Agresi Udara Israel di Yaman dan Gaza Picu Guncangan Energi Global

Agresi Udara Israel di Yaman dan Gaza Picu Guncangan Energi Global
Asap mengepul setelah serangan Israel di pinggiran selatan Beirut, 4 Maret 2026 - dok Reuters | Claudia Greco

akalmerdeka.id — Militer Israel memperluas jangkauan tempurnya ke wilayah Yaman pada 10 September 2025 dengan menjatuhkan bom di ibu kota Sana’a serta Provinsi al-Jawf.

Operasi udara ini menewaskan 35 orang dan melukai 131 lainnya, menyasar fasilitas medis di Jalan ke-60 serta kompleks pemerintahan yang diklaim sebagai markas militer Houthi.

Serangan tersebut merupakan balasan atas kiriman drone Houthi ke Bandara Ramon. Eskalasi ini terjadi hanya sehari setelah operasi intelijen Israel menargetkan petinggi Hamas di Doha, Qatar.

“IAF (Angkatan Udara Israel) menyerang target militer milik rezim teroris Houthi di wilayah Sanaa dan Al-Jawf di Yaman,” tulis pernyataan resmi Militer Israel pada 10 September 2025.

Tragedi Kemanusiaan di Jalur Gaza dan Lebanon

Gempuran berkelanjutan di Gaza mencatatkan angka kematian mengerikan sebanyak 71.400 jiwa hingga Januari 2026, di mana 20.000 di antaranya adalah anak-anak.

Krisis semakin dalam setelah Al Jazeera melaporkan empat bayi meninggal akibat suhu dingin ekstrem sejak November 2025 di tengah hancurnya infrastruktur pemukiman dan kamp pengungsian.

Baca Juga :  Dekonstruksi Etika Komunikasi Ben Gvir Dan Bumerang Politik Hukum Tel Aviv

Di Lebanon, data WHO mencatat 1.268 orang tewas sejak Maret 2026. Intensitas serangan udara Israel di wilayah ini melukai lebih dari 3.750 warga dalam waktu singkat.

Guncangan Ekonomi dan Penutupan Selat Hormuz

Dunia internasional merasakan dampak langsung lewat lonjakan harga minyak Brent sebesar 11,66 persen dalam satu sesi perdagangan akibat kekhawatiran macetnya pasokan energi.

Parlemen Iran merespons agresi ini dengan menyetujui mosi penutupan Selat Hormuz pada 22 Juni 2025, jalur vital yang mengangkut 20 persen minyak dan gas dunia.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan menghentikan operasi militer selama ancaman terhadap Israel masih terdeteksi dari berbagai penjuru negara Arab.

“Siapa pun yang menyerang kami, kami akan menghajar mereka. Serangan ini tidak melemahkan tangan kami,” tulis Netanyahu melalui akun media sosialnya pada September 2025.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim pertahanan udara mereka sempat meluncurkan rudal darat-ke-udara yang memaksa beberapa formasi jet tempur Israel mundur dari wilayah udara Yaman. ***

Baca Juga :  AS Naikkan Ancaman Spionase Israel ke Level Kritis, Ada Apa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *