pemikir geopolitik, langkah ini justru mempertegas posisi tawar Moskow yang kian tergerus di hadapan sang patron ekonomi. ***

Heri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *