Asap Karhutla Kalimantan Tembus 3 Negara, Sekolah Terdampak

AkalMerdeka.id – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan telah mencapai Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina. Kondisi ini memicu penurunan kualitas udara, mengganggu aktivitas warga, dan membuat sejumlah sekolah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka.
Di Sarawak, Malaysia, kualitas udara dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori tidak sehat. Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak bahkan sempat menginstruksikan penghentian sementara pembelajaran tatap muka di Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, dan Betong pada 20-21 Agustus.
Gangguan terhadap sekolah menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak lagi terbatas di wilayah Indonesia. Asap yang terbawa hingga negara tetangga mulai memengaruhi aktivitas harian masyarakat, terutama anak-anak yang harus beralih dari ruang kelas ke pembelajaran jarak jauh.
Karhutla Ganggu Sekolah dan Aktivitas Warga di Malaysia
Muhammad Fazli Bendaud, warga Sarawak, mengatakan kabut asap semakin tebal dari hari ke hari. Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir, terutama karena anak-anak menjadi salah satu kelompok yang aktivitasnya terdampak langsung.
“Penduduk yang berada di Sarawak terganggu dengan asap yang semakin hari semakin menebal,” ucapnya pada Selasa (01/09).
“Kasihan kita tengok anak-anak yang sekolahnya terpaksa ditutup,” lanjutnya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan agar kejadian serupa tidak terus berulang. Keluhan itu menggambarkan bagaimana kabut asap lintas batas menjadi persoalan yang dirasakan langsung masyarakat negara tetangga.
Asap Karhutla Capai Brunei dan Filipina
Di Brunei Darussalam, pemerintah setempat melaporkan penurunan kualitas udara dan kondisi berkabut. Sejumlah warga juga mengeluhkan gangguan kesehatan ringan, seperti batuk dan iritasi mata.
Sementara itu, kabut asap dari Kalimantan dilaporkan mencapai sejumlah wilayah di Luzon, Filipina. Pemantauan Department of Environment and Natural Resources-Environmental Management Bureau (DENR-EMB) mendeteksi kabut asap di sebagian wilayah Metro Manila, Calabarzon, dan Mimaropa.
Dampaknya juga terasa di sektor pendidikan Filipina. Sejumlah sekolah negeri di Metro Manila menangguhkan kelas tatap muka pada Selasa (01/09), sedangkan sekolah swasta dan universitas diperbolehkan beralih ke pembelajaran daring.
Keputusan tersebut diambil setelah jaringan pemantauan udara di Kota Quezon mencatat kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat di berbagai distrik. Otoritas setempat kemudian menyarankan warga mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker dengan filtrasi tinggi seperti N95.
Estela Lata, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, mengatakan kedua putrinya mengikuti kelas daring setelah pembelajaran tatap muka ditangguhkan. Ia bahkan meminta anak-anaknya memakai masker di dalam rumah.
“Saya khawatir putri-putri saya akan menderita batuk dan flu akibat kabut asap, itulah sebabnya saya meminta mereka mulai memakai masker. Saya harap ini [kabut asap] akan segera berakhir,” tuturnya.
Victoria Lagao, profesor yang tinggal di Kota Malabon, Metro Manila, juga mengaku didiagnosis sinusitis sejak Sabtu (29/08). Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan kabut asap dan menyarankan para siswanya memakai masker serta menghindari bepergian jika tidak diperlukan.
Karhutla Indonesia Jadi Persoalan Lintas Batas
Meluasnya dampak karhutla terjadi ketika kebakaran di Indonesia masih berlangsung. Berdasarkan data Mapbiomas Fire yang dikoordinasikan Auriga Nusantara bersama sembilan jaringan organisasi masyarakat sipil, luas area terbakar nasional pada Januari-Juni 2026 mencapai 178.232 hektare.
Angka tersebut lebih besar dibanding catatan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang mencatat 107.465,47 hektare pada periode yang sama. Perbedaan data ini menunjukkan besarnya skala kebakaran yang menjadi perhatian publik.
Dari total area terbakar menurut Mapbiomas Fire, sekitar 40.016 hektare merupakan lahan gambut. Area gambut terbakar terbesar berada di Kalimantan dengan luas 20.414 hektare, disusul Sumatera 15.041 hektare, Papua 4.375 hektare, dan Sulawesi 186 hektare.
Besarnya area terbakar dan asap yang mencapai negara lain membuat persoalan karhutla berkembang menjadi isu regional. Malaysia dan Brunei Darussalam bahkan telah sepakat membawa persoalan polusi kabut asap lintas batas tersebut ke mekanisme ASEAN.
Kesepakatan itu dicapai dalam Konsultasi Pemimpin Tahunan Malaysia-Brunei ke-27 di Bandar Seri Begawan pada Sabtu (22/08). Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan kedua negara sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk menangani persoalan tersebut.
Pemerintah Indonesia sendiri mengakui asap karhutla telah mencapai wilayah negara tetangga. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus mengintensifkan komunikasi diplomatik melalui Kementerian Luar Negeri serta mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga membenarkan asap dari karhutla di Kalimantan telah menjangkau kawasan Manila. Ia menegaskan pemerintah akan bekerja keras agar masyarakat Indonesia maupun warga negara tetangga tidak terus dirugikan oleh karhutla.
“Kita akan berjuang sekuat tenaga ya untuk bagaimana masyarakat Indonesia bisa terbebas dari karhutla dan juga kepada masyarakat tetangga-tetangga kita,” kata Raja Juli seusai rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa (01/09).





