Profil Bagus Muljadi, Ilmuwan Indonesia di Nottingham dengan Karier Lintas Disiplin

AkalMerdeka.id – Profil Bagus Muljadi menarik perhatian karena perjalanan akademiknya melintasi sejumlah bidang ilmu sebelum menjadi dosen di University of Nottingham, Inggris. Lulusan Teknik Mesin ITB ini melanjutkan pendidikan hingga doktoral di National Taiwan University, menjalani riset pascadoktoral di Prancis dan Inggris, lalu menekuni bidang Teknik Kimia dan lingkungan.
Profil Bagus Muljadi dan Latar Belakangnya
Bagus Putra Muljadi lahir di Jakarta pada 1 Maret 1983. Ia tumbuh di Jakarta dan berasal dari keluarga dengan latar belakang sederhana, sebagai anak seorang pengusaha kecil.
Dalam perjalanan akademiknya, Bagus dikenal sebagai akademisi dan ilmuwan yang memiliki bidang keahlian lintas disiplin. Risetnya mencakup multiscale modeling, transport in porous media, rarefied gas dynamics, finite element method, serta fluid mechanics.
Ia kemudian membangun karier akademik di Inggris dan bergabung sebagai dosen di University of Nottingham sejak 2017. Posisi tersebut menjadi salah satu tahap penting dalam perjalanan Bagus setelah menempuh pendidikan dan penelitian di beberapa negara.
Pendidikan Bagus Muljadi Dimulai dari Teknik Mesin ITB
Bagus menempuh pendidikan sarjana Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia pernah menceritakan bahwa perjalanan kuliahnya tidak berlangsung mulus. Ia tidak menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan memperoleh IPK 2,7.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Bagus melanjutkan studi ke National Taiwan University (NTU), Taiwan. Di sana ia menempuh pendidikan magister dan doktoral dalam bidang mekanika terapan yang berkaitan dengan fisika.
Bagus menyelesaikan program doktoralnya pada 2012. Setelah itu, perjalanan akademiknya kembali berlanjut melalui penelitian pascadoktoral di dua negara.
Dari Matematika hingga Ilmu Bumi
Bagus menjalani post-doctoral di Institut de Mathématiques de Toulouse, Prancis, dengan fokus pada bidang matematika. Setelah itu, ia melanjutkan penelitian postdoctoral di Imperial College London, Inggris, dalam bidang ilmu bumi dan teknik perminyakan.
Lintasan tersebut membuat perjalanan keilmuan Bagus tidak bergerak dalam satu garis lurus. Ia sendiri pernah menggambarkan perjalanan akademiknya melalui urutan Teknik Mesin saat S1, Fisika pada pendidikan doktoral, karya ilmiah pascadoktoral di bidang Matematika, hingga penelitian Ilmu Bumi sebelum akhirnya menjadi dosen Teknik Kimia.
Lintasan lintas disiplin tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman yang ia bawa ketika membangun karier akademik di Inggris. Bidang risetnya kemudian mencakup persoalan yang membutuhkan pendekatan dari beberapa cabang ilmu sekaligus.
Karier Bagus Muljadi di University of Nottingham
Bagus bergabung dengan University of Nottingham sebagai dosen pada 2017. Di lingkungan akademik tersebut, ia mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan teknik kimia dan lingkungan.
Bidang risetnya antara lain mencakup rarefied quantum gas dynamics, pengembangan metode multiscale, direct pore-scale simulations, serta reactive transport modelling.
Data ResearchGate yang tercantum dalam bahan profil menyebut Bagus memiliki 25 publikasi dengan lebih dari 500 sitasi. Angka tersebut menggambarkan aktivitas publikasinya sebagai peneliti, meski jumlah publikasi dan sitasi dapat berubah seiring pembaruan basis data.
Bagus Muljadi dan Aktivitas Kolaborasi Internasional
Selain menjalankan aktivitas akademik, Bagus juga terlibat dalam kerja sama pendidikan dan riset antara Indonesia dan Inggris. Ia disebut menjadi Direktur Indonesia Doctoral Training Partnership (IDTP), sebuah kemitraan yang berkaitan dengan riset dan pertukaran pengetahuan bersama pemerintah Indonesia, perguruan tinggi, dan industri.
Bagus juga disebut berperan sebagai Koordinator UKICIS, konsorsium yang menghimpun diaspora Inggris-Indonesia dan universitas dari kedua negara untuk mendorong kolaborasi lintas disiplin.
Dalam salah satu sumber, ia juga disebut pernah menjabat sebagai Deputy Managing Director di sebuah lembaga internasional. Namun, nama lengkap lembaga tersebut tidak tercantum dalam bahan sumber yang tersedia sehingga tidak dapat dipastikan dalam profil ini.
Bagus Muljadi Aktif Membahas Sains dan Pendidikan
Aktivitas Bagus tidak hanya berlangsung di lingkungan kampus. Ia memiliki kanal YouTube bernama “Chronicles” dan akun X @bagus_muljadi yang digunakan untuk membahas berbagai topik, termasuk sains, pendidikan tinggi, dan isu diaspora.
Pada Januari 2026, Bagus diwawancarai CNA di Taipei mengenai pengaruh masa studinya di Taiwan terhadap pembentukan karakter dan kariernya. Dalam wawancara tersebut, ia juga membahas kontribusi diaspora bagi Indonesia.
Bagus kemudian menjadi pembicara dalam talkshow “Higher Education for Impact & Adaptive Graduates” di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada pada 5 Februari 2026. Pembahasan dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan tantangan perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang berdampak dan bersifat interdisipliner.
Bagus Muljadi dan Ensiklopedia Sunda
Pada 16 April 2026, Bagus berdiskusi dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam sebuah tayangan di kanal YouTube KDM. Diskusi tersebut membahas proyek Ensiklopedia Sunda yang terdiri dari tiga jilid dan mengangkat kearifan lokal Sunda dalam kerangka sains modern.
Salah satu pembahasan dalam diskusi tersebut adalah konsep “pamali” yang dikaitkan dengan metode konservasi ekosistem. Bagus juga menyampaikan pandangan mengenai hubungan antara sains dan hal-hal yang dianggap misterius dalam kehidupan manusia.
Dalam wawancara dengan CNA pada Januari 2026, Bagus juga mengatakan bahwa masa studinya di Taiwan memiliki pengaruh besar terhadap kedewasaan dan perjalanan kariernya. Ia mengaitkan pengalaman tersebut dengan sosok profesor pembimbingnya di NTU yang menanamkan pandangan bahwa kehidupan seharusnya diarahkan untuk menghasilkan karya, bukan sekadar mengejar kebahagiaan.
Perjalanan Bagus Muljadi menunjukkan lintasan akademik yang tidak linear, dari Teknik Mesin di ITB, Fisika di Taiwan, Matematika di Prancis, Ilmu Bumi di Inggris, hingga Teknik Kimia. Jalur lintas disiplin tersebut kemudian menjadi bagian dari kiprahnya sebagai akademisi dan peneliti di University of Nottingham.





