Analisis Neo-Sufisme Shiddiqiyyah: Sintesis Teologi dan Tanggung Jawab Sosial

akalmerdeka.id — Jombang, Fenomena Neo-Sufisme yang dipraktikkan oleh Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang, menawarkan tesis menarik mengenai integrasi antara doktrin agama dan tanggung jawab kewarganegaraan melalui program sosial yang terukur. Gerakan ini menggeser paradigma tasawuf konvensional yang cenderung kontemplatif menjadi gerakan sosial-ekonomi yang berdampak luas bagi masyarakat di sekitarnya.
Inti dari gerakan ini terletak pada internalisasi doktrin “Hubbul Wathon Minal Iman” atau cinta tanah air bagian dari iman. Namun, berbeda dengan sekadar slogan, Shiddiqiyyah menerjemahkannya ke dalam metodologi pembangunan melalui Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS).
Program ini merupakan hasil dari nalar syukur yang produktif, di mana kemerdekaan diposisikan sebagai variabel spiritual yang menuntut aksi nyata.
Redefinisi Zikir dalam Ruang Publik
Secara intelektual, Shiddiqiyyah berhasil melakukan dekonstruksi terhadap makna zikir. Zikir tidak lagi dibatasi pada aktivitas lisan di ruang privat, melainkan diekspresikan melalui aktivitas fisik pembangunan infrastruktur sosial. Dalam perspektif ini, kerja manual seperti mengaduk semen dan memasang bata dipahami sebagai laku spiritual atau suluk untuk mencapai kesempurnaan iman yang bermanfaat.
Perspektif Akademik dan Kemandirian Sipil
Mantan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Abd. A’la, dalam diskusinya mengenai peran thoriqoh di Surabaya, menyebut gerakan ini sebagai representasi positif dari Neo-Sufisme.
“Ini tasawuf yang tidak lari dari dunia, tetapi membangunnya,” ungkap Abd. A’la pada medio 2025 lalu. Beliau menilai Shiddiqiyyah sukses membangun kekuatan masyarakat sipil (civil society) melalui kemandirian ekonomi tanpa bergantung pada bantuan eksternal.
Kemampuan jamaah untuk memobilisasi sumber daya internal menunjukkan tingkat pengorganisasian yang matang. Penghormatan terhadap simbol negara seperti bendera dan lagu kebangsaan dianalisis sebagai doa kolektif yang memperkuat ikatan sosial-politik.
Dengan demikian, Shiddiqiyyah tidak hanya menjadi lembaga keagamaan, tetapi juga aktor strategis dalam penguatan struktur sosial bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, model yang ditawarkan Shiddiqiyyah menjadi antitesis bagi gerakan keagamaan yang seringkali mempertentangkan identitas agama dengan nasionalisme. Melalui pendekatan yang rasional dan berbasis data pembangunan rumah, mereka membuktikan bahwa kedalaman spiritualitas dapat menjadi katalisator utama bagi kemajuan sebuah negara jika dikelola dengan manajemen sosial yang tepat dan terukur.***





